RENDAHNYA KEMAMPUAN LITERASI

Salah satu dari empat pokok kebijakan pendidikan merdeka belajar yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim adalah asesmen kompetensi minimum dan survei karakter yang merupakan pengganti dari ujian nasional.

Oleh: Dekriati Ate, S.Si., M.Pd.

Kompetensi yang diuji adalah kompetensi bernalar menggunakan bahasa (literasi) dan matematika (numerasi). Salah satu tes yang menguji kemampuan literasi numerasi adalah PISA. Hasil PISA 2012, Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara peserta dengan skor 375. Hasil PISA 2015, Indonesia berada di peringkat 63 dari 70 negara dengan skor 386.  Hasil PISA 2018, Indonesia berada di peringkat ke-73 dari 79 negara dengan skor 379. Hasil tes PISA menunjukkan bahwa siswa di Indonesia hampir berada di urutan terakhir. Hal ini berarti bahwa pendidikan di Indonesia masih diperjuangkan.

Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah matematika melalui permainan domino

Selanjutnya, data survei sosial dan ekonomi nasional yang dilakukan oleh BPS menunjukkan bahwa terjadi peningkatan persentase penduduk di Nusa Tenggara Timur yang berumur 15 tahun ke atas dan melek huruf dari tahun 2021 ke tahun 2022. Pada tahun 2021 sebesar 93,85% dan pada tahun 2022 sebesar 94,63 persen. Dari data tersebut, secara umum dapat dikatakan bahwa kemampuan literasi siswa di NTT masih rendah.

Pulau Sumba merupakan salah satu pulau yang berada di wilayah Nusa Tenggara Timur  (NTT) yang terbagi atas 4 (empat) Kabupaten yakni, Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 tahun 2020 Pulau Sumba merupakan salah satu pulau yang berada di daerah tertinggal, terluar, terdepan (3T), dan merupakan pulau yang sektor pendidikannya masih sangat kurang.

Baca Juga :   MELALUI MUTASI GURU SEMAKIN DIBENTUK DALAM KARYA PELAYANAN
Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah matematika melalui permainan domino

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2019, salah satu dari enam Kabupaten dengan jumlah penduduk miskin tertinggi adalah kabupaten Sumba Barat Daya. Salah satu faktor yang menyebabkan kemiskinan adalah kemampuan literasi yang rendah. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kemampuan literasi menjadi lebih baik yakni menumbuhkan kesadaran pentingnya membaca, mengoptimalkan perpustakaan menjadi gudang buku, menambah koleksi buku bacaan yang disukai siswa, memperbaiki tatanan perpustakaan agar lebih nyaman dan menarik dikunjungi oleh anak-anak, membentuk komunitas baca, membaca 10 menit sebelum KBM.

Selain itu, solusi lainnya adalah kualitas pembelajaran di kelas harus diperbaiki. Untuk itu, STKIP Weetebula (Sejak Oktober 2022 berubah menjadi UNIKA Weetebula) telah bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Matematika Didaktik e. V. (Yayasan Institute Penelitian Didaktik Matematika) di Osnabrueck, Jerman (Kaune et. al., 2011 dan 2012). Tujuan khusus adalah memperbaiki kualitas pembelajaran melalui matematika karena matematika merupakan „entrance door“ untuk mata pelajaran lain. *** (Oleh: Dekriati Ate, S.Si., M.Pd., Penulis adalah mahasiswa Doktoral Pendidikan Matematika UPI Bandung, penerima beasiswa LPDP tahun 2022).-