Pengendalian Hama Belalang di Sumba Mau tidak Mau harus Kimiawi

BELALANG kumbara atau kembara dengan nama ilmiah Locusta migratoria adalah hama penting pada sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman pangan dan hortikultura. Bila terjadi eksplosi (ledakan) perkembangbiakan dan populasinya yang besar, seperti yang terjadi di Sumba Timur sekarang ini, maka belalang kumbara menjadi hama perusak yang sangat ganas dan tercepat pada tanaman pangan, seperti padi dan jagung. Hama belalang juga menyukai tumbuhan-tumbuhan jenis tebu, bambu, glagah dan alang-alang.

Eksplosi serangan hama belalang kumbara di Indonesia sudah terjadi sejak 1877 di Halmahera. Di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tercatat bahwa eksplosi belalang yang sama terjadi pertama kalinya di Pulau Sumba sejak 1973 sampai dengan 1975. Pada masa itu, juga muncul hama belalang yang sama di Pulau Timor dan Flores. Sedangkan eksplosi hama belalang yang sama di Sumba terjadi lagi pada 1999 sampai 2002 dan 2016. Jadi eksplosi serangan hama belalang kumbara yang terjadi di Sumba Timur sekarang ini adalah yang keempat kalinya.

Sering terjadinya eksplosi belalang di Sumba, memunculnya aneka seloroh. Misalnya, Sumba dianggap sahabat dan rumah belalang. Anggapan ini tidak terlalu keliru juga karena dilihat dari sisi iklim di Sumba yang kering atau musim kemaraunya lebih panjang daripada musim penghujan dan juga padang rumput sabananya yang luas, memang habitat yang sesuai untuk belalang berkembang. Seloroh yang lain adalah bala dari Tuhan dan para leluhur. Mungkin saja seloroh ini ada benarnya juga, walaupun sulit untuk mempertanggungjawabkannya.

Penyebab Eksplosi Belalang

Secara teoritis, eksplosi hama belalang kumbara pada suatu daerah dapat terjadi disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama adalah masalah lingkungan hidup, khususnya ekosistem yang tidak normal lagi atau rusak. Dan kedua, migrasi belalang kumbara dari wilayah pulau tetangga atau negara lain, yang tidak sempat terpantau. Disamping itu, bisa juga disebabkan oleh adanya kejahatan biologi atau pembuangan sampah hama belalang di wilayah Sumba dari wilayah lain.

Dalam peristiwa eksplosi belalang kembara di Sumba, menurut pengamatan penulis sendiri, disebabkan oleh masalah lingkungan hidup. Bisa dikatakan juga sebagai “bala masalah lingkungan hidup”. Perlu diketahui bahwa belalang jenis kumbara  ini tidak datang dari mana-mana, senyatanya memang ada saja di Pulau Sumba. Besar kecilnya populasi sangat ditentukan oleh faktor keadaan alam dan lingkungan hidup.

Kita tahu bersama bahwa ekosistem lingkungan hidup alam Sumba sudah lama mengalami masalah. Burung-burung endemik sumba seperti Julang Sumba, kaka tua, dan burung dara (rawa) sudah sangat langka dan bahkan hampir punah. Demikian juga burung-burung lainnya yang menjadi predator belalang seperti gagak, perkutut, kutilang, dan nuri, juga populasinya tinggal sedikit. Artinya, sering terjadinya eksplosi hama belalang di Sumba disebabkan oleh masalah ekosistem yang tidak normal lagi.

Baca Juga :   MEMAKNAI HUT KE-75 RI DENGAN MENGINGAT DAN MENCINTAI SEJARAH

Permasalahan tersebut sudah berlangsung sejak masa penjajahan. Ketika itu bangsa portugis, inggris dan belanda berlomba-lomba datang ke Sumba untuk membeli dan bahkan mengambil paksa hasil hutan Sumba berupa kayu cendana, kayu gaharu dan kayu kuning. Pada saat itulah perusakan dan perambahan hutan diawali oleh bangsa-bangsa penjajah dan tentu dibantu oleh orang-orang Sumba sendiri. Sehingga populasi ketiga jenis kayu tersebut kini sudah hampir punah.

