Marcus Tullius Cicero (106-43 SM), seorang negarawan, ahli hukum, ilmuwan dan penulis kondang Romawi, mengatakan: “Sejarah adalah saksi zaman, cahaya kebenaran, kenangan akan hidup, guru kehidupan dan pesan dari masa lalu”. Dengan ini menjadi jelas bahwa sejarah bukan sekedar sebuah peristiwa yang berjalan dalam peredaran waktu, tetapi selalu mengandung aneka makna kehidupan. Sejarah adalah sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia (Homo historia). Maka benarlah kata Abraham Lincoln (1809-1865), Presiden ke-16 AS, “One can not escape from history” orang tidak dapat menghindar dari sejarah”.

Merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-75 tahun 2020 adalah saat yang tepat untuk merenungkan kembali sejarah kemerdekaan bangsa kita. Soekarno-Hatta “The Founding Fathers kita” hanya mempunyai satu harapan agar rakyat dan generasi muda bangsa ini memiliki kesadaran pokok, bahwa negara dan bangsa ini terbentuk karena adanya “keinginan keras untuk bersatu”, walaupun berbeda-beda dalam banyak hal (Bhinneka Tunggal Ika). Bagi Soekarno-Hatta, keinginan keras untuk bersatu itulah yang menumbuhkan semangat nasionalisme sebagai bangsa berdaulat.
Lalu apa yang terjadi sekarang ini setelah negara kita merdeka 75 tahun? “Keindonesiaan” kita masih jauh dari harapan The Founding Fathers kita. Hembusan angin perpecahan sudah mulai terasa melalui sikap intoleransi dan radikalisme, adanya fanatisme agama dan ras yang sempit, ego politik, ego sektoral, pengabaian kepentingan dan pelayanan umum, dan lain sebagainya. Itulah yang membuat Indonesia saat ini selalu berada dalam situasi “kegaduhan”.
Mungkin kita perlu mengingat kembali pesan Bung Karno, sambil mengutip pendapat Ernes Renan ((1823-1892) seorang filsuf, sejarawan dan professor dari Universitas Sorbonne-Prancis, bahwa “terbentuknya sebuah negara dan bangsa pertama-tama bukan karena ras, bahasa, agama, persamaan kebutuhan, atau batas-batas negeri – tetapi karena komiment bersama untuk bersatu sebagai bangsa”. Jika kita tidak bersatu sebagai bangsa, maka apalah artinya sebuah nasionalisme ?
Untuk Sumba Barat Daya tercinta ini, apa yang harus kita lakukan untuk bertumbuh dan berkembang maju? Hanya ada satu kata “Bersatu…bersatu…dan bersatu“. Hilangkan ego kesukuan dan agama dan lihatlah perbedaan itu sebagai kekuatan untuk membangun SBD, bukan sebagai ancaman dan halangan. Hilangkan ego sektoral dalam pemerintahan agar para birokrat memiliki fokus, semangat dan orientasi yang sama dalam membangun SBD. Para tokoh politik dan birokrat jangan hanya mencari kedudukan dan uang, tetapi berpikirlah bagaimana mencari solusi terhadap masalah kehidupan yang dihadapi oleh masyarakat SBD. Para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat harus punya “suara kenabian” terhadap berbagai pelanggaran hukum dan etik yang terterjadi dalam wilayah SBD ini.
Jangan lupa sejarah.. bahwa dibalik berdirinya Kabupaten SBD ini ada pesan penting dari para penggagas dan perintis bahwa masyarakat dan generasi SBD harus bersatu…bersatu…dan bersatu… MERDEKA!!! SALAM INSPIRASI… (Rm. John Kotasando, Pr),-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
