Musrenbang Desa Mali Iha Libatkan Kaum Disabilitas

Peserta Musrenbang Desa Mali Iha Paulina Kaka (ketiga dari kanan) didampingi Maiana N Ngara (CIS Timor) dan Marthen Rawang dari Weyk GKS Mata(kanan)

Kodi-SJ ……………… Saat ini desa-desa yang ada di kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) disibukan dengan pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Selasa (28-10-2020) kantor desa Mali Iha Kecamatan Kodi Kabupaten SBD dipenuhi oleh perwakilan masyarakat dari 3 dusun, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, Pemuda, Babinkamtibmas, Babinsa, BPD, LPM, PKK, LSM, Puskesmas, Pemerintah Kecamatan, Pendamping Desa (PD), Pendamping Lokal Desa (PLD) tampak serius dalam menyepakati usulan-usulan masyarakat dari tiap dusun.

Kepala Desa Mali Iha Yulius Yiango Rendi yang membuka kegiatan dalam sambutan pembukaannya mengatakan apa yang menjadi usulan-usulan yang akan ditetapkan dalam musrenbangdes kali  ini adalah usulan-usulan yang sudah dirangkum hasil Musyawarah Dusun dan Musyawarah Desa.

“Apa yang menjadi kebutuhan di masyarakat yang menjadi prioritas, masyarakat yang mengetahuinya sendiri, sehingga saat ini kita menentukan yang menjadi prioritas utama” ungkapnya.

Kepala Desa Mali Iha Yulius Y. Rendi saat membuka kegiatan Musrenbangdes

Lebih lanjut Yulius juga menegaskan bahwa proses Musrenbangdesa saat ini melibatkan semua stake holder yang ada, bahkan anggota DPRD asal Kodi (dapil IV) diundang, tetapi mungkin karena kesibukan tidak ada yang hadir pada saat ini.

Perwakilan Pemerintah Kecamatan Vitus Kaleka, SH dalam sambutan pembukaannya mengatakan pelaksanaan Musrenbangdes ini agar mengacu pada  UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa. Dijelaskannya desa yang memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan UUD ’45 perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri dan demokratis.

Baca Juga :   DESA LOLO OLE GELAR PELATIHAN PEMBUATAN KLOSET
Vitus Kaleka, SH perwakilan kecamatan Kodi saat memberikan arahan dalam pelaksanaan Musrenbangdes Mali Iha

“Segala keputusan yang merupakan kesepakatan bersama hari ini akan menentukan rencana pembangunan desa kedepan” tuturnya.

Vitus menjelaskan keputusan atau kebijakan yang diambil dalam Musrenbang agar melibatkan semua stake holder dan mengakmomodir usulan-usulan dari tiap dusun dan hasil Musyawarah Desa. Dirinya juga berharap agar desa bisa mandiri mengingat desa mempunyai 4 peluru yaitu perencanaan, pemerintahan, kesejahteraan dan keuangan.

Dalam kesempatan yang sama ketua BPD Anita Dimu berpesan agar hasil musrenbangdus dan musdes bulan 22 Oktober 2019 yang lalu menjadi acuan dalam menghasilkan musrenbang kali ini. Dirinya berharap agar koordinasi dan kerjasama  antara semua pihak dalam desa diperhatikan.

“Penyusunan RKPDes, APBDes dan LPJ agar kita selalu bersama-sama, jadi hars melibarkan semua stake holder. Tujuanya agar pembangunan desa menjadi lebih baik kedepannya” ujarnya.  .

Ketua BPD Mali Iha, Anita Dimu saat memberikan masukan dan catatan-catatan khusus bagi Pemdes Mali Iha

Sekdis PMD SBD, Lodowaik L. Raya, S.IP yang turut hadir dalam musrenbangdes kali mengingatkan musrenbang agar memutuskan apa yang jadi usulan masyarakat untuk diarahkan ke APBDes, APBD dan APBN. Usulan-usulan tersebut harus dianalisis, pemdes harus melakukan pengayaan, sehingga dapat mengakomodir apa yang menjadi kebutuhan masyarakat desa Mali Iha yang terdiri atas 3 dusun.

“Seorang pemimpin harus mampu membaca dan melihat apa yang menjadi kebutuhan masyarakat yang mempunyai dampak jangka panjang, bukan hanya memenuhi kebutahan masyarakat pada saat itu saja, tetapi kebutuhan masyarakat desa untuk jangka panjang” ungkapnya.

Sekretaris PMD Lodowaik L. Raya, S.IP saat memberikan arahan dalam musrenbangdesa Mali Iha

Lodo L. Raya juga menyarankan masalah stunting merupakan isu nasional yang harus diperhatikan mengingat NTT daerah stunting tertinggi di Indonesia. Pola hidup sehat dan bersih juga agar menjadi prioritas guna mewujudkan desa yang sehat. Penangan stunting yang sangat penting adalah pada 1000 hari kehidupan manusia yang dimulai dari ibu hamil dan bayinya.

Baca Juga :   BIMAS POLSEK LOLI PANTAU PELAKSANAAN VAKSINASI

“Masalah WC sehat dan ketersediaan air bersih merupakan masalah yang cukup mendesak untuk masyarakat desa saat ini.  Untuk desa Mali Iha dari 800an KK baru 300an yag menggunakan WC sehat” tuturnya lebih jauh.

Masalah kesehatan lain yang tidak kalah pentingnya adalah masalah HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya. Selain sudah memperhatikan gizi serta pola hidup yang sehat, usulan-usulan tersebut harus mempunyai dampak yang baik untuk desa Mali Iha kedepannya.

“Sesuai arahan Presiden Jokowidodo agar desa juga agar memperhatikan kaum disabilitas. Mereka yang berkebutuhan khusus agar diperhatikan dan diberdayakan oleh desa agar mereka bisa mandiri” pinta Lodo.

Hal senada diungkapkan oleh Mariana Noda Ngara konsultan  CIS Timor yang sedang mendampingi desa Mali Iha untuk program pembangunan ekonomi inklusi berkelanjutan. Dirinya mengatakan bahwa kaum disabilitas di Mali Iha mempunyai potensi yang bagus apabila diakomodir dalam Musrenbangdesa kali ini.

“Mereka  mempunyai keahlian yang apabila ditunjang oleh desa dengan menyiapkan fasilitasnya akan memberdayakan mereka dan tidak harus bergantung pada orang lain lagi” tutur Mariana.

Lebih lanjut Mariana menjelaskan dalam perayaan hari Disabilitas bulan desember yang lalu, Pemda dan Dekranasda SBD sudah memberikan perhatian pada disabilitas sehingga desa tinggal menunjukan dukungannya untuk memfasilitasi kegiatan-kegiatan mereka.

“Untuk hasil tenunan dan anyaman disabilitas ibu ketua Dekranasda Margaretha Tatik Mete sudah berjanji akan membeli semua karya-karya kaum disabilitas, jadi desa harus memperhatikan ini agar menjadikan saudara-saudari kita yang disabilitas menjadi mandiri” tutupnya. *****

Liputan: Octav Dapa Talu,-