(Jalan Menuju Keindahan Belajar)
Salah satu kecemasan dalam dunia pendidikan di era pandemi Covid-19 ini adalah bagaimana pelajar (siswa dan mahasiswa) tetap dapat belajar dan memperoleh pengetahuan. Sistem pembelajaran yang dikembangkan dan digunakan saat ini adalah sistem pembelajaran jarak jauh (online). Sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan di sekolah atau perguruan tinggi menjadi satu-satunya pilihan yang harus dilakukan di era pandemi Covid-19 ini. Namun, sistem ini ternyata tidak dapat diikuti oleh semua siswa dan mahasiswa karena berbagai kendala yang dihadapi oleh orangtua dan siswa atau mahasiswa.

Kemajuan teknologi dan informasi (TI), sebagaimana terwujud dalam berbagai aplikasi pembelajaran jarak jauh (online), tidak hanya bermanfaat bagi proses pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 ini, melainkan mengubah paradigma mengajar dan belajar. Paradigma mengajar bukan lagi menyampaikan materi pelajaran, melainkan mengajar adalah menata lingkungan supaya siswa melakukan atau beraktivitas, mencari, dan menemukan sendiri materi pelajaran. Demikian pula, belajar bukan sekadar mendengar dan mencatat, tetapi belajar bagaimana berpikir (learning how to think) dan belajar bagaimana berbuat (learning how to do).
Perubahan paradigma mengajar dan belajar yang saat ini terjadi, bukan sekedar akibat dari pandemi Covid-19 atau kemajuan teknologi dan informasi, melainkan telah lama muncul dalam sejarah pemikiran filosofis, terutama pemikiran filosofis progresivisme. Progresivisme merupakan suatu gerakan yang didirikan pada tahun 1918, jauh sebelum kemajuan teknologi dan informasi seperti sekarang ini. Aliran pendidikan progresivisme dipengaruhi oleh pemikiran para filsuf aliran progresivisme, antara lain William James (1842-1910), seorang psikolog dan filsuf Amerika yang ajarannya sangat berpengaruh di berbagai negara Eropa dan Amerika serta John Dewey (1859-1952), seorang profesor di Universitas Chicago dan Columbia (Pohan, 2019). Kurikulum progresivisme berfokus pada kegiatan dan kesempatan belajar kepada siswa untuk memperoleh pengalaman serta lebih mengutamakan proses daripada produk dan menjadikan mata pelajaran sebagai alat daripada target kurikulum. Siswa diberdayakan sebagai subyek pendidikan bagi dirinya, bukan sebagai obyek pengajaran dari gurunya. Pembelajaran tidak lagi berfokus pada materi, melainkan lebih menekankan dan mengutamakan metode yang bertujuan untuk memberikan kemampuan individu berinteraksi dengan lingkungan yang fleksibel (Pohan, 2019).
Pandangan aliran pendidikan progresivisme membantu kita untuk memahami bahwa salah satu “modal” yang harus diwariskan kepada para pelajar agar mereka senang belajar dan sukses belajar di tengah pandemi Covid-19 ini adalah cara atau metode belajar. Belajar adalah suatu seni. Sukses belajar tidak tergantung dari kepandaian dan ketekunan saja. Sukses belajar tergantung juga dari cara belajar yang efektif. Ada siswa yang lebih mudah belajar pada waktu-waktu tertentu, artinya hasil yang diperoleh lebih besar dan mengerjakannya lebih gampang (Heuken, 2002). Materi pelajaran yang mengalir deras melalui berbagai aplikasi pembelajaran akan kurang berdampak dan bermanfaat apabila pelajar tidak mengetahui cara belajar dan tidak memiliki keterampilan belajar.
Pelajar yang mau berhasil memerlukan cara atau metode belajar tertentu, seperti membuat catatan, membaca kembali (repetisi), membuat rencana dan pembagian waktu (jadwal), teknik mengendalikan perhatian (konsentrasi), teknik mengingat, teknik membaca, berpikir tajam dan sebagainya. Semua ini harus dipelajari dan disempurnakan dengan latihan, supaya akhirnya tercapai suatu kepandaian dalam cara belajar. Tetapi sayang, pelajar dan mahasiswa jarang diberi bimbingan sistematis dalam hal cara belajar. Mereka terpaksa maju dengan mencoba-coba sendiri dan tidak jarang salah langkah, lalu berakhir dengan kegagalan.Kegiatan belajar akhirnya tidak lagi dialami sebagai sebuah keindahan, melainkan dirasakan sebagai sebuah beban. Siswa atau mahasiswa yang pandai sekalipun jarang yang cukup mengetahui cara-cara belajar yang efektif bagi mereka. Kebanyakan siswa dan mahasiswa tidak pernah memperbaiki cara belajar mereka secara berarti, entah karena mereka tidak pernah manyadari bahwa itu mungkin, atau mereka tidak peduli. Tanpa bantuan orang lain seperti guru, dosen atau tutor, pelajar yang paling berbakat sekalipun jarang dapat menemukan cara belajar yang paling tepat baginya. Dalam kenyataannya, tidak ada orang yang mengatakan dengan pasti cara mana yang paling baik bagi seorang pelajar untuk mata pelajaran atau mata kuliah tertentu. Namun, apabila pelajar tahu cara-cara belajar yang efektif menurut hasil riset, pelajar akan menentukan sendiri cara belajar yang kiranya akan paling berhasil (Heuken, 2002).
