NEW NORMAL PENDIDIKAN (Jalan Menuju Merdeka Belajar)

P. Silvester Nusa, CSsR,-

Pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan yang lama dalam berbagai bidang kehidupan dan menggantinya dengan tatanan baru atau kenormalan baru (new normal ). Salah satu bidang kehidupan yang mengalami perubahan tatanan adalah bidang pendidikan. Peserta didik (siswa dan mahasiswa) tidak lagi menjalankan aktivitas pendidikan di sekolah atau kampus, melainkan belajar dari rumah atau belajar di rumah. Pembelajaran tatap muka dengan guru atau dosen sebagai tutor diganti dengan pembelajaran secara dalam jaringan (daring) atau pembelajaran jarak jauh. Inilah new normal bidang pendidikan.  New normal (tatanan baru) pendidikan memunculkan  kekhawatiran dari pihak siswa, mahasiswa, guru, orangtua dan masyarakat pencinta pendidikan. Para siswa atau mahasiswa gelisah karena mereka seakan-akan menganggur tanpa kegiatan belajar. Guru dan dosen khawatir siswa atau mahasiswa tidak memperoleh pengetahuan tanpa mereka. Orangtua pun gelisah jangan sampai anak-anaknya naik kelas atau lulus tanpa pengetahuan. Singkatnya, ada begitu banyak alasan kekhawatiran yang menghinggapi hati dan pikiran para siswa, mahasiswa, guru, orangtua, dan pencinta pendidikan.  Kekhawatiran seperti itu memang cukup beralasan, yaitu  adanya pemikiran  bahwa sekolah atau kampus adalah satu-satunya tempat untuk belajar. Guru atau dosen adalah sumber pengetahuan bagi siswa atau mahasiswa. Guru dan dosen saja yang memiliki “kuasa” untuk memaksa atau mewajibkan siswa atau mahasiswa untuk belajar. Maka, ketika siswa atau mahasiswa tidak berada di sekolah atau kampus untuk mengikuti kegiatan pembelajaran atau perkuliahan karena pandemi Covid-19 seperti yang terjadi sekarang ini, bayangan akan suramnya masa depan anak-anak seolah-olah terpampang di depan mata. Pemikiran dan perasaan yang demikian memang tidak sepenuhnya salah. Namun, pemikiran semacam itu perlu dikoreksi  supaya siswa atau mahasiswa, guru atau dosen, orangtua siswa, dan masyarakat memahami hakikat pendidikan dan sekaligus memahami peran mereka  masing-masing dalam situasi proses pendidikan anak, khususnya pada masa pandemi Covid-19 ini.

Salah satu aliran filsafat pendidikan modern yang dapat menuntun kita untuk memahami  hakikat pendidikan dan ruang lingkup pendidikan  adalah aliran progresivisme. Progresivisme merupakan salah satu aliran filsafat pendidikan modern yang menginginkan adanya perubahan mendasar terhadap pelaksanaan pendidikan ke arah yang lebih baik, berkualitas dan memberikan kemanfaatan yang nyata bagi peserta didik. Aliran progresivisme menekankan pentingnya dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada peserta didik. Peserta didik diberikan keleluasaan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat aturan-aturan formal yang terkadang membelenggu kreativitas dan daya pikirnya untuk menjadi lebih baik. Progresivisme sebagai salah satu aliran filsafat pendidikan yang mengembangkan kurikulum berpusat pada anak ( child centered curriculum). Kurikulum progresivisme menekankan pada how to think (bagaimana berpikir), dan how to do (bagaimana melakukannya). Artinya, pembelajaran lebih mengutamakan metode daripada materi yang bertujuan untuk memberikan kemampuan individu berinteraksi dengan lingkungan yang fleksibel. Dengan menekankan pada aspek metodologis, kurikulum yang dirancang harus menyesuaikan situasi dan kondisi, fleksibel dalam menghadapi perubahan, dan familiar terhadap masa kini. Guru menurut pandangan filsafat progresivisme adalah sebagai penasihat, pembimbing dan pengarah peserta didik. Peran utama pendidik (guru) sesungguhnya adalah membantu peserta didik bagaimana belajar mandiri, sehingga peserta didik akan berkembang menjadi pribadi dewasa yang mandiri dalam lingkungan yang fleksibel. Progresivisme menyatakan bahwa pendidikan sesungguhnya bukan semata-mata dilakukan lembaga formal (sekolah), tetapi lebih ke arah belajar sampai kapan pun di dalam masyarakat (Pohan, 2019).

