PERAN PEMUDA DALAM LITERASI MENGHADAPI COVID-19

Pemuda mempunyai peranan yang sangat penting dalam seluruh rangkaian pembangunan bangsa. Pemuda menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suatu bangsa, pemuda itulah yang kemudian menjadi generasi yang akan mengisi dan meneruskan keberlanjutan pembangunan bangsa ini. Pandemi covid19 telah mejadi bencana secara global, maka dibutuhkanlah peran pemuda dalam menghadapi pandemi covid19, pemuda harus menunjukkan kontribusi untuk menjadi bagian dalam memutuskan mata rantai covid19. Memang banyak anak mudah yang peduli akan situasi ini namun tidak sedikit pula yang merasa masa bodoh dengan situasi ini, belum lagi ada bagian dari pemuda, mungkin dizaman yang maju  dengan teknologi informasi yang semakin berkembang sehingga info hoaks yang beredar dimedia sosialpun turut mempengaruhi cara pandang orang muda. Sebagai pemuda literasi masyarakat berbasis digital yaitu orang muda harus memberikan pengetahuan kepada masyarakat dalam memanfaatkan teknologi dan komunikasi berbasis media digital dan alat komunikasi ataupun jaringan tujuannya agar masyarakat dapat menggunakan ataupun membuat informasi secara bijak dan kreatif, kepada kalangan anak dan generasi muda khususnya dalam sebuah keluarga yaitu agar dapat meningkatkan cara berpikir kritis, kreatif, dan positif dalam menggunakan media digital dalam kehidupan sehari hari, terutama dalam menanggkal hoax tentang corona dengan budaya membaca otomatis akan semakin banyak informasi yang ditemukan seputar pencegahan virus covid, baik melalui media sosial seperti FB,IG ataupun media sosial lainnya, budaya literasi juga bisa dilakukan degan media cetak seperti buku, majalah, koran dan media cetak lainnya.

Petrus Lede

Covid 19 belum ada vaksin, maka yang paling tepat adalah bagaimana memelihara dan meningkatkan imun tubuh agar kita tetap sehat, bugar dan tidak mudah terpapar Covid-19 banyak berita HOAX yg tidak bisa dipertanggungjawabkan tentang Covid 19 dan penanganannya, sehingga makin memperparah kondisi, bukannya turut serta membantu dalam penanganan yang tepat tentang covid-19 namun mengalami stress, sedih, bingung, disinformasi, akan menghambat proses penyembuhan, Dalam situasi ini ada banyak berita hoaks diantaranya, sebagai contoh bawang putih adalah salah satu jenis makanan sehat yang mungkin memiliki beberapa sifat antimikroba. Namun, sejauh ini tidak ada bukti bahwa dengan makan bawang putih bisa semerta-merta melindungi orang terinfeksi virus corona COVID-19, selain itu WHO menyebutkan TIDAK ADA BUKTI bahwa mencuci hidung dengan saline secara teratur, dapat lindungi agar tidak terinfeksi virus corona COVID-19. Meski ada beberapa bukti terbatas bahwa mencuci hidung memakai saline secara teratur, dapat membantu orang pulih lebih cepat dari sakit flu biasa. Namun, membilas hidung secara teratur belum terbukti mencegah infeksi pernapasan. Dengan melihat situasi sekarang ini akhirnya Kemenkominfo melibatkan penyelenggara platform digital untuk cegah penyebaran hoaks virus corona. Berdasarkan  hasil pantauan Tim AIS Ditjen Aptika, hingga akhir 5 Mei 2020 menunjukkan 1.401 konten hoaks dan disinformasi Covid-19 beredar di masyarakat. Namun disisi lain anggapan bahwa orang berusia muda “lebih kebal” terhadap virus corona, ternyata SALAH. Penelitian Ilmuwan Rutgers (Jurnal Medis JAMA Pediatrics) menyebutkan anak-anak, remaja dan orang berusia muda juga menghadapi risiko besar terkena komplikasi parah akibat Covid 19. Kendala penanganan Covid-19 di lapangan masih ada masyarakat yang tidak percaya bahaya covid-19 dimungkinkan adanya orang yang tidak terdeteksi, masyarakat tidak menghindari tempat rawan covid-19, belum maksimal pengawasan dan karantina pasien OTG yang tersebar, masih terjadi kerumunan yang tidak perlu, masih ditemukan masyarakat  yang kurang patuh terhadap protocol 3 M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan).

