PENDIDIKAN: JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN

Dalam pidato peringatan Hardiknas 2021, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekonologi  (Mendikbudristek) Nadiem Makariem mengajak masyarakat Indonesia untuk mengingat kembali pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara mengenai hakikat pendidikan. Salah satu tujuan pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah bahwa pendidikan haruslah membawa  orang menuju lahirnya kebahagiaan batin. Pertanyaan yang mungkin segera muncul dalam pikiran kita adalah bagaimana hubungan antara pendidikan dan kebahagiaan? Bagaimana kebahagiaan dapat diperoleh dari pendidikan? Gagasan pendidikan (dalam pengertian luas) yang membahagiakan  telah lama direnungkan oleh para filsuf Yunani, antara lain Aristoteles (384-322 SM). Aristoteles memang tidak secara langsung menyebut pendidikan sebagai jalan menuju kebahagiaan. Namun, apa yang menjadi cita-cita Aristoteles serta seluruh etika Yunani dan etika Abad Pertengahan Eropa adalah memberi petunjuk jalan menuju hidup yang bahagia. Etika Aristoteles juga disebut eudemonisme karena nilai tertinggi adalah kebahagiaan. Cita-citanya adalah “hidup yang baik” (euzen). Prinsip dasar etika Aristoteles adalah bahwa kita  hendaknya hidup dan bertindak sedemikian rupa sehingga kita mencapai hidup yang baik, artinya hidup bermakna, bermutu, positif, berhasil dan hidup yang memuaskan. Hidup kita berhasil apabila kita mencapai tujuan terakhir yang kita cari melalui segala usaha kita, yaitu kebahagiaan (eudaimonia).

Pertanyaannya, dengan hidup macam apa kita menjadi bahagia? Ada banyak  pendapat tentang apa yang membuat manusia bahagia. Penelitian filosofis Aristoteles mulai dengan pertanyaan: Cara hidup mana yang  membuat kita bahagia? Salah satu pandangan yang cukup sering ditemukan-meski jarang di antara para filsuf-adalah menyamakan hidup yang baik dengan kekayaan. Orang mau menumpuk kekayaan sebanyak mungkin karena kekayaan dianggap menjamin kebahagiaan. Pandangan ini dapat disebut sebagai pandangan pragmatis. Aristoteles menolak pandangan ini dengan gampang. Jelaslah bahwa kekayaan bukan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan semata-mata sebuah sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih jauh. Pengalaman membuktikan dengan mudah bahwa kekayaan tidak menjamin kebahagiaan (Suseno, 1997).

P. Silvester Nusa, CSsR., M.A.

Suatu anggapan lain tentang hal yang paling membahagiakan, yang populer di antara kaum bangsawan adalah kalau kita dihormati orang. Namun, apakah tepat kalau keadaan terhormat itu dianggap sebagai nilai tertinggi? Aristoteles bertanya: Mengapa orang sampai dihormati? Tentu saja karena ia seorang manusia yang pantas dihormati, seorang manusia utama. Ia dihormati karena karena ia memiliki keutamaan. Keutamaan adalah disposisi (kecenderungan) watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku lebih baik secara moral. Oleh karena itu, hormat sendiri bukan tujuan terakhir melainkan keutamaanlah yang menjadi alasan mengapa manusia dihormati. Kesalahan pandangan pragmatis maupun anggapan bahwa nilai paling luhur bagi manusia terletak dalam kehormatan adalah bahwa dua hal itu tidak berdasar dalam dirinya sendiri. Kekayaan paling-paling merupakan sarana untuk sesuatu yang lebih jauh. Kehormatan hanya mengikuti kualitas orang terhormat yang mendahuluinya. Dengan demikian, kita mengetahui lebih jelas apa yang kita cari, yaitu sebuah bentuk hidup yang  membawa nilainya dalam dirinya sendiri (Suseno, 1997).

