PENGELOLAAN SEKOLAH HARUS BERBASIS KEBUTUHAN PESERTA DIDIK

Refleksi Manajemen Peserta Didik dan Layanan Khusus

Keberadaan sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan formal, merupakan langkah strategis untuk mengakselerasi proses pendidikan informal di rumah. Melalui intervensi pendidikan formal dengan segala kelebihannya dibanding dengan pendidikan informal diharapkan agar proses pembentukan, pengembangan, dan pemberdayaan potensi peserta didik dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Secara hakiki ada kesinambungan dan saling melengkapi antara pendidikan informal dan pendidikan formal, serta tanggung jawab pendidik pertama dan utama yaitu orang tua dengan pendidik kedua yaitu para pendidik. Dan sasaran dari subjek pendidikan di sekolah adalah peserta didik yang datangnya dari keluarga.

Peserta didik sebagai subjek belajar baik saat berada di rumah, maupun di sekolah adalah seorang pribadi yang memiliki kebutuhan. Kebutuhan merupakan inti kodrat manusia. Maka harus dipahami bahwa kegiatan sekolah pada prinsipnya juga merupakan manifestasi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Oleh sebab itu, pendidik perlu mengenal dan memahami tingkat kebutuhan peserta didiknya, sehingga dapat membantu dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka melalui berbagai aktivitas kependidikan, baik aktivitas pembelajaran maupun melalui aktivitas layanan khusus.

Widan (2018) menyebutkan jenis-jenis layanan khsusus di sekolah sebagai berikut: 1) bimbingan dan konseling, 2) perpustakaan sekolah, 3) laboratorium sekolah, 4) ekstrakurikuler, 5) unit kesehatan sekolah, 6) kavetaria sekolah, 7) koperasi sekolah, 8) OSIS, 9) asrama sekolah, 10) kelas akselerasi, 11) kelas inklusi, 12) dan pelayanan rohani.

Beberapa kebutuhan peserta didik yang perlu mendapat perhatian dari pendidik, di antaranya: 1) Kebutuhan jasmani. Menurut Maslow (Sobur, 2010), kebutuhan jasmani merupakan kebutuhan dasar setiap manusia yang bersifat instinktif dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan. Kebutuhan-kebutuhan jasmani peserta didik yang perlu mendapat perhatian dari pendidik di sekolah antara lain: makan, minum, pakaian, oksigen, istirahat, kesehatan jasmani, gerak-gerak jasmani, serta terhindar dari berbagai ancaman. Apabila kebutuhan jasmani ini tidak terpenuhi, di samping mempengaruhi pembentukan kepribadian dan perkembangan psikososial peserta didik, juga akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar di sekolah; 2) Kebutuhan rohani. Kebutuhan akan rasa damai dan persatuan dengan Tuhan sesuai dengan pokok ajaran iman masing-masing peserta didik; 3) Kebutuhan sosial. Pemenuhan keinginan untuk bergaul dengan sesama peserta didik dan pendidik serta orang lain. Dalam hal ini sekolah harus dipandang sebagai lembaga tempat para peserta didik belajar, beradaptasi, bergaul dengan sesama teman yang berbeda jenis kelamin, suku bangsa, agama, status sosial dan kecakapan; 4) Kebutuhan intelektual. Rasa ingin tahu, dan pendidik perlu memahami bahwa setiap peserta didik memiliki perbedaan minat belajar dan tingkat kecerdasan.

Baca Juga :   MENDIDIK DENGAN CINTA, JALAN MENUJU MUTU PENDIDIKAN

Tujuan pendidikan dan pembangunan manusia Indonesia adalah ingin menciptakan “Manusia utuh/integral,” maksudnya adalah manusia yang lengkap, selaras, serasi dan seimbang perkembangan semua segi kepribadiannya. Manusia seutuhnya adalah individu-individu yang mampu menjangkau segenap hubungan dengan Tuhan, dengan lingkungan atau alam sekitar, dengan manusia lain dalam suatu kehidupan sosial yang konstruktif dan dengan dirinya sendiri. Individu-individu yang demikian pada dirinya terdapat suatu kepribadian terpadu baik unsur akal pikiran, perasaan, moral dan keterampilan (cipta, rasa dan karsa), jasmani maupun rohani yang berkembang secara penuh.