Baca Juga :   MELALUI MUTASI GURU SEMAKIN DIBENTUK DALAM KARYA PELAYANAN

PERAN LITERASI DALAM MELAWAN COVID 19

Penanganan Covid-19 tidak hanya terkait sistem kesehatan, tetapi juga tingkat literasi masyarakat. Masyarakat berliterasi, cenderung lebih siap menghadapi dampak buruk pandemi. Literasi berperan penting dalam menentukan status kesehatan masyarakat di era modern. Bahkan, menurut WHO dalam Health Literacy The Solid Fact (2013), tingkat literasi menjadi penentu utama status kesehatan seseorang daripada pendapatan, status pekerjaan, tingkat pendidikan, ras, atau etnis. Literasi yang rendah berpotensi meningkatkan perilaku berisiko dan memperburuk kesehatan. Selain itu, literasi kesehatan juga berpengaruh terhadap ongkos kesehatan. Masyarakat dengan tingkat literasi rendah akan lebih berat menghadapi virus corona jenis baru. Pada Maret 2020, kenaikan kasus baru per hari pada negara dengan rata-rata tingkat kemampuan literasi lebih rendah dari 85 persen. Kamboja, Kamerun, Pantai Gading, Nigeria, Tanzania, Togo, mengalami peningkatan hingga 900 persen dalam waktu tujuh hari.

Dalam penanganan Covid-19, meningkatkan literasi merupakan kebutuhan vital. Generasi Z (1995-2010), dengan ciri-ciri sbb:  Akrab dengan gawai dan mahir teknologi  Suka berkomunikasi  Mengumbar privasi  Lebih mandiri  Lebih toleran  Lebih praktis  Penuh ambisi, maka peran pemuda menjadi agen dan pelopor melawan dan memutus mata rantai Covid 19 dengan memanfaatkan keahliannya dan kemudahannya dalam mengakses informasi, perlu pendampingan dari senior agar tidak mudah termakan berita HOAX dan ikut-ikuktan menyebarkannya. Pendampingan senior dan personel yang berkompeten akan dapat menumbuhkan SOLIDITAS dan TOLERANSI serta TANGGUNG JAWAB moral untuk berbuat yang terbaik, ikut serta membangun bangsa dan negara, lebih khusus bagaimana mengatasi penyebaran Covid 19. Dengan hal itu sangat membantu dan meringankan tugas dari Satgas Covid 19 yang sudah terbentuk, maka akhir dari tulisan ini saya mengajak kita semua para pembaca budiman bahwa  masa pandemi adalah momen untuk tingkatkan kualitas diri sebagai manusia dengan berbagai tantangan, seperti manajemen yang baik saat melakukan semua aktivitas di rumah; belajar mengelola kesehatan pikiran, emosi, dan mental agar tetap positif; lebih produktif dan kreatif dalam berkarya, sebab banyak waktu untuk mengasah ide dan keterampilan. Selanjutnya melawan Covid 19 membutuhkan kerjasama, kerja keras, kerja cerdas yang didukung oleh literasi yang mencukupi. Bantuan dari generasi muda baik secara langsung maupun tidak langsung sangat bermanfaat untuk memutus mata rantai penyebaran covid 19. Literasi yang cukup akan menimbulkan kepahaman bagaimana sebaiknya kita (generasi muda khususnya) menyikapi, merefleksikan hikmah di balik pandemi, dengan mempraktikkan kehidupan yang lebih cerdas, kritis, serta penuh empati dan humanis selama masa pandemic. Selamat hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2020. ****

Baca Juga :   PENGELOLAAN SEKOLAH HARUS BERBASIS KEBUTUHAN PESERTA DIDIK

Penulis adalah dosen STKIP sedang melanjutkan S2 di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.