Persoalan pendidikan kita sekarang ini, secara khusus yang berkaitan dengan pembelajaran, pertama-tama bukan terletak pada materi belajar, tetapi cara atau metode belajar. Pelajar jaman sekarang tidak berkekurangan materi pelajaran atau materi perkuliahan. Materi pelajaran atau materi perkuliahan berkelimpahan di google. Dalam sebuah video, seorang siswa SMA mengatakan bahwa google lebih pintar daripada guru. Guru dan dosen mungkin hanya mengusai satu bidang ilmu tertentu, tetapi google “menguasai” hampir semua bidang ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan. Rendahnya mutu pendidikan yang dikeluhkan hingga saat ini, pertama-tama bukan karena kekurangan materi belajar, melainkan karena sebagian besar pelajar tidak memiliki keterampilan belajar. Sebagian besar pelajar tidak tahu bagaimana memulai untuk berkonsentrasi, menyerap, memproses, dan menampung informasi yang baru dan sulit. Ibaratnya, nelayan yang menangkap ikan di lautan yang kaya akan berbagai jenis ikan. Perbedaan jenis dan jumlah ikan yang ditangkap, tentu bukan karena kekurangan ikan, melainkan karena perbedaan strategi dan peralatan untuk menangkap ikan. Nelayan yang tahu strategi menangkap ikan, memiliki alat tangkap yang canggih dan fasilitas lain yang memungkinkannya menjelajah wilayah laut yang lebih dalam dan jauh pasti akan memperoleh ikan lebih banyak dan bervariasi jenisnya dibandingkan nelayan yang hanya buang pukat di area pinggiran laut atau nelayan yang hanya menggunakan alat pancing tradisional. Demikian pula, pelajar yang memiliki cara belajar yang efektif dan memiliki perlengkapan belajar yang memadai akan mampu “menangkap” ilmu pengetahuan lebih banyak dan bervariasi.
Pandemi Covid-19 telah memaksa dunia pendidikan untuk menemukan berbagai cara kreatif dan inovatif yang memungkinkan proses pembelajaran atau transfer pengetahuan terlaksana secara optimal melalui penggunaan teknologi bidang komunikasi dan informasi. Model pembelajaran dirancang sedemikian rupa supaya pelajar tertarik untuk menerima, menyerap dan memahami materi pelajaran. Meskipun banyak manfaatnya, penggunaan teknologi sebagai media transfer pengetahuan serta penerapan model pembelajaran apapun yang diterapkan tetaplah berstatus sebagai stimulus eksternal, yang kapan saja dapat berubah atau bahkan tidak lagi dipergunakan. Sebaliknya, cara atau metode belajar lebih merupakan “modal” internal dimana pelajar tahu dengan cara apa dia mampu menyerap materi pelajaran, memproses, menampung, dan memahami materi pelajaran serta memproduksi pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Cara atau metode belajar merupakan kemampuan eksistensial yang berakar pada hakikat manusia sebagai makhluk yang memiliki “hasrat ingin tahu”, yaitu dorongan batiniah untuk menambah pengetahuan. Manusia merindukan pengetahuan untuk mengembangkan diri sebagai makhluk yang berakal budi. Ia merasa tidak tenang apabila masih ada hal-hal yang belum dikenal atau kurang dikenal. Ia tertarik dalam batinnya untuk memperluas lapangan pengenalannya. (Leenhouwers, 1988).
Setiap pelajar memiliki “hasrat ingin tahu”. “Hasrat ingin tahu” merupakan pengalaman eksistensial yang bersifat personal, yang pemenuhannya tidak pertama-tama bergantung pada pengajaran guru atau dosen, melainkan terpenuhi melalui kegiatan belajar yang efektif. Kebehasilan pelajar dalam belajar bukan hanya merupakan hasil pengajaran, melainkan hasil dari kegiatan belajar. Oleh karena itu, membekali pelajar dengan berbagai cara belajar merupakan sebuah langkah yang perlu dilakukan pada setiap jenjang pendidikan untuk menghasilkan generasi pembelajar yang tetap belajar meski dihadang oleh berbagai bencana seperti pandemi Covid-19 ini. Ajarlah cara belajar dan belajarlah cara belajar karena belajar sesungguhnya adalah seni. Dengan demikian, belajar cara belajar menjadi jalan menuju keindahan belajar. *** P. Silvester Nusa, CSsR (Alumnus Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; Dosen STKIP Weetebula)
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
