PEMBAGIAN DANA BST DIWARNAI PROTES WARGA MASYARAKAT

Tambolaka-SJ…… Pembagian dana  Bantuan Sosial Tunai (BST) kelurahan Waitabula dan Langga Lero diwarnai protes oleh warga masyarakat  yang tidak mendapatkan BST tersebut. Protes ini terjadi usai Bupati SBD lakukan peluncuran pembagian dana BST di lapangan Galatama Tambolaka SBD Senin (18/02/20).

Sekelompok warga yang berasal dari Kelurahan Langga Lero dan Kelurahan Waitabula mempertanyakan nama mereka yang tidak keluar sebagai penerima BST tetapi sebelumnya sudah didata oleh pemerintah kelurahan.

Mama Nora warga kelurahan Langga Lero sambil berteriak menanyakan kenapa dirinya tidak memperoleh padahal ada keluarga lain yang tidak termasuk kelompok orang miskin mendapat surat panggilan untuk mendapatkan bantuan BST.

“Ada yang rumahnya bagus, ada yang PNS tetapi mendapatkan surat undangan untuk menerima BST, ini pasti permainan Lurah yang memilih orang-orang yang mendapatkan bantuan BST” ungkapnya kesal.

Warga masyarakat yang lain Eman Thedens mempertanyakan tidak adanya transparansi dari pemerintah kelurahan dengan tidak menempel nama-nama yang memperoleh bantuan tersebut, sehingga dirinya mencurigai adanya kepentingan pemerintah kelurahan untuk menentukan orang-orang yang mendapatkan bantuan tersebut.

“Pemerintah tidak transparan, karena tidak menempelkan nama-nama tersebut di kantor kelurahan sehingga masyarakat bisa mengetahuinya bersama siapa yang dapat dan tidak dapat” uturnya.

Masyarakat yang lainnya mempertanyakan kriteria penerima BST, apakah ditujukan hanya untuk orang miskin atau siapa saja yang berhak mendapatkannya.

Kadis Sosial SBD, Dra. Dery Laka yang berusaha memberikan penjelasan pada masyarakat

Menjawab pertanyaan-pertanyaan warga masyarakat yang tidak puas ini Kadis Sosial Dra. Dery Laka dan beberapa petugas lain berusaha menjelaskan bahwa keputusan menentukan nama-nama penerima BST adalah wewenang pemerintah pusat, sedangkan pemerintah kabupaten bersama desa/kelurahan hanya mengirimkan nama-nama warga masyarakat yang diusulkan.

Baca Juga :   GMNI: Orang Miskin Membantu Orang Miskin

Namun demikian warga masyarakat tetap tidak menerimanya sehingga pembagian dana BST tersebut akhirnya ditunda. Pihak keamanan berusaha menenangkan warga masyarakat tersebut, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Informasi yang diperoleh awak media kantor kelurahan Waitabula sempat dihujani batu oleh masyarakat yang tidak puas dengan kebijakan tersebut.

Dipantau oleh media ini penyebab utama terjadi kericuhan tersebu karena kurangnya informasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah desa/kelurahan. Bisa dipahami karena waktu yang terbatas, dimana pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa/kelurahan disibukan dengan kerja gugus tugas penanggulangan bencana covid-19.

Hal lain lagi adalah bahwa kurangnya pemahaman masyarakat akan jenis-jenis bantuan yang sudah disiapkan oleh pemerintah guna meringankan beban masyarakat akibat wabah covid-19 yang sedang melanda Indonesia bahkan dunia saat ini. Media juga melihat adanya provokator-provokator yang membakar amarah masyarakat yang tidak mendapat bantuan BST.

Desa Kalena Wano Aman Terkendali

Lain halnya dengan yang terjadi dengan desa Kalena Wanno yang pada saat yang sama pembagian dana BST tidak mengalami kericuahan apa-apa, bahkan warga masyarakat Kalena Wanno dengan tertib dan teratur menunggu namanya dipanggil untuk mengambil dan BST tersebut.

Kepala Desa Kalena Wano, Vinsensius Malo Ngongo saat ditemui awak media

Kepala desa Kalena Wanno Vinsensius Malo Ngongo yang dihubungi media disela-sela pembagian dan BST tersebut mengatakan, warga masyarakatnya tidak ada kendala bahkan tidak melakukan protes. Jumlah penerima dana BST untuk desa Kalena Wanno ada 128 KK.

“Untuk sementara dan pembagian dana BST sudah mencapai ¾ tidak ada persoalan yang kami hadapi. Saya sudah tekankan pada warga kami masalah uang jangan diukur kita punya harga diri. Berapapun itu kita terima dengan senang hati, anggap saja itu rejeki” ungkapnya.

Baca Juga :   Panitia Desa Luwakoba Gelar Pilkades Periode 2021-2027

Lebih lanjaut Vinsensius menjelaskan sosialisasi merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan, karena dirinya langsung melakukan sosialisasi pada warganya begitu mendapat informasi dari pemerintah kabupaten.

Dirinya sudah menjelaskan pada warga masyarakatnya bahwa akan bantuan-bantuan yang diperuntukan bagi warga kurang mampu baik dapemerintah pusat, provinsi, kabupaten bahkan dari dana desa.

“Kita mendata warga yang berhak menerima bantuan dan mendata secara lengkap, sehingga tidak ada data yang tumpang tindih baik itu untuk dana BST, PKH, Bansos dan bantuan lainnya. Masalah jumlahnya kami tidak persoalkan jumlahnya. Intinya adalah bahwa pemerintah sudah memperhatikan rakyatnya dalam suasan wabah covid-19 ini” katanya.

Dirinya juga menyayangkan dengan adanya keberatan dari warga masyarakat Waitabula ini membuat pembagian dana BST pada hari itu ditunda. Padahal untuk desa Kalena Wano tidak mengalami kendala apapun.

Dalam kesempatan yang sama Vinsensius juga menghimbau warganya untuk selalu patuh pada anjuran pemerintah dan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran wabah covid-19 ini. Dirinya menjelaskan pihaknya terus melakukan penyuluhan dan penyemprotan disinfektan ke rumah-rumah warga.

“Sekarang kami sudah mau melakukan penyemprotan disinfektan tahap ke II dan membagikan masker bagwa warga msyarakat Kalena Wano demi mencegah dan memutus mata rantai penyebaran virus corona” ungkapnya lagi.

Upaya-upaya tegas juga akan dilakukan agar warga masyarakat patuh menggunakan masker, menjaga jarak serta diam dirumah saja jika tidak ada hal yang sangat penting untuk keluar rumah.

“Hari Rabu nanti kami akan lakukan tilang bagi warga masyarakat yang tidak menggunakan masker. Warga harus selalu menggunakan masker pada saat keluar rumah, kalau tidak kami kembalikan ke rumahnya tidak boleh keluar” jelasnya.

Dirinya menegaskan untuk pencegahan wabah covid-19 ini pihaknya akan bertindak tegas dan bekerja penuh hati. Desa kalena Wano sudah melakukan upaya-upaya tersebut sejak 2 bulan yang lalu, bahkan belum menggunakan dana ADD.

Baca Juga :   Miris, Jembatan Lewata Runtuh Masyarakat Dikira Menyeberang Menggunakan 3 Batang Bambu

“Kami sudah bekerja sejak 2 bulan yang lalu, tim gugus tugas covid-19 Kalena Wano bekerja tanpa dana, hingga saat inipun kami belum menggunakan dana desa. Kami tetap semangat untuk bekerja” tutupnya.***** (OC$),-