Baca Juga :   RENDAHNYA KEMAMPUAN LITERASI

Gagasan progresivisme sepertinya menginspirasi Mendikbud RI, Nadiem Makarim ketika beliau menggagas konsep “Merdeka Belajar ”. Merdeka belajar bukan berarti merdeka dari belajar, melainkan belajar dengan cara yang merdeka dan membahagiakan Konsep “merdeka belajar”  berawal dari  keprihatinan  atas  mutu pendidikan dan kualitas lulusan yang rendah. Mendikbud berkeinginan agarproses pendidikan menghasilkan peserta didik yang memiliki kualitas yang lebih baik dan tidak lagi menghasilkan peserta yang hanya jago menghafal saja. Merdeka Belajar dapat membentuk siswa yang memiliki kemampuan analisis yang tajam, penalaran yang logis serta pemahaman yang komprehensif dalam belajar untuk mengembangkan diri. Gagasan “merdeka belajar” mengubah sistem pengajaran, yakni dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Suasana pembelajaran akan lebih nyaman, karena siswa dapat berdiskusi lebih intensif dengan guru dan menikmati belajar di luar kelas. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter diri yang berani, mandiri, cerdas dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengejar angka atau mengandalkan sistem ranking. Merdeka belajar diyakini mampu membentuk lulusan yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat.

Konsep “merdeka belajar” memiliki arah dan tujuan yang sama dengan konsep aliran filsafat pendidikan progresivisme. Yang dibutuhkan oleh peserta didik bukan pertama-tama adalah materi belajar, melainkan metode belajar. Yang perlu diajarkan adalah cara belajar yang tepat sesuai dengan gaya belajar siswa atau mahasiswa. Dalam kaitan dengan pengajaran dan pembelajaran, Prashnig (2007) melontarkan paradigma baru yang amat menarik. Pertama,  untuk pengajaran: “Apabila siswa tidak bisa belajar dengan cara kita mengajar, kita harus belajar mengajar mereka dengan cara mereka BISA belajar” . Kedua, untuk pembelajaran: “Setiap siswa BISA belajar, tetapi setiap siswa belajar dengan cara yang berbeda ”. Gaya belajar adalah cara manusia mulai berkonsentrasi, menyerap, memproses, dan menampung informasi yang baru dan sulit. Apabila orang  dibiarkan belajar dan bekerja dengan gaya mereka sendiri, serta menemukan lingkungan yang sesuai dengan kegiatan-kegiatan mereka, mereka benar-benar mampu melakukannya dengan tingkat stres yang jauh lebih kecil dan kegembiraan yang jauh lebih besar” (Prashnig, 2007). Sayangnya, metode belajar tidak dijadikan mata pelajaran atau mata kuliah wajib oleh sebagian lembaga pendidikan. Ketika siswa atau mahasiswa tidak belajar sesuai dengan gayanya sendiri, tingkat stres meningkat, batin tersiksa, dan pikiran kacau. Kegiatan belajar tidak lagi dialami oleh siswa atau mahasiswa sebagai aktivitas yang merdeka, menyenangkan dan membahagiakan, melainkan dialami sebagai sebuah beban berat yang layak untuk dihindari.  

