PEREMPUAN DAN SUARA BISING PEMBUNGKAMAN KEKERASAN

Aku perempuan, Tentang aku yang selalu mengalah. Aku yang selalu terbuai dengan rayuan. Aku yang selalu di anggap kalah.

Dina Rici Sumiyati

Semua mata menatapku dengan tajam, seolah diriku paling kejam. Membiarkan tubuh dirajam, Jiwa dan suaraku terus di bungkam.

Terlalu banyak omong kosong menghantuiku, menjilat secara perlahan setiap ucapan bibir penjilat, menggodaku dengan kehausan nafsu. Menyeret dengan kasar tubuh lembutku hingga banyak luka yang membekas tanpa berdarah.

Sungguh pandai niat baik pecundang memuaskan hasrat. Menenggelamkan semua terang demi menjemput masa kelam. Keterlaluan tak tahu diri pengkhianat berdiri tegak. Menutup raut dengan senyuman palsu yang tak bernurani. Sialnya tak ada percaya yang menyelinap masuk dipikiran pengamat, sesudahnya aku lagi yang menjadi sorotan sakit.

Berapa banyak waktu harus ku nanti demi percaya? Berapa banyak luka yang harus kubalut dalam tangis dan tawa? Berapa banyak omong kosong yang harus menyeretku hingga terpojok? Berapa sanggup suara bising dalam diamku terdengar?

Bedebahh ! Kau berani menusukku dengan ancaman. Menyayat perasaanku hingga tak tahu arah. Pikirku tak lagi baik tentangmu . Kau penjahat jahanam, demi puasmu kau rela melupakan tega. Membiarkan darah dagingmu terkapar mati lebih kejam dari ancaman COVID-19.

Terlalu angkuh harap mu menanti harmonis dalam keluarga biadab. Lalu kau tak tahu caranya beradab Lantas, apa inginmu? Apa mau mu? Apa suka mu? Terlampau miris tindakanmu menyia-nyiakan nyawa orang tak bersalah.

Kau datang menjemputku dengan kalimat seindah surge, setelahnya kau antarkan aku pada panasnya api neraka !  Lalu tak lagi sempat kudengar pamitmu menegurku. Terlalu asik kau menikmati rintihan dan teriakan anak kecil berhati tulus demi amarahmu terlampiaskan padaku.

Baca Juga :   MEMANFAATKAN POTENSI YANG DIMILIKI DALAM MEMBANGUN DAERAH

Ahhhhhhhhhhhhhhh… Akuu perempuan ! Aku perempuan ! Aku perempuan ! Suara bising terus mengusikku dengan ocehan dan pujian ! Lantas mengapa kau seenaknya membuatku tak berdaya dan tak bernyawa?

Teriak minta tolongku kau jadikan instrumen pengantar tidur lelapmu.. Tangisanku kau jadikan alas pada bantalmu demi empuk. Kemana suaraku yang sesungguhnya hingga telingamu tak lagi berfungsi untuk mendengarku? Mungkinkah kau begitu nyaman dengan suara bising yang menunggu pedulimu?

Kau keterlaluan bejat ! Kau penjahat ! Kau penjilat ! Di sini ada hati yang harusnya kau balut dengan cinta bukan nafsu birahi yang tak pernah puas meskipun telah banyak nikmat yang kau rasakan !

Aku perempuan !! Harusnya kau tahu diriku dan dirimu adalah satu,  tidak bisa dipisahkan. Setidaknya kau mengerti tubuh yang kau rusaki dan kau abaikan adalah bagian dari hidupmu ! Kutitipkan salam manisku melalui suara-suara bising untukmu si pelupa diri. .*** (Karya: Dina Rici Sumiyati),-