Menurut Aristoteles, ada tiga pola hidup yang memuat kepuasan dalam dirinya sendiri, yaitu hidup yang mencari nikmat, hidup “praktis” atau politis, dan hidup sebagai seorang filsuf, hidup kontemplatif. Pertama, hidup yang mencari nikmat. Bagi Aristoteles, perasaan nikmat tidak khas manusiawi. Orang yang hanya mencari nikmat sama derajatnya dengan binatang. Aristoteles tidak menolak perasaan nikmat, seakan-akan nikmat itu sesuatu yang buruk. Nikmat itu baik asal saja tidak menjadi tujuan. Dengan hanya mengejar nikmat-kendati nikmat rohani sekalipun-kita tidak akan mencapai kebahagiaan. Jadi, hidup mencari nikmat tidak mungkin menghasilkan kebahagiaan karena nikmat bukan kenyataan tersendiri, melainkan selalu menyertai suatu tindakan. Kebahagiaan mesti tercapai melalui tindakan. Nilai tertinggi bagi manusia mesti terletak dalam suatu tindakan yang  merealisasikan kemampuan atau potensi khas manusia. Dalam bahasa sekarang,  manusia mencapai kebahagiaan dengan mengembangkan diri, dalam  perealisasian  kekuatan-kekuatan hakikinya. Manusia menjadi bahagia  bukan dengan secara pasif menikmati sesuatu; bukan asal semua hal yang barangkali diinginkan tersedia, melainkan dalam bertindak. Hanya lewat perbuatan manusia menyatakan diri, menjadikan diri real. Suatu hidup yang bermutu tidak tercapai melalui nikmat pasif, melainkan melalui hidup yang aktif. Manusia bahagia dalam merealisasikan atau mengembangkan diri.

Baca Juga :   Mari Kita Bangun “Tujuh Jembatan Emas”

Kedua, “hidup praktis” atau politis. Praxis merupakan wilayah etis yang sebenarnya. Praxis tidak sama dengan kata modern “praktek” (practice). Praxis juga tidak sama dengan “kesibukan praktis” yang membutuhkan keterampilan, dengan sikap “cekatan”, dengan segala macam kegiatan. Praxis adalah tindakan yang bernilai pada dirinya sendiri, bukan  sebagai sarana untuk mencapai apa yang diharapkan. Aristoteles membandingkan praxis dengan orang yang main seruling. Orang main seruling karena ia senang main seruling, bukan karena ia mau mencapai sesuatu di luar permainan itu. Jadi, praxis adalah tindakan yang membawa nilainya pada dirinya sendiri. Praxis yang terpenting adalah partisipasi dalam kehidupan bersama sebagai komunitas. Dalam praxis, manusia merealisasikan diri sebagai makhluk sosial. Yang membahagiakan manusia adalah komunikasi aktif atau pergaulan dengan sesama manusia melalui struktur-struktur kesosialan yang khas bagi manusia. Manusia adalah manusia sepenuhnya apabila ia mengembangkan diri dalam kehidupan berkeluarga,  dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya, dan berpartisipasi aktif dalam urusan bersama komunitas atau negara (polis). Menurut Aristoteles, tujuan setiap orang dan seluruh komunitas itu sama, yaitu kebahagiaan (eudaimonia).

