143 TAHUN INJIL MASUK SUMBA

Suarajarmas.com – Injil masuk Pulau Sumba dimulai sejak tahun 1881, hingga saat ini sudah memasuki usianya ke-143 tahun.  Menurut sejarah,  orang Sumba telah mengenal kekristenan melalui pergaulan mereka dengan orang-orang dari Pulau Sabu. Pada tahun 1862, serombongan orang Sabu pindah ke Sumba yang kemudian tinggal di Melolo dan Kambaniru. Jadi, Injil pertama kali masuk ke Sumba melalui orang Sabu. Namun, belum ada usaha sistematis untuk memberitakan Injil kepada penduduk asli Sumba.

Pada tahun 1877, Penginjil M. Teffer yang melayani di Sabu memberi pelayanan khusus kepada jemaat di Melolo dan Kambaniru. Kemudian didatangkan dua guru jemaat asal Ambon, yaitu Guru Eduard Thenu untuk melayani di Kambaniru dan Guru David Hutuhuli untuk melayani di Melolo.

Saat itu Pulau Sumba dan pulau lain dikuasai oleh Residen Timor yang bernama Isaac Esser. Dialah yang kemudian memberi saran kepada NGZV (Nederlandse Gereformeerde Zendingsvereniging) untuk mengutus penginjil ke Sumba. Sehingga pada tahun 1881,  NGZV mengutus J.J van Alphen ke Sumba.

Tahun 1886 NGZV menyerahkan pekerjaan pekabaran Injil kepada ZCGK (Zending Christelijk Gereformeerde Kerk) karena kesulitan biaya. Tahun 1889 seluruh pulau Sumba menjadi wilayah penginjilan ZCGK. Lembaga ZCGK mengutus Willem Pos untuk mengabarkan Injil ke Sumba. Pada tahun 1892 ZCGK mengutus lagi Cornelis de Bruijn ke Sumba. Bruijn dan Pos tinggal di Melolo. Tahun 1893 van Alphen meninggalkan Sumba dan melayani di Ambon.

Sejak tahun 1881-1903 para Zending belum mampu beradaptasi dengan orang Sumba. Pada tahun 1904, ZGKN yang kembali mengambil alih penginjilan, mengutus Douwe Klaas Wielenga. Ia sudah dibekali dengan bahasa daerah Sumba, budaya dan ilmu perawatan. Berbagai hal dipikirkan oleh para Zending untuk menyusun strategi penginjilan kepada orang Sumba.

Baca Juga :   Tersangka Kasus Weekuri Dikirim ke Kupang

Salah satu strategi penginjilan adalah dengan membuka balai-balai pengobatan. Banyak poliklinik dibuka bahkan rumah sakit besar. Pada tanggal 12 November 1912 Rumah Sakit Kristen Lindimara didirikan di Payeti. Jalur kesehatan kemudian ditempuh sebagai media penginjilan. Pada tanggal 25 Oktober 1925 diresmikan sebuah rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Kristen Lendemoripa di Waikabubak.

Pada tanggal 01 januari 1950 berdirilah YUMERKRIS (Yayasan untuk menyelenggarakan Rumah Sakit-Rumah Sakit di Sumba). Cara lain yang dipandang dapat merebut hati orang Sumba adalah dengan jalur Pendidikan hingga pada tanggal 1 Maret 1951 diresmikan Yayasan Persekolahan (kini pendidikan) Masehi di Sumba (YAPMAS).

Diusianya yang ke 143 ini Sinode GKS secara serentak merayakan di 4 kabupaten Pulau Sumba dengan menggelar karnaval rohani. Kabupaten Sumba Tengah menggelar karnaval rohani pada 31 Mei 2024, sedangkan 3 kabupaten lainnya yaitu Sumba Timur, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya (SBD) secara serentak menggelar karnaval pada Senin 3 Juni 2024.

Ketua panitia penyelenggara karnaval rohani kabupaten SBD, Pdt. Arianto Bili, S.Th.,  yang ditemui media ini di sela-sela kegiatan karnaval di stadion Galatama Tambolaka SBD mengatakan perayaan 143 tahun Injil masuk ke pulau Sumba, dimaksudkan untuk menjaga keberlanjutan dan penghargaan terhadap sejarah kehadiran Injil yang membentuk identitas dan nilai-nilai masyarakat Sumba. Kedua, merayakan sebagai bagian dari warisan sejarah yang kaya, memperkuat ikatan budaya dan agama dalam persekutuan Gereja Kristen Sumba.

Ketua Panitia HUT ke-143 Injil Masuk Sumba Kabupaten SBD, Pdt. Arianto Bili, S.Th., (tengah) diapit oleh Bupati SBD dr. Kornelius Kodi Mete (kiri) dan Wakil Bupati SBD, Marthen Christian Taka, S.IP.

“Dan yang ketiga, sebagai penghormatan terhadap jasa misionaris Belanda dan para martir yang berkorban demi menyebarkan ajaran Injil, menciptakan kesadaran atas perjuangan mereka dalam membangun iman di tengah masyarakat Sumba tempo dulu” ungkapnya.

Baca Juga :   RAYAKAN HARI JADI KE-7, PINTU AIR WEETEBULA SIAP PERTAHANKAN GELAR

Pdt. Arianto Bili menjelaskan, merayakan 143 tahun Injil masuk ke pulau Sumba bagi generasi warga gereja Kristen memiliki nilai penting sebagai penguatan iman dan identitas Kristiani. Ini juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan sejarah kekristenan di Sumba kepada generasi muda, agar mereka memahami perjuangan dan nilai-nilai yang membentuk iman mereka saat ini.

“Selain itu, merayakan peristiwa ini dapat memotivasi generasi warga GKS untuk mengambil peran aktif dalam membangun dan memperkukuh komunitas iman mereka, serta menjaga warisan nilai moral dan spiritual yang diterima dari para pendahulu. Dengan dan melalui berbagai kegiatan ini seluruh warga GKS merasakan, memahami dan merasa terlibat  dalam keseluruhan spirit perayaan ini” tutur Pendeta Jemaat Kererobo ini.

Perayaan HUT ke-143 Injil  masuk Sumba .sebagai momentum menyatakan syukur kepada Tuhan Yesus yang telah mengutus  para hambaNya dari Belanda mewartakan  injil di pulau Sumba. Selain itu perayaan ini merupakan  momen agar semua warga GKS  secara khusus para generasi muda dapat mengingat sejarah masuknya injil dan menjadi  generasi  penerus yang terus menyalakan api injil di Pulau Sumba.

“Karnaval  sebagai bentuk penghargaan terhadap para Martir   yang telah  mewartakan Injil di pulau sumba” ujar Pdt Arianto menjelaskan.

Dirinya juga menghimbau dan mengharapakan agar Warga GKS senantiasa hidup bernilai dan dan berdampak dalam peran dan tanggung jawab sebagai bentuk menyampaikan kabar baik kepeda semua ciptaan.

“GKS telah menorehkan banyak karya dan telah banyak berkontribusi terkait pelayanan kemanusiaan di pulau Sumba ini. Oleh karena itu GKS  berkomitmen  untuk terus melakukan pelyanan secara holistik pada semua aras pelyanan seperti yang dilakukan selama ini. Terus bergerak di bidang pendidikan, kesehatan dan bidang pengembangan  lainnya. GKS terus berkomitmen untuk membebaskan generasi dari kemisk’an  dalam nama Tuhan Yesus” pungkasnya. *** (Octa/002-24).-