PERLU MENGADILI PERNYATAAN MENDIKBUD

RIhasil survei Program for International Students Assesement (PISA), terkait kondisikualitas pendidikan negara-negara di dunia pada 2015, yang disampaikan dalam pertemuan UNESCO di Paris, November 2017, menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia berada di urutan ke-72. Indonesia hanya lebih baik ketimbang Peru, Lebanon, Tunisia, dan Brasil. Sedangkan di kalangan negara ASEAN saja, Indonesia kalah jauh dari Vietnam yang nangkring di urutan ke-8.Sebelumnya, pada 2012 lalu, PISA yang berada di bawah Organization Ekonomic Cooperation and Development (OECD), mengeluarkan survei bahwa Indonesia menduduki peringkat paling bawah dari 65 negara, dalam pemetaan kemampuan matematika, membaca dan sains. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy, yang hadir langsung dalam pertemuan UNESCO itu, meragukan kebenaran hasil survei tersebut dan mempertanyakan metodologi survei yang digunakan oleh PISA. “Saya khawatir yang dijadikan sampel Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semuanya,” kata Mendikbud, sebagaimana dilaporkan oleh HarianJawa Pos, 4 Desember 2017.

Pernyataan Mendikbud tersebut, sontak menyebabkan masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), baik yang ada di perantauan maupun di daerah NTT sendiri, sangat tersinggung dan merasa terhina. Reaksi spontan dan keras muncul dari Puluhan wartawan asal NTT yang tergabung dalam Komunitas Pena NTT dan puluhan mahasiswa asal NTT yang kuliah di Bali. Mereka melakukan unjuk rasa di depan Monumen Perjuangan Bajrasandhi Renon Denpasar, Rabu (6/12/2017), dengan tuntutan meminta Mendikbud mengklarifikasi pernyataannya itu dan sekaligus meminta Bapak Presiden Jokowi memecat Mendikbud itu.

.

Egoistik dan Arogan

Respon Mendikbud atas rilis hasil survei PISA tersebut, sesungguhnya adalah gambaran nyata bahwa ia merasa sangat tersinggung dan terhina sebagai baik Mekdikbud maupun warga Indonesia. Respon ini sangat manusiawi, tapi sesungguhnya juga menggambarkan karakteristik pribadinya yang egoistis dan arogan. Karakteristik pribadi yang demikian ini, sesungguhnya juga menggambarkan kebodohan tersendiri.

Baca Juga :   ​Aliansi Pemuda Untuk Sumba: Koruptor Membunuh Bangsa

Barangkali secara akademik, Mendikbud itu, bisa digolongkan sebagai orang pintar, apalagi ia adalah seorang guru besar. Tapi secara emosional, ia terlampau kurang cerdas dan tidak arif-bijaksana. Apa salahnya, jika rilis hasil survei PISA tersebut, dimaklumi dengan lapang dada dan jiwa besar untuk dijadikan bahan refleksi dan sekaligus pemicu untuk menata kondisi mutu pendidikan di Indonesia ke depan.

Orang ego dan arogan itu, apalagi yang sedang punya posisi kedudukan publik strategis, biasanya kalap seperti preman dalam merespon dan bertindak atas sesuatu yang mengarah kepada pelemahan posisinya. Mendikbud tersebut telah melakukan peran seperti orang ego dan arogan alias preman. Tanpa hujan angin, tidak dilandasi dasar-dasar argumentasi yang substansial, ia seperti babi hutan yang berontak mempertahankan dirinya dari serangan anjing pemburu. Ia berusaha berkelit atas rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia dan menunjuk NTT sebagai biang keroknya. Jangan begitu bos Mendikbud, itu namanya gaya preman.

Pernyataan Mendikbud tersebut, adalah pukulan telak bagi seluruh pemangku kepentingan (stake holders) yang menangani urusan pendidikan di NTT, baik pemerintah, pemerintah daerah, legislatif daerah, lembaga swasta maupun masyarakat umum. Mengandaikan seluruh pemangku kepentingan di NTT tidak berbuat apa-apa atau tidur-tidur saja terkait dengan urusan pendidikan di NTT. Hanya orang yang mati rasa saja yang merasa tidak tersinggung dengan pernyataan Mendikbud tersebut.

Oleh karena itu, seharusnya publik NTT di mana pun berada perlu “mengadili” Mendikbud tersebut melalui ruang publik. Masyarakat NTT wajib meminta pertanggunggungjawaban Mendikbud tersebut dengan melakukan klarifikasi kepada publik melalui berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, atas pernyataannya itu. Apa dasar argumentasinya, sehingga ia mengeluarkan pernyataan tersebut, perlu diklarifikasinya ke ruang publik, sehingga tidak menimbulkan multitafsir oleh publik.