Perilaku tersebut diteruskan oleh generasi orang Sumba berikutnya sampai sekarang ini. Pembabatan / pembakaran hutan, perambahan / pencurian kayu dan rotan di hutan, dan perdagangan burung-burung endemik yang dilindungi, selalu saja terjadi. Demikian juga pemburuan burung-burung dengan senjata angin untuk sekadar makanan kesenangan masih terus berlangsung. Kebiasaan membakar  padang untuk kepentingan penggembalaan ternak dan membuka kebun/ladang, juga hampir tidak pernah berhenti.

Imbas dari perilaku tersebut, menyebabkan makin memburuknya permasalahan lingkungan hidup dan kondisi ekosistemnya. Langkanya burung-burung yang menjadi predator belalang sehingga menyebabkan eksplosi serangan hama belalang seperti yang sedang terjadi di Sumba Timur sekarang ini, tidak lain merupakan konsekuensi logis dari buruknya kondisi ekosistem lingkungan hidup di Sumba.

Dampak Kerugian Sangat Besar

Dampak dari peristiwa eksplosi serangan hama belalang kumbara selama ini, terutama pada 1973 – 1975 dan1999 – 2002, menimbulkan bencana bagi masyarakat Sumba yaitu menderita kelaparan dan rawan gizi  akibat krisis / rawan bahan makanan pokok. Karena tanaman pangan mereka yaitu padi dan jagung gagal berproduksi (gagal tanam dan gagal panen) oleh serangan hama belalang.

Bencana kelaparan yang paling “memilukan” adalah yang terjadi pada 1973-1975. Masyarakat Sumba waktu itu sangat sulit memperoleh bahan makanan. Umbi-umbian di hutan pun seperi Uwi (gadung) dan Laghuta (jenis gembili) sudah habis diburu oleh masyarakat. Beruntung waktu itu ada bantuan Bulgur dari Jerman yang dapat menolong untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan bagi masyarakat. Bulgur ini, di kemudian hari baru diketahui bahwa merupakan bahan makanan ternak di Jerman.

Baca Juga :   ​Kepala Dinas Sosial Kab. Sumba Timur tekankan sifat Brutal Pemuda agar Dibuang

Bencana ikutan yang terjadi dalam masyarakat sebagai akibat kelaparan pada waktu itu, adalah merajalelanya pencurian dan perampokan ternak. Dalam beberapa kasus, pencurian dan perampokan ternak tersebut disertai dengan kekerasan dan menimbulkan korban jiwa.

Pengendalian Kuratif dan Preventif

Belajar dari realitas empirik di atas, maka eksplosi hama belalang kumbara yang terjadi di Sumba Timur sekarang ini harus dikendalikan secara cepat, supaya dapat menghindari dampak resiko kerugian yang besar terhadap tanaman pangan masyarakat di Sumba Timur sendiri. Di samping itu,  juga supaya penyebarannya tidak makin meluas  ke tiga kabupaten lainnya di daratan Sumba dan tidak sempat bermigrasi ke wilayah pulau tetangga baik dalam Provinsi NTT maupun NTB.

Pengendalian, adalah suatu kata dan sekaligus terminologi dalam dunia pertanian, yang ramah lingkungan. Hama adalah bagian dari makhluk hidup dan mempunyai pengaruh dalam keberlangsungan ekosistem. Karena itu hama tidak boleh dibasmi sampai tuntas, tapi ditekan perkembangbiakan dan populasinya sekecil mungkin supaya tidak eksplosif dan menjadi hama bagi tanaman pertanian.

Dalam kasus di Sumba Timur, berdasarkan pengalaman penulis pada 1999 – 2002 ketika bertugas di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumba Barat, pengendalian yang dapat dilakukan adalah pendekatan kuratif dan preventif.

Pendekatan kuratif meliputi empat metode, yaitu kultur teknis, mekanis, kimiawi, dan biologis. Metode kultur teknis, yaitu mengatur pola tanam. Menanam tanaman  yang tidak disukai oleh belalang seperti kacang tanah dan ubi kayu. Juga melakukan pengolahan tanah tempat belalang bertelur, kemudian telur yang terlihat dimusnahkan. Metode ini bersifat antisipatif dan dilaksanakan pada saat musim tanam.

