Tambolaka-SJ……… Masyarakat Wekelo khususnya Sumba Barat Daya (SBD) umumnya dikagetkan dengan adanya penemuan ikan paus yang mati di perairan Weekelo (Laut Sawu) Desa Radamata Kecamatan Kota Tambolaka Kabupaten SBD Nusa Tenggara Timur, Minggu (10/10/21) pagi.

Kanit Pol Air Weekelo Polres SBD, Aipda M. Ali Akbar kepada media ini Senin (11/10/21) menuturkan kronologis ditemukannya ikan paus yang sudah mati di tengah laut Weekelo oleh pegawai Dinas Perikanan SBD, Muhammad.
Kepada Kanit Pol Air, Muhammad menanyakan apakah bangkai ikan paus tersebut ditinggal di tengah laut atau ditarik ke darat. Kanit Pol Air Aipda Ali Akbar minta agar ditaik ke darat.

“Jadi ikan itu dia bukan terdampar di pelabuhan Weekelo, tetapi ditarik oleh oleh salah satu kru Dinas Perikanan, Muhammad dari tengah laut ke darat ke pinggir pantai weekelo” ungkap Ali Akbar.
Dirinya menjelaskan setelah ikan paus sampai di darat, Dinas Perikanan SBD segera mengambil sikap dengan meminta bantuan grand kapal untuk mengangkutnya. Informasi terakhir yang saya peroleh, Muhammad dengan kawan-kawan sudah mengubur bangkai ikan paus tersebut secara baik-baik di pingir pantai.
“Ditemukan pertama itu sekitar jam 6 pagi, tapi ikan itu bukan matinya kemarin, dia sudah dalam proses pembusukan, diperkirakan sudah beberapa hari yang lalu ikannya mati, karena ekornya sudah mulai hancur” jelas Ali Akbar pada media ini.

Sementara itu Kadis Peternakan, drh. Oktavianus Dapadeda yang juga turun di lokasi melihat langsung bangkai ikan paus tersebut mengatakan awal mulanya ia mengetahuinya melalui media sosial. Sehingga dirinya langsung menuju pantai Weekelo bersama istri dan anak-anaknya untuk melihat lebih dekat kondisi dari ikan paus tersebut.
Setelah tiba di Weekelo, diirinya sudah mendapati Kabid Perikanan dan mantan Kabid Perikanan tangkap SBD yang saat ini menjadi camat Wewewa Tengah dan kemudian datang tim konservasi laut Sawu dari Waingapu.
“Saya diminta juga oleh mereka kemarin untuk memberikan semacam pemeriksan awal terkait pemeriksaan fisik. Sebenarnya yang mau dihubungi dokter hewan karantina, tapi karena tidak ada saya yang diminta tolong” ungkap Kadis Pertenakan Oktavianus di ruang kerjanya Senin (11/10/21).

Drinya menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan secara fisik, panjang badannya 6 meter 80, kalau dibandingkan dari kondisi badannya masih kategori anaknya. Dari hasil pemeriksaan hasil fisiknya kemarin banyak sekali trauma, banyak tusukan tombak.
“Ikan Paus kulitnya keras sekali, jadi kalau tidak tepat di bagian yang lembek, tombak itu sulit sekali masuk, kalaupun masuk paling 2 atau 3 cm. Tetapi kemarin itu banyak sekali tusukan tombak. Hanya memang saya lihat ada bekas tombak di kedua matanya” jelasnya.
Oktavianus menambahkan untuk menaklukan seekor ikan paus, kalau bukan di saluran pencernaan yang ditusuk cara lainnya di matanya agar bisa masuk lebih dalam. Tapi anak ikan paus itu selamat, mungkin karena kedua matanya sudah tertusuk tombak, dia tidak bisa beraktifitas untuk bertahan hidup sudah terbatas.

Dari hasil pemeriksaan kemarin kita juga menemukan beberapa trauma hasil benturan, saya kurang tahu apakah benturan itu ditabrak oleh kapal atau sejenisnya tapi yang jelas ada trauma di kedua siripnya dan daerah frontal di kepala itu juga bekas trauma kemudian sisi kiri badannya itu ada bekas trauma hematom yang kemudian yang terlihat masih dengan hemoragis yang cukup besar kemungkinan memang ada trauma ketika masih hidup kalau dilihat dari trauma itu terjadi setelah gesekan beda.
“Kesimpulan saya sementara tanpa mendahului hasil pemeriksaan laboratorium, saya menduga ikan itu mati karena trauma, dan matinya kurang lebih sudah 4 hari yang lalu” ungkap drh. Oktavianus Dapadeda.

Lebih lanjut Oktavianus mengatakan untuk menunggu hasil pemeriksaan pathology anatomy berdasarkan permintaan dari balai konservasi sumber daya laut yang diminta untuk mengambil ambil organ luarnya yaitu siripnya sama beberapa daging punggungnya untuk dilakukan pemeriksaan pathology anatomy untuk mengetahui penyebab kematiannya apakah karena penyakit atau trauma.
Dirinya juga menepis adanya dugaan masyarakat bahwa matinya ikan paus ini sebagai tanda-tanda alam akan adanya bencana atau wabah. Karena kalau ikan paus ini termasuk hewan liar jika berada di darat dan jarang ditemui oleh manusia.
“Sumba inikan termasuk laut sawu mulai dari ujung timur Pulau Sumba sampai ke Tanjung Kroso itu masuk dalam kawasan Laut Sawu, kawasan konservasi Laut Sawu merupakan salah satu jalur migrasi ikan paus. Setiap tahun sekali ikan paus bermigrasi dari perairan Australia menuju laut Sawu” pungkasnya. *** (Octa/002-21).-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