Jika Mendikbud tersebut mempunyai niat baik dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional, termasuk juga di NTT, maka seharusnya ia segera mengklarifikasi pernyataannya itu. Jika ia tidak mengklarifikasi pernyataannya itu, maka ia memang tidak lebih dari seorang preman. Oleh karena itu, sudah seharusnya warga NTT meminta Bapak Presiden Jokowi untuk menggelandangnya dari jabatan Mendikbud. Memangnya hanya Muhadjir Effendy saja di Indonesia ini yang bisa jadi Mendikbud.

Baca Juga :   PARPOL & MASYARAKAT AGAR TURUT MENGAMANKAN PEMILUKADA 2018

Orang NTT tidak Bodoh

Sambil menunggu klarifikasi dari Mendikbud tersebut, barangkali tidak ada salahnya untuk kita memberikan tambahan wawasan kepada Mendikbud tersebut bahwa orang NTT bukanlah orang yang bodoh dan tidak punya peran untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Artinya, tidak sedikit orang NTT yang pintar dan punya kiprah di tingkat nasional.

Di jajaran Menteri Kabinet diantaranya yaitu Drs. Frans Seda, Menteri Perkebunan  masa Orde Lama dan Menteri Keuangan masa Orde Baru, Prof. Ir. Herman Yohanes, Menteri PU masa Orde Lama, Adrianus Moy, Gubernur Bank Indonesia masa orde baru, Dr Sony Keraf, Menteri Lingkungan Hidup masa reformasi, Yakub Nuwawea, Menteri Tenaga Kerja masa reformasi, Saleh Husein, Menteri Perdagangan dan Perindustrian masa reformasi, dan Nafsiah Mboy, Menteri Kesehatan masa reformasi.

Sedangkan di dunia akademik, khususnya di Universitas besar ternama nasional yaitu Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Indonesia Jakarta, tercatat nama-nama besar orang-orang NTT. Prof. Ir.  Herman Yohanes, pernah menjadi Rektor UGM. Ia adalah ahli sains yang menemukan bom molotov, bom bensin, yang dimanfaatkan pada masa perjuangan kemerdekaan. Prof. Dr. Charles Rangga Tabu, MSc, PhD, pernah menjadi Dekan Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Prof. Dr. Stef Djawanai, pernah menjadi Dekan Fakultas Sastra UGM. Nama-nama orang NTT yang lain di UGM adalah Dr. Yeremias Keban, Dr. Hans Daeng, Dr. Kornelis LAY, Drs. Alexander Ramba Deta, MA, dan masih ada beberapa lagi.

Di UI yaitu Prof. Dr. Manasse MaloNdapatondo, MA pernah menjadi Dekan Fisip dan Prof. Dr. Keba Moto, ahli fisika dan matematika. Orang-orang NTT yang bergelar doktor di Jawa masih banyak, diantaranya yaitu Dr. Ignas Kleden, Dr. Danial Dakidae, Dr. Niko L. Kana, Dr. Mateus Mali, Dr. Beny K. Harman dan Dr. Jhon Ihalaw, pernah menjadi Rektor UKSW di Sala Tiga.

Baca Juga :   SISI POSITIF VIRUS CORONA

Disamping itu, tidak sedikit orang hebat NTT yang berkiprah di dunia sastra dan wartawan. Di dunia sastra, siapa yang tidak mengenal Umbu Wulang Landu Paranggi. Ia adalah sastrawan besar Indonesia, satu-satunya putra Indonesia dari tanah Sumba, yang bergelar Presiden Malioboro.

Dan dalam dunia militer Mayjen TNI AD, Drs. Yan Pieter Ate, M.Bus, MA  pernah menjabat Direktur Teknologi Industri Pertahanan, Ditjen Potensi Pertahanan Kemengan RI. Putra NTT jebolan Undana Kupangini adalah perwira tinggi yang memulai karirnya setelah mengikuti Wajib Militer.

 

Jangan Ego dan Arogan

Meski kita sadar bahwa orang NTT itu tidak bodoh, jangan dijadikan alasan untuk kita egois dan arogan. Supaya kita juga tidak dianggap egois dan arogan seperti preman, sebagaimana yang dilakukan oleh Mendikbud tersebut, marilah kita dengan sikap arif-bijaksana menerima dengan lapang dada dan berjiwa besar terhadap pernyataan Mendikbud tersebut.

Kita memang perlu mengadili pernyataannya dengan menagih klarifikasinya, namun sambil melakukan refleksi rasional untuk segera membenahi kualitas pendidikan kita di NTT. Siapa tahu pernyataan Mendikbud tersebut ada benarnya juga, namun salah waktu dan keliru momentum saja.

Jangan lupa juga, kita sebagai umat Kristen, yang sedang mempersiapkan diri menyambut Natal, mari kita dengan penuh kasih sayang, memaafkan kekhilafan sang Mendikbud tersebut. Mungkin ia tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya. Amin? ***.***

Oleh Octa Talu

Octav Dapa Talu
Octav Dapa Talu

Leave a Reply

Your email address will not be published.