Berdasarkan tujuan keberadaan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang ingin mempercepat proses pembentukan dan pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik, maka dapat ditegaskan bahwa yang menjadi tujuan dan sasaran dari seluruh pengelolaan sekolah adalah peserta didik. Tampa peserta didik tentu tidak ada sekolah, tanpa peserta didik tentu tidak ada guru. Meminjam ungkapan St. Kartono (2011) bahwa menjadi guru adalah untuk murid, menjadi guru bukan untuk pemerintah, dan bukan untuk administrasi.    Dalam prinsip pengelolaan sekolah peserta didik harus menjadi tujuan dari seluruh proses manajemen. Peserta didik menduduki posisi strategis dari seluruh aktivitas manajerial, karena sentral layanan pendidikan adalah peserta didik. Semua kegiatan pendidikan, baik yang berkenaan dengan manajemen akademik, layanan pendukung akademik, sumber daya manusia, sumber daya keuangan, sarana prasarana dan hubungan sekolah dengan masyarakat, sistem informasi, semuanya demi peserta didik.

Untuk mencapai tujuan penyelenggaraan pendidikan formal yang berkualitas, pemerintah pusat terus berupaya memperhatikan kesejahteraan guru dengan memberikan tunjangan sertifikasi, dan mengalokasikan beberapa jenis dana lainnya seperti dana alokasi khusus dan umum (DAK dan DAU) untuk pengembangan sarana dan prasarana pendidikan, juga dana bantuan oprasional sekolah (BOS). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2020 Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah Reguler Pasal 6 ayat 2 menjelaskan tentang besaran alokasi dana pertahun persiswa: SD Rp.900.000, SMP Rp.1.000.000; SMA Rp 1.500.000; SMK Rp 1.600.000; SDLB, SMPLB, SMALB, dan SLB Rp.2.000.000.  Pasal 9 ayat (2) menjelaskan dana operasional penyelenggaran pendidikan di sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk membiayai: a) penerimaan peserta didik baru; b) pengembangan perpustakaan; c) kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler; dll. Dengan berbagai jenis dana yang diberikan oleh negara maka sesungguhnya sekolah mempunyai dana untuk pembelajaran dan ekstrakurikuler dan perawatan sarpras.

Baca Juga :   MELALUI MUTASI GURU SEMAKIN DIBENTUK DALAM KARYA PELAYANAN

Bertolak dari pemikiran dasar tentang tujuan pendidikan, sasaran layanan pendidikan dan ketersediaan anggaran pendidikan seperti yang telah diuraikan di atas, pada akhir tulisan ini penulis mengemukakan beberapa pertanyaan reflektif dan evaluatif sebagai bentuk penyadaran dan ajakan untuk berbenah bersama:

Pertama , apakah para pendidik sudah memiliki kesadaran pedagogik bahwa dirinya adalah orang tua kedua bagi peserta didiknya? Kesadaran ini penting dimiliki agar pendidik melaksanakan tugasnya dilandasi rasa tanggungjawab keorangtuaan kepada peserta didik. Mendidik dengan rasa kasih kebapaan dan keibuan yang selalu ingin memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya.

Kedua, apa saja bentuk layanan khusus yang diberikan kepada peserta didik di sekolah kita dan bagaimana kualitas layanan khusus yang diberikan itu? Kualitas akademik dan non akademik peserta didik dapat tercapai bukan saja melalui pengajaran dalam kelas tetapi juga melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan layanan khusus.

Ketiga , berapa alokasi anggaran bantuan operasional yang diperuntukan bagi pengembangan dan memberikan layanan kepada peserta didik? Jangan sampai alokasi anggaran lebih berfokus pada belanja pegawai, administrasi dan perawatan sarpras, sedangkan untuk peserta didik hanya di atas kertas, padahal karena merekalah sekolah mendapatkan dana BOS itu.

Jika kita sayang kepada anak-anak kita dan kita ingin menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas agar bisa hidup di era revolusi industri 4.0 yang penuh dengan persaingan ini, mari kita meninggalkan model tata kelolah sekolah yang disorientasi, admistratif, dan formalitas. Mari kita mengelolah sekolah berorintasi pada mutu. ***

Oleh: Rm. Mikael Sene, Pr.,M.Pd,-

Leave a Reply

Your email address will not be published.