GURU AGAMA PELAYAN SABDA ALLAH

Pembentukan karakter anak usia dini di era digitalisa tidak semudah membalikan telapak tangan, ibarat sulit seperti membalik telapak kaki. Itu semua membutuhkan suatu proses panjang, butuh waktu ekstra dan pengabdian yang tulus.

Pembentukan kerakter anak usia dini melalui salah satu proses yang sistimatis yaitu melalui pendidikan formal (di sekolah). Sekolah merupakan tempat kerakter anak dibina-dibena secara sistimatis. Salah satunya melalui pendidikan agama.

Menurut Moa, pendidikan agama merupakan salah satu pilar pendidikan karakter yang paling utama. Pendidikan karakter akan tumbuh dengan baik jika dimulai dari tertanamnya jiwa keberagaman pada anak, materi pendidikan agama di sekolah menjadi salah satu penunjang pendidikan karakter.

Sambung Moa, melalui pembelajaran pendidikan agama,  siswa diajarkan imannya sebagai dasar keagamaannya, diajarkan kitab suci sebagai pedoman hidupnya, diajarkan ilmu hukum sebagai rambu-hukum dalam beribadah, kengajarkan sejarah agama sebagai sebuah keteladanan hidup, dan mengajarkan akhlak mulia sebagai pedoman prilaku manusia apakah dalam kategori baik ataupun buruk.

Oleh sabab itu menurut Moa, tujuan utama dari pembelajaran pendidikan agama adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut Moa berkata, panggilan guru agama selalu melekat pada pribadinya sampai dia berada kubur mati (kalau orang hidup lewat masih menyapa, ni kuburnya guru agama), maka yang disandang sebagai guru agama harus bangga.

Guru agama tidak sama dengan guru Mapel lain. Contoh, misalnya: kalau anak maki, curi, melawan, malas beribadah, (kategori yang buruk), dan selalu publik bertanya, bukan guru mapel lain, melainkan dengan nada yang lantang” SIAPAKAH GURU AGAMAMU di sekolah. Kadang-kadang juga keluar kata-kata cemoohan.

Baca Juga :   PENTINGNYA KOLABORASI PEMERINTAH DAN MASYARAKAT DALAM MEMERANGI PENYEBARAN COVID-19 DI KONAWE.

Tapi kalau anak pintar berkelakuan baik, semua pihak mulai pukul dada, itu baru anak saya. Ya…bagitulah.. Memang  guru agama, mau mundur salah, mau maju di olok, jadinya serba salah. Tapi, demi dan untuk insan pendidikan sebagai citra Allah, Moa usul mari kita terima dengan dada (di dalam dada ada hati), dan dalam memproses pembentukan karakter anak berpedomanlah pada semboyan Kihajar Dewantara: Ing Ngarso Santulodo, Ing Madya mangukarso, Tut wuri handayani (berada di depan, di tengah dan di belakang). Memang semboyan ini berat untuk kita aktualisasikan.

Tugas guru agama Katolik di dalam Gereja adalah sangat jelas yaitu menyampaikan ajaran iman bersama-sama dengan para petugas mengajar yang lainnya. Secara khusus pengajaran iman itu disampaikan kepada anak-anak peserta didik di sekolah-sekolah. Sehingga guru agama Katolik itu disebut pendidik. Kalau mendidik kita mengerti sebagai edukasi, maka tugas guru agama Katolik ialah membimbing anak-anak untuk keluar dari pengaruh kuasa dosa menuju keselamatan. Di bidang iman anak-anak harus dibantu untuk memahami misteri iman atau rahasia kehendak Allah.

Kita berjuang semampu kita, selebihnya urusan Tuhan. Ingat kita punya guru model yaitu Sang Guru Ilahi, Yesus Kristus. Bersinoda dengan Yesus, kita tuntaskan karakter siswa yang belum tahu CALISTUNG. ***  [PM]