Orientasi Konvergensi Penanganan Stunting Desa

(ki ke ka) Daniel L. Kalli (kades Kali Ngara, Endang Herawati (PKK), Lodo L. Raya (Sekdis PMD), Edy Nganggo (Bappeda) dan David Padaka (Dinkes)

Wewewa-SJ………… Dalam upaya penanganan stunting yang merupakan permasalahan  nasional, Dinas Kesehatan Sumba Barat Daya (SBD), PKK SBD, Dinas PMD, Bappeda menyelenggarakan kegiatan orientasi konvergensi penanganan stunting desa dan strategi komunikasi perubahan perilaku yang diselenggarakn secara serentak dibeberapa desa dari tanggal 9-13  Desember 2019 yang dikhususkan untuk 10 lokus desa.

Senin (9/12/19) bertempat di kantor desa Kali Ngara Kecamatan Wewewa Tengah SBD, Tim 3 melakuan kegiatan Orientasi Desa Dalam Konvergensi Stunting. Hadir dalam kegiatan tersebut Endang Herawati (PKK), Lodowaik L. Raya (DPMP), Edy Nganggo (Bappeda) dan David Padaka (Dinkes) memberikan arahan dan penyuluhan bagi pemerintah desa, kader posyandu, Tim PKK desa Kali Ngara.

Endang Herawati PKK SBD dalam peyampaiannya mengangkat peran PKK untuk kesejahteraan dan kesehatan keluarga terlebih dalam mencegah stunting pada ibu hamil, menyusui dan balita.

Dirinya juga menekankan cara memanfaatkan makanan bergizi agar menjadi makanan seimbang. Isi piringan terdiri dari makanan seimbang/sehat serta bergizi. Endang juga mengarahkan peran PKK di desa dalam mendata masyarakat,  merangkul dan memberikan penyuluhan agar mencintai hidup sehat.

“Untuk hidup sehat  sehingga kita bisa mencegah stunting itu dimulai dari diri kita sendiri baru orang lain. Mari kita cegah stunting sejak dini, mencegah lebih baik dari mengobati” ungkapnya.

Lodo L Raya  dinas PMD dalam arahannya mengatakan untuk pencegahan stunting Pemerintah Desa bisa menggunakan dana desa sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

“Stunting jangan ada lagi di desa Kali Ngara bahkan diseluruh kabupaten SBD, apabila Pemerintah Desa ikut mencegah stunting” tuturnya.

Baca Juga :   Wagub NTT Tanam Jagung Panen Sapi di Kodi

Sekdis PMD ini menjelaskan stunting adalah penyakit pada fisik maupun otak yang menyerang balita di umur 1000 hari pertama kehidupan. Sehingga menjadi tugas bersama pemerintah bersama masyarakat dalam memperhatikan kesehatan ibu dann anak.

Lebih lanjut Lodo menegaskan Konseling Gizi Terpadu dan makanan seimbang, perlindungan sosial Desa serta pola hidup sehat merupakan hal terpenting lain yang harus diperhatikan, PAUD dan Posyandu tidak boleh terpisah dan desa wajib memasukan stunting dalam RKPDes.

“Pemerintah desa harus mempunyai data yag lengkap tentang pasangan usia subur, bicara stunting nanti mengarah ke disabiitas sehingga kita harus mencegahnya secara dini sehingga tidak sampai pada disabilitas”katanya lagi.

Edy Nganggo dari Bappeda dalam materinya menjelaskan pentingnya perencanaan pembangunan desa dalam ikut mencegah stunting. Perencanaan partisipatif harus dipraktekan di desa sehingga bisa menngakomodir semua apa yang menjadi kebutuhan mayarakat desa.

Keberhasilan pembangunan juga diukur dari keterlibatan masyarakat dalam perencanaan. Untuk masalah stunting menjadi rencana kita yang perlu dipikirkan kedepan sesuai dengan Permendesa No. 16 Tahun 2018 tentang prioritas penggunaan dana desa tahun 2019. Perencanaan harus berjalan secara bersama-sama dan adanya keterkaitan setiap rencana. Perencanaan harus melibatkan semua orang. termasuk perempuan dan disabilitas.

Dirinya juga mengkritisi masyarakat yang tidak menjaga aset umum seperti pipa air yang diupayakan oleh pihak-pihak lain selain pemerintah.

“Orang Sumba belum melihat air sebagai kebutuhan pokok, air asih menjadi permasalahan di SBD, masyarakat belum mempunyai kesadaran untuk menjaga atau merawat bantuan-bantuan yang sudah pernah diberikan oleh Pemerintah maupun pihak lain” tuturnya.  

Edy juga menegaskan stunting merupakan program nasional yang harus diperangi secara bersama-sama.  Stunting bukan tanggung jawab Dinkes saja tetapi tanggung jawab bersama semua OPD, pemerintah desa dan masyarakat.

Baca Juga :   KAPOLSEK LOURA SOSIALISASIKAN KAMPUNG TANGGUH PASOLA

“Porsi Dinkes dalam masaah stunting hanya 30% saja, sedangkan yang  70% adalah peran dari OPD lainnya dan juga masyaakat” katanya.

David Padaka dari Dinas Kesehatan yang membawakan materi terakhirnya menegaskan pada pola hidup sehat dan makanan yang sehat. Pola hidup bersih dan makanan bergizi sangat penting dalam upaya mencegah stunting.

“Hidup sehat dengan memperhatikan kebersihan dan mengkonsumsi makanan bergizi khususnya bagi ibu hamil, menyusui dan balita sangat penting. Makanan sehat ada disekitar kita, mari kita utamakan pangan lokal yang sehat dan bergizi” tutupnya. *****

Liputan: Octa Dapa Talu,-