Baca Juga :   MENJELANG PILKADA SERENTAK 2018 DI SUMBA BARAT DAYA

Progresivisme menyatakan bahwa pendidikan sesungguhnya bukan semata-mata dilakukan lembaga formal (sekolah), tetapi lebih ke arah belajar sampai kapan pun di dalam keluarga dan masyarakat. Apa yang perlu dilakukan oleh pendidik di sekolah/kampus, pendidik di keluarga dan pendidik di masyarakat untuk menghasilkan pembelajar yang merdeka?  Pertama , guru/dosen perlu mengajarkan metode belajar kepada peserta didik (siswa dan mahasiswa). Modal utama yang harus diberikan kepada peserta didik bukan pertama-tama materi pelajaran, tetapi metode belajar. Peserta didik harus mempelajari metode belajar agar mereka memiliki keterampilan belajar (study skills ) yang sesuai dengan gaya belajarnya. Apabila peserta didik memiliki keterampilan belajar, mereka akan suka belajar dan suka pula mencari materi belajar. Singkatnya, mereka akan menjadi pembelajar yang mandiri. Kedua , orang tua yang mampu membaca, menulis dan menghitung harus  menjadi “guru” bagi anak-anak mereka di rumah dan sekaligus  menyediakan fasilitas belajar seperti buku-buku pelajaran atau buku-buku lain yang relevan dengan meteri pelajaran. Seorang siswa SMP atau SMA/sederajat misalnya, hendaknya menjadi “guru” bagi adik-adiknya yang sedang berada di jenjang pendidikan dasar. Ketiga , pemerintah daerah mempunyai kewajiban membangun pusat-pusat belajar yang dilengkapi fasilitas belajar seperti perpustakaan dan jaringan internet. Warga masyarakat menyediakan toko buku yang relatif lengkap sehingga pesesrta didik dapat membeli buku-buku yang  mereka butuhkan. Pemerintah desa perlu mengalokasikan dana desa untuk membangun pusat-pusat belajar beserta fasilitas belajar bagi anak-anak desa seperti perpustakaan desa. Jika peserta didik memiliki sumber belajar (buku) dan memiliki keterampilan belajar, peserta didik akan menjadi pembelajar yang merdeka. Ironisnya, di daerah yang mutu pendidikan masih sangat rendah, tidak tersedia toko buku yang relatif lengkap. Sebaliknya, toko pakaian, toko kosmetik, toko material bangunan, toko elektronik, toko perhiasan ada di mana-mana. Keempat , peserta didik menggunakan kesempatan belajar tanpa guru atau dosen untuk mendidik diri menjadi pembelajar yang merdeka dan mandiri serta berusaha untuk belajar cara  belajar yang sesuai dengan gaya belajarnya sendiri.

Baca Juga :   Pengendalian Hama Belalang di Sumba Mau tidak Mau harus Kimiawi

Pandangan aliran progresivisme yang menekankan pentingnya dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan  peserta didik  dan  gagasan Mendikbud yang menekankan kemerdekaan dalam belajar sesungguhnya mengubah pemikiran bahwa sekolah atau kampus bukanlah satu-satunya tempat belajar. Peserta didik yang mengenal gaya belajarnya sendiri dan memiliki keterampilan belajar akan belajar dengan cara yang merdeka dan membahagiakan. Mereka akan memiliki motivasi internal yang kuat untuk belajar materi apa saja, di mana saja dan kapan saja. Apabila peserta didik  memanfaatkan  kesempatan belajar di rumah secara maksimal serta didukung oleh lingkungan keluarga dan masyarakat yang baik, new normal bidang pendidikan yang sedang dijalankan sekarang ini akan menjadi jalan menuju “merdeka belajar ” yang pada akhirnya menghasilkan pembelajar-pembelajar yang merdeka dan bahagia. **)

**) Penulis adalah Alumnus Program Pascasarjana Fakultas PsikologiUniversitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dosen STKIP Weetebula SBD.-