STRATEGI BRANDING SEBAGAI CARA UNTUK MEMPENGARUHI PEMILIH

Definisi demokrasi secara umum adalah dari rakyat untuk rakyat (people for people), artinya bahwa dalam suatu sistem pemerintahan kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat tetapi itu hanya sebatas teori yang kemudian pada implementasinya pemimpin itu seperti penguasa tertinggi/rajanya rakyat kecil.

Legorius Vidigal Bria, Jurnalis Suara Jarmas di Malaka

Hal ini mengingatkan saya pada era Orde Baru, 32 tahun masa kepemimpinan yang selalu men-justice rakyat kecil ketika ada kritikan yang sifatnya membangun.

Berdasarkan teori di atas maka demokrasi itu seperti sebuah kemasan botol mineral yang berlabelkan SNI (Standar Nasional Indonesia), yang dapat menarik minat konsumen agar mau mengkonsumsi air mineral yang sistem produksinya menggunakan alat produksi yang berpotensi mengandung antioksidan, senyawa yang bisa membahayakan tubuh manusia jika kadarnya terlalu tinggi.

Analogi kesehatan pada sistem kebutuhan manusia ini saya gunakan untuk menakik dan menangkal berbagai sulap politik yang dipakai oleh para Abunawas politik, sekali lagi saya ulangi para Abunawas politik (pelaku politik) untuk membohongi rakyat yang belum paham soal apa itu politik yang sebenarnya dan apa itu demokrasi yang sesungguhnya.

Hajatan politik Pilkada Serentak semakin dekat; berbagai macam isu politik murahan (tipu masyarakat) akan dimainkan oleh pelaku politik (tim sukses) untuk menangkan kandidat calon.

Dalam hajatan itu akan  berbagai materi kampanye propaganda yang sifatnya TSM (Tersruktur, Sistimatis dan Masif), pengemasan isu untuk menangkan sosok dan kalahkan sosok. Ilmu spesifik inilah yang membuat pemain politik berperan besar dalam suatu even yang masif.

Dalam kampanye Pilkada, ada dua hal penting sebagai alat pendoktrin yang merusak sistem mindset yang mampu menyulap pemilih yang tidak suka menjadi suka.

Di sini akan saya tuliskan sehingga semua kita bisa lebih menyadari betapa hebatnya paraktisi-praktisi politik beraksi dalam medan kampanye antara lain adalah Need (Kebutuhan) dan Want (Keinginan).

Baca Juga :   UPAYA PENEGAKAN NETRALITAS ASN

Need itu dijawab melalui Visi Misi dan Want dijawab dengan tema tulisan yang saya angkat, yaitu Strategi Branding Sebagai Cara Untuk Mempengaruhi Pemilih. Keduanya merujuk pada teori Piramida Kebutuhan Maslow, antara lain aktualisasi diri, penghargaan, sosial, keamanan dan fisik/fisikologis.

Bagi saya, tidak masalah karena habitatnya politik sudah mendarah daging (turun-temurun); yang terpenting adalah komitmen yang pada koridornya UU 1945 dan Pancasila is the philosophic fundamentas of the state sehingga rakyat jangan kehilangan gairah untuk berpolitik.

Karena kehilangan energy positif ini berdampak pada demokrasi yang mengatasnamakan elit atau penguasa yang tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Rasionalitas politik harus dipakai sebagai instrument untuk memberikan pendidikan politik positif terhadap rakyat oleh praktisi politik (kader partai).

Bagi saya, ilmu branding adalah ilmu pasar dan ilmu jualan. Mengutip apa yang disampaikan oleh Sang Proklamator, Ir. Soekarno yang mengatakan bahwa praktik revolusioner akan ada jika tanpa teori revolusioner.

Maka pendapat saya bahwa partai politik sebagai laboratorium mini para politisi untuk mengapresiasikan kepuasan politik/nafsu politik. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kandungan gizi terhadap kader partai sehingga menghasilkan pemimpin oligarki.