Ketiga, hidup sebagai seorang filsuf, hidup kontemplatif. Kebahagiaan mesti tercapai melalui tindakan atau kegiatan yang khas manusiawi. Kegiatan yang khas manusiawi adalah kegiatan yang melibatkan bagian jiwa yang berakal budi. Kegiatan itu terlaksana dalam dua pola kehidupan, yaitu dalam kehidupan politis (praxis) dan dalam kontemplasi filosofis  (theoria).  Praxis merupakan kehidupan etis yang terwujud melalui partisipasi dalam kehidupan masyarakat, merealisasikan semua bagian jiwa manusia, termasuk yang rohani. Adapun theoria mengangkat jiwa manusia kepada hal-hal ilahi; ia adalah murni kegiatan akal budi.  Kata Yunani theoria jangan dipahami seperti kata modern “teori”, sebagai pemikiran rasional terhadap salah satu masalah. Theoria bukan pemikiran, melainkan perenungan. Theoria berarti bahwa jiwa memandang realitas-realitas rohani. Karena itu, kata theoria dapat diterjemahkan dengan “renungan”, dalam arti memandang sesuatu dalam-dalam, dengan mata jiwa. Renungan itu merupakan kegiatan manusia yang paling luhur karena merealisasikan bagian jiwa manusia yang paling luhur, bahkan yang ilahi, logos atau roh. Dalam renungan, roh digiatkan. Objek renungan adalah realitas yang tidak berubah, yang abadi, yang ilahi. Renungan adalah kegiatan sang filsuf, orang yang “mencintai kebijaksanaan” (philo-sophia). Tidak ada yang lebih luhur daripada philosophia atau renungan itu. Oleh karena itu, yang paling membahagiakan manusia adalah filsafat atau perenungan hal-hal yang abadi dan ilahi. Namun, Aristoteles juga menegaskan bahwa manusia itu “makhluk campur”, bukan makhluk rohani murni. Manusia tidak dapat terus-menerus ber-theoria. Theoria merupakan kegiatan hanya bagi sedikit orang saja dan untuk waktu-waktu terbatas. Bidang perealisasian diri manusia yang sebenarnya adalah polis, negara kota, dan kegiatannya adalah praxis (Suseno, 1997).

Baca Juga :   TENTANG AIR

Usaha dan proses mengembangkan diri atau potensi khas manusia; berpartisipasi dalam kehidupan komunitas sebagai makhluk sosial; dan merealisasikan bagian jiwa manusia yang paling luhur dan ilahi terjadi melalui proses pendidikan, baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.  Pendidikan yang berorientasi pada tiga pola hidup yang bernilai dalam dirinya sendiri akan melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki keutamaan: keutamaan intelektual, keutamaan moral dan keutamaan teologis. Keutamaan yang dihayati membuat seseorang menjadi manusia yang baik, artinya hidupnya bermakna, bermutu, positif dan memuaskan. Keutamaan-keutamaan itu diperoleh melalui jalan membiasakan diri dan  merupakan hasil latihan. Latihan yang dimaksudkan adalah selalu melakukan  hal baik. Keutamaan ini  tidak dimiliki manusia sejak lahir. Keutamaan terbentuk  selama proses pembiasaan dan latihan yang cukup panjang. Sebaliknya, pendidikan yang disengaja atau tidak disengaja berorientasi pada kenikmatan semata, kekayaan dan kehormatan tidak akan membawa kita menuju lahirnya kebahagiaan batin.  Ketika proses pendidikan memampukan kita  untuk  mengembangkan potensi diri kita, memampukan kita untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan memampukan untuk merealisasikan bagian jiwa kita yang paling luhur (roh), pola pendidikan yang demikian sesungguhnya telah mengantar kita mencapai hidup yang baik. Hidup yang baik inilah yang diidealkan oleh Aristoteles untuk mencapai kebahagiaan dan sekaligus merupakan tujuan pendidikan kita  sebagaimana yang dicita-citakan Ki Hadjar Dewantara, yakni  membawa  orang (kita)  menuju lahirnya kebahagiaan batin. *** P. Silvester Nusa, CSsR, M.A. (Alumnus Program Pascasarjana Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Dosen STKIP Weetebula).-

Paling Dicari:

error: Content is protected !!
https://febm.umrah.ac.id/unik-kegiatan-mahasiswa-ukm/ https://siladikti.kopertis7.go.id/ https://cvpulsa.id/tutorial https://brida.sultengprov.go.id/ https://ppid.umrah.ac.id/ slot gacor