Pandemi COVID-19 menjadi tantangan baru dalam pelaksanaan pembelajaran di dunia pendidikan terutama di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Pembatasan aktivitas sosial untuk menghindari atau meminimalisir kemungkinan terjadinya penyebaran virus corona berdampak sangat besar bagi kegiatan pembelajaran yang selama ini dilakukan dalam bentuk kelompok/rombongan belajar dengan cara tatap muka. Murid-murid tidak lagi ditemui di dalam ruang-ruang kelas, melainkan di rumah mereka masing-masing. Tugas guru menjadi lebih berat dari sebelumnya, ditambah pula dengan akses jalan di daerah 3T yang cukup menantang serta terbatasnya keterjangkauan akses internet.

Di kota-kota besar, pelaksanaan pembelajaran dapat dilaksanakan melalui pembelajaran daring karena didukung oleh akses internet yang baik, berbeda jauh dengan situasi di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal yang akses internetnya masih sangat sulit. Berdasarkan data Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (2020) Ahmad M. Ramli mengatakan sebanyak 12.548 desa di Indonesia belum tersentuh oleh sinyal internet hingga hari ini. Keterbatasan infrastruktur internet yang belum dapat menjangkau kecamatan dan desa di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal, seperti di Provinsi NTT menjadi kendala utama bagi para guru dalam menjalankan pembelajaran berbasis daring.
Pembelajaran berbasis daring yang sedang gencar dilaksanakan di seluruh Indonesia belum didukung dengan ketersediaan infrastruktur internet. Menurut data Kemendikbud (2020), sebanyak 46 ribu atau lebih 17 persen satuan pendidikan dasar dan menengah tidak memiliki akses ke internet. Di kota-kota besar pembelajaran daring sudah menjadi budaya baru dan tidak lagi menjadi sesuatu yang asing. Situasi yang demikian berbanding terbalik dengan keadaan anak-anak sekolah di daerah 3T yang jangankan jaringan internet untuk belajar saja masih banyak siswa yang belajar dengan penerangan seadanya tanpa listrik.
Lalu, dengan cara apakah guru-guru di daerah 3T tetap melaksakan tugas luhur nan mulia mereka dalam mendidik dan mencerdaskan anak bangsa di tengah pandemi Covid-19 yang makin meresahkan ini? Pembelajaran berbasis daring adalah suatu pilihan, namun tidak berarti menjadi satu-satunya pilihan. Guru dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam merancang pembelajaran door to dooragar seluruh siswa tetap memperoleh bimbingan pembelajaran yang maksimal di tengah pandemi Covid-19. Selain menjalankan sistem BDR (belajar dari rumah), sistem antar-jemput tugas menjadi solusi yang dipakai oleh guru agar siswa tetap terus belajar.
Bukan hanya guru yang memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa para siswa harus tetap belajar di tengah pandemic Covid-19 ini, orang tua siswa pun turut memiliki andil yang sangat besar untuk mendampingi, membantu dan mengarahkan anak-anak dalam belajar. Guru dan orang tua harus menjadi tim kerja yang solid. Guru menyediakan bahan ajar atau konten pembelajaran, sedangkan orang tua dituntut untuk beradaptasi dan mendukung kegiatan belajar dari rumah secara aktif. Mengutip dari akun instagram resmi Penelitian, Pengembangan, dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), peran orang tua membantu anak belajar dari rumah diantaranya: Pertama, orang tua memastikan anak belajar daring dengan aman. Kedua, orang tua memberi motivasi kepada anak untuk belajar secara daring. Ketiga, orang tua aktif berkomunikasi dengan guru di sekolah. Hal ini seharusnya tidak menjadi hal yang benar-benar baru bagi para orang tua, karena sejatinya pendidikan anak yang pertama dan utama berawal dari dalam keluarga.
Pandemi Covid-19 tidak boleh menjadi alasan untuk menghambat laju pendidikan anak-anak bangsa. New normaldalam dunia pendidikan adalah pembaharuan sumber belajar. Sumber belajar lama dimana siswa cenderung hanya belajar terbatas di dalam ruang-ruang kelas serta menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar tidak lagi cocok di era new normalini. Siswa dapat belajar di mana saja, kapan saja dan dari siapa saja. Sumber belajar adalah semua sumber termasuk pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan latar yang dapat dipergunakan peserta didik, baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk gabungan untuk memfasilitasi kegiatan belajar dan meningkatkan kinerja (Januszweki & Molenda, 2008).
Guru, orang tua, siswa dan seluruh tatanan pejuang di dunia pendidikan di daerah 3T harus dapat melihat blessing in disguise(berkat tersembunyi) di balik pandemi Covid-19 ini. Kita harus membuka diri, dipaksamelihat peluang-peluang baru pada wajah dunia pendidikan daerah 3T. Keterbatasan infrastruktur, akses internet, gadget serta rendahnya pengetahuan orang tua sebagai bekal dalam mendampingi anak untuk belajar dengan menggunakan media elektronik tidak dapat menjadi alasan untuk “melarikan diri”dan merasa asing dengan dunia pendidikan kita saat ini. Kita harus beradaptasi dengan tuntutan untuk memanfaatkan teknologi sebagai jembatan emas penghubung antara guru dengan siswa, guru dengan orang tua, serta siswa dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan baru. Pemanfaatan aplikasi seperti, WhatApps, zoom meeting, google claasroom, google meet, kahoot, dan sebagainya harus dilihat sebagai satu langkah maju yang kreatif dan inovatif dalam dunia pendidikan di daerah 3T.
Kita semua mengemban tugas yang sama beratnya demi keberlangsungan iklim pendidikan yang stabil, bergerak maju dan penuh harapan. Pendidikan bukan lagi tugas dan tanggung jawab guru di sekolah saja, tetapi juga merupakan tugas bersama dengan orang tua termasuk pribadi siswa itu sendiri. Jika kita saling mendukung dan menopang tentu akan tercipta wajah baru pada dunia pendidikan di daerah 3T. Pandemi tidak boleh membuat pendidikan di daerah kita semakin tertinggal jauh di belakang bagai pesakitan. Tidak ada yang lebih mulia daripada menciptakan dan memastikan anak-anak daerah memperoleh pendidikan yang terbaik di tengah pandemi Covid-19 ini. Pandemi Covid-19 menjadi tantangan berat dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Namun, tantangan tersebut telah melahirkankan berbagai solusi dan terus memunculkan solusi-solusi bagi pelaksanaan pembelajaran untuk keluar dari keterpurukan menuju ke sebuah harapan baru di bidang pendidikan, secara khusus di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal).*** (Oleh: SeverianiPati Muda; Mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Semester IV STKIP Weetabula).-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