Metode mekanis / fisik yaitu pemusnahan belalang dengan cara penangkapan langsung oleh masyarakat di lapangan dengan menggunakan kayu, ranting, sapu  dan jaring. Metode ini memang efektif  dan ramah lingkungan namun kurang efesien karena membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat dan memakan waktu yang lama.

Metode kimiawi yaitu pemusnahan belalang dengan penyemprotan obat-obatan kimiawi atau insektisida. Metode ini memang dianggap tidak ramah lingkungan namun sangat efektif dan efisien dalam membunuh hama belalang secara cepat.

Dan metode biologis adalah pemusnahan belalang dengan menggunakan pestisida alami atau hayati seperti cairan dari ekstrak cendawan dan tuba. Metode ini memang ramah lingkungan dan cukup efektif namun kurang/tidak efisien karena membutuhkan keahlian khusus dan bahan dasar dalam jumlah yang memadai dan memakan waktu cukup lama.

Baca Juga :   ​Pendidikan di Sumba Timur Ada di peringkat ke-5 di NTT

Keempat metode pendekatan kuratif tersebut dapat dilaksanakan secara bersamaan, namun penulis menyarankan supaya mau atau tidak mau harus menerapkan metode secara kimiawi. Anggapan bahwa metode kimiawi tidak ramah lingkungan sesungguhnya tidak seluruhnya benar. Karena sekarang ini sudah tersedia insektida yang ramah lingkungan seperti confidor, fokker, baycarb dan mypcin yang sangat efektif untuk membunuh belalang. Dalam dosis rendahpun insektisida tersebut tetap efektif.

Metode kimiawi ini pun tidak serta merta berhasil jika hanya mengandalkan kekuatan pemerintah saja, melalui instansi Dinas Pertanian dan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian yang jumlah personilnya sangat terbatas. Oleh karena itu harus dilaksanakan secara terpadu dan lintas sektor. Pemerintah, TNI, Polri, LSM, Ormas-ormas, para pengusaha dan masyarakat harus bersatu padu membentuk tim brigade dan posko-posko pengendalian.

Pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarana pengendalian hama belalang yang dibutuhkan secara memadai, seperti alat semprot (hand Sprayer dan mist blower), obat-obatan, air dan pengangkutannya . TNI, Polri, LSM, Ormas-ormas, dan para pengusaha, harus proaktif membantu pemerintah dalam menggerakkan masyarakat.

Mengingat wilayah Sumba Timur sangat luas dengan topografi perbukitan yang sulit dijangkau, maka masyarakat bersama kelompok tani harus proaktif membantu para penyuluh pertanian untuk memantau pergerakan belalang. Pemantauan ini sangat diperlukan untuk memastikan tempat belalang bermalam. Sebab di tempat itulah belalang menyimpan telurnya dan sekitar dua minggu kemudian akan muncul  belalang kecil dalam kelompok yang kecil juga. Saat seperti itulah yang paling efektif bagi tim brigade untuk melakukan penyerbuan dan penyemprotan. Disinilah belalang dapat dimusnahkan secara cepat dan efisien dari sisi tenaga, air dan obat-obatan. Juga dampaknya terhadap pencemaran lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin.

Disamping itu, pendekatan preventif juga harus terus dilakukan. Supaya dapat memulihkan kembali keadaan ekosistem secara bertahap. Disinilah diperlukan tekad bersama dari seluruh elemen yang ada di Sumba, untuk menjaga, melindungi, merawat termasuk melakukan penghijauan dan melestarikan kawasan hutan yang ada.

Dan yang tidak kalah pentingnya, harus melakukan tindakan tegas kepada siapapun yang melakukan pembabatan hutan, pencurian kayu dan hasil hutan lainnya, serta pembakaran hutan dan padang. Para pemburu burung, juga harus dihentikan. Inilah tindakan preventif nyata yang harus dilakukan mulai dari saat ini. ***  

Roofinus D. Kaleka
Roofinus D. Kaleka. Penulis adalah ASN di Sumba Barat Daya

Leave a Reply

Your email address will not be published.