Dongkrak Eksport UKM Dengan Penerapan Standrarisasi Produk

Kadis Perdagangan Yustinus B. Kandi,S.Sos, saat membuka kegiatan

Tambolaka – SJ ……………Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan eksport  di Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya sektor non migas daerah serta salah satu langkah strategis yang ditempuh pemerintah dalam mendukung peningkatan akses perdagangan luar negeri, pemerintah provinsi NTT melalui  Dinas Perdagangan provinsi NTT  mengadakan pelatihan standarisasi produk orientasi ekspor di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) bagi para eksportir dan UKM potensial khususnya yang bergerak di sektor pengolahan hasil perikanan dan kelautan agar dapat diterima dan bersaing  dengan produk sejenis di luar negeri.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sebanyak 20 orang pelaku usaha dari eksportir dan UKM pengolahan hasil perikanan dan kelautan di SBD dengan narasumber dari  Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri (Dinas Perdagangan Provinsi NTT), Kepala  Balai Pengawas Obat Dan Makanan  (BPOM) NTT, dan Kepala Seksi Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai Kupang sebagai praktisi dan pelaku ekspor. Kegiatan tersebut  dilaksanakan selama dua hari yaitu dari tanggal 22 s/d 23 November di aula hotel Sinar Tambolaka, SBD.

Dalam sambutanya Kepala Dinas  Yustinus B. Kandi,S.Sos mengatakan bahwa kegiatan tersebut guna mendongkrak eksport produk UKM melalui penerapan standarisasi produk dan sistem manajemen mutu serta kehalalan produk. Menurutnya upaya yang dilakukan oleh pemerintah provinsi tersebut sangat relevan bagi UKM yang ada di daerah khususnya kabupaten SBD terutama dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekomnomi Asean (MEA) sejak tahun 2015 lalu.

“Hal yang kita perlukan untuk mendongkrak eksport UKM adalah dengan meningkatkan dan memperkuat daya saing UKM yaitu salah satunya adalah dengan menerapkan standarisasi produk, sistem manajemen mutu, dan kehalalan produk dan ini menurut saya sangat relevan khususnya kita disini yang sampai saat ini masih menghadapi masalah daya saing terutama dalam menghadapi MEA” katanya.

Baca Juga :   PEMDA SBD AKAN BERI BANTUAN 1 MILYAR 80 JUTA BAGI PEMBANGUNAN KAMPUNG ADAT WAINYAPU

Selain itu Yustinus juga mengatakan bahwa pelatihan tersebut perlu dilakukan karena masih rendahnya kesadaran pelaku UKM terhadap manfaat penerapan standarisasi produk dan sebagian besar para pelaku UKM juga belum paham tentang prosedur dan pengurusan standarisasi.

“Selama ini kemasan produk itu masih diserahkan di pengusaha yang kemudian dikirim ke surabaya sampai sana baru mereka yang kemas untuk kirim ke luar negeri contoh kemiri, jambu mete dll. Karena memang kita disini kesadaran pelaku UKM itu masih sangat rendah dan kebanyakan mereka belum  tau bagaimana cara pengurusan standarisasi tersebut, bahkan banyak yang menganggap prosedur pengurusan sertifikasi sangat rumit dan mahal. Untuk itu dengan pelatihan ini diharapkan dapat mempersiapkan dan meningkatkan pengetahuan para pelaku UKM di daerah dengan implementasi kebijakan dan regulasi di bidang eksport, tata cara dan prosedur dalam melakukan eksportasi barang kepasar tujuan eksport dan meningkatkan daya saing dan akses pasar produk eksport”ungkapnya.

Sementara itu Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Pada Dinas Perdagangan Provinsi NTT Wempy Bate Nede, S.T.P kepada media ini mengungkapkan bahwa produk yang di eksport harus memiliki kualitas sehingga para pelaku UKM yang mau mengirimkan produk ke luar negeri harus sesuai sertifikasi.

“Produk yang akan dikirim atau di eksport ini harus memiliki kualitas dan memiliki standart seperti contoh komudity kelautan dan perikanan jika kita akan mengirimkan produk ke luar negeri misalnya, harus memiliki sertifikat kelayakan dan pengolahan. Untuk mengurus  tentu ada kreteria dan persyaratan yang harus dilengkapi dan ini ada tim khusus yang menanganinya”jelasnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa kegiatan ini guna bagaimana menghadapi perkembangan perdagangan global yang semakin luas dan kompleks dengan semakin membanjirnya produk-produk impor yang beredar di pasaran nasional bahkan lokal.

Baca Juga :   KOREM 161/WS GELAR COFFEE MORNING DENGAN INSAN PERS DI SUMBA BARAT

“Sebenarnya kegiatan kita hari ini kita mau menyampaikan bagaimana kesiapan kita terutama para pelaku usaha dalam mengahadapi masyarakat ekonomi asean bahwa sekarang banyak produk impor yang semakin membanjiri pasar nasional bahkan lokal, sehingga kita dorong para pelaku usaha agar  produk dalam negeri mampu berdaya saing dalam memperkuat stabilitas ekonomi daerah dan nasional. Selain itu para pelaku ekonomi juga harus proaktif dan tanggap terhadap perkembangan informasi dan permintaan pasar global yang senantiasa mengalami perubahan”ucapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kasie Penindakan dan Penyidikan Bea dan Cukai Kupang Abdi Yantono bahwa pihaknya siap mendorong dan memfasilitasi para pelaku UKM dalam pengurusan  dokumen  untuk eksport produk.

“Sebenarnya dalam mengurus dokumen itu tidak susah yang perlu dipahami itu adalah bagaimana mengajukan dokumen pengajuan barang eksport yang biasa disebut dengan dokumen PEB (Pemberitahuan Eksport Barang) yang berisi Data Eksportir, Data penerima barang, Sarana pengangkut, Negara tujuan dan Detil barang. Setelah PEB diajukan ke kantor Bea dan Cukai maka akan diberikan persetujuan eksport dan barang bisa dikirim ke pelabuhan yang selanjutnya bisa dimuat ke kapal atau sarana pengangkut menuju negara tujuan. Nah itu yang kita ingin dorong dan kita bantu dalam kegiatan ini bagaimana nantinya tata cara kepengurusan dokumen dan nanti kita juga akan bantu dengan modul, sehingga bisa mudah dipahami oleh para pelaku UKM” ucap Abdi menjelaskan.

Kabid Perdagangan Luar Negeri NTT Wempy Bate NEde (kiri) dan Ketua KSU Air Hidup m Soleman Wola Mawo

Terpisah salah satu peserta kegiatan yaitu Ketua KSU Air Hidup Soleman W. Mawo saat diwawancarai  media ini mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini  sangat bagus sekali karena dapat memotivasi para pelaku usaha yang ada di SBD agar produk-produk yang ada bisa di eksport sampai ke luar negeri.

Baca Juga :   RUMAH JANDA DISERANG DAN DIRUSAK OLEH SEKELOMPOK ORANG

“Kegiatan ini sangat luar bisa sekali karena dapat memotivasi kami kelompok-kelompok atau para pelaku usaha yang ada di SBD bahwa produk yang dihasilkan baik itu produk olahan, kerajinan, tenun, maupun mebeller  musti berusaha agar memenuhi berbagai syarat dan tahap-tahap yang ada supaya nantinya bisa di eksport ke luar negeri”ungkap soleman. (JNL)-