NASIB MEDIA LOKAL YANG MENJADI PENONTON DI RUMAHNYA SENDIRI

Tambolaka-SJ…….. Media lokal yang berada di Sumba khususnya di kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menjadi penonton di daerahnya sendiri, bagaimana tidak dari waktu ke waktu, tahun ke tahun media lokal baik media cetak, media online dan Radio Fox Mundi hanya menjadi pelengkap bagi kehadiran media di SBD.

Ironisnya pada saat-saat tertentu misalnya dalam kancah politik baik itu Pemilu  Kepala Daerah dan Pemilu Legislatif, media lokallah yang menjadi corong utama untuk menyampaikan informasi-informasi ke publik. Demikian halnya dengan wabah corona virus disease 2019 saat ini, masyarakat lebih yakin dan mempercayai media lokal sebagai penyambung lidah pemerintah dalam menyampaikan informasi-informasi.

Kenapa demikian, apakah media lokal mempunyai kemampuan lebih?  apakah media lokal mempunyai dana besar untuk sosialisasi dan promosi ? Jawabannya tidak, justru media lokal masih mempunyai banyak kekurangan yang harus dibenahi, media lokal masih membutuhkan bimbingan dan edukasi dari Pemerintah Daerah untuk menjadikannya setara dengan media besar, atau paling tidak mendekati kata setara. Lalu apa yang menjadi penyebab begitu besar kepercayaan publik Sumba pada media lokal, jawabannya hanya satu media lokal adalah milik putra-putri daerah ini, media lokal diisi oleh wartawan-wartawan dari Sumba sendiri yang diyakini tidak akan membuat berita hoax, karena bukan saja menipu masyarakat Sumba tetapi juga akan menipu dirinya sendiri.

Misalnya dalam pemberitaan wabah covid-19 saat ini, media lokal akan menyampaikan informasi yang benar dari Pemerintah ke publik dan keluhan-keluhan masyarakat agar diketahui oleh badan publik, karena jika wabah covid-19 ini sudah merebak di SBD bahkan seluruh Sumba media lokal itu sendiri juga akan menjadi korban.

Tetapi sayangnya hingga saat ini tidak ada satupun media lokal yang diakomodir oleh Pemda untuk menjadi mitra sekaligus alat transformasi paradigma masyarakat bahkan edukasi bagi masyarakat Sumba umumnya dan SBD khususnya yang masih rendah minat bacanya.

Baca Juga :   Kementrian PU dan Perumahan Rakyat RI Lakukan Survei Lokasi Potensi Air Bawah Tanah di Sumba Tengah

Seperti yang dialami oleh media-media lokal SBD yang dari waktu ke waktu, tahun ke tahun hanya mendapat janji-janji untuk di akomodir, kenyataannya hingga saat ini masih banyak alsan dan kendala yang harus diterima.

Seperti yang diungkapkan oleh Kabag Humas dan Protokol SBD, Bonefasius Wungo, arahan dari Kominfo Pusat media online tidak bisa bekerja sama dengan Pemda kecuali media cetak, televisi dan radio.

“Sesuai petunjuk dari Jakarta dan Permendagri No 90 tahun 2019, media online tidak bisa bekerja sama dengan Pemda. Masalah ini dikemballikan ke Pemda masing-masing” ungkapnya pada Suara Jarmas Sabtu (16/05/20) di rumahnya jalan Rangga Roko Indah Kelurahan Langga Lero Kecamatan Kpota Tambolaka SBD.

Sebelumnya diperoleh informasi dari salah satu Kabag Humas yang lama yang sudah dipindahkan ke Dinas lain, bahwa Bagian Humas tahun 2019 sudah mengajukan 3 media cetak dan 3 media online DPA tahun 2020 untuk SBD. Ke 3 media online tersebut adalah media online lokal yang ada di SBD.

Yang menjadi pertanyaan apakah masalah ini sudah pernah disampaikan ke Bupati SBD sebagai penentu kebijakan, tidak, karena hal-hal teknis yang kecil seperti ini tidak harus membebani pikiran Bupati dan Wakil Bupati SBD yang harus memikirkan program pembangunan SBD apalagi saat ini wabah covid-19 sedang melanda Sumba bahkan Indonesia dan dunia secara umum.

Kepedulian dari bawahan Bupati dan Wakil Bupati dalam melihat masalah ini yang harus mempunyai inisiatif dan niat tulus mendukung program kerja Bupati demi mewujudkan tanah loda waimaringi pada wemalala, bukannya anggaran yang sudah ada di daerah dikembalikan lagi ke pusat maupun provinsi dengan memakai media luar Sumba.

Seperti yang disampaikan oleh D. Dama anggota DPRD Provinsi NTT asal Sumba, bahwa Pemda seharusnya memperhatikan keberlanjutan media lokal di Sumba, karena mereka juga merupakan masyarakat Sumba yang harus mendapat perhatian.

Baca Juga :   Polres Sumba Barat Bekuk 3 Pelaku Pencurian Dengan Kekerasan

“Pemda  seharusnya memperhatikan media lokal Sumba karena mereka juga adalah bagian dari masyarakat Sumba itu sendiri, harus ada keseimbangan antara media di Sumba dan luar Sumba, karena mereka juga merupakan masyarakat kita” ungkap D. Dama.

Lebih lanjut D’ Dama menjelaskan program 7 jembatan emas akan lebih tepat dengan menggunakan media lokal sehingga masyarakat di desa-desa bisa mengikuti perkembangan pembangunan SBD dan merekapun bisa menyampaikan saran-saran dan keluhan serta kendala yang dihadapinya apalagi dana desa yang dikelola saat ini besar sekali.

“Saya yakin wartawan lokallah yang bisa masuk keluar desa untuk ikut memantau perkembangan di desa sehingga Bupati mendapat masukan yang benar dari desa. Janganlah media lokal menjadi penonton di rumahnya sendiri” tutupnya.- ***** (OC$),-