WLF SELENGGARAKAN PELATIHAN PENINGKATAN KUALITAS GURU SD

Tambolaka-SJ……………. Demi meningkatkan mutu dan kualitas guru  di Sumba Barat Daya (SBD) guna menjadi pendidik yang memenuhi  kompetensi dasar dalam meningkatkan kualitas siswa Sekolah Dasar (SD) dalam pendidikan dasar yaitu calistung (baca, tulis dan berhitung), WLF (William and Lily Foundation) bekerja sama dengan PT. Kuart Internasional salah satu lembaga pendidikan di Jakarta, pada Rabu 12 September 2018 bertempat di aula hotel Sinar Tambolaka menyelenggarakan pelatihan bagi guru-guru dan pengawas SBD.

Kegiatan pelatihan ini sendiri diikuti oleh guru-guru dan pengawas dari 3 sekolah yaitu  SDN Waikelo, SDN Satap Payola Umbu dan SDN Watu Takula Kecamatan Kota SBD. Pemilihan ketiga sekolah ini merupkan pilot program dari WLF yang direncanakan programnya berjalan dalam 1 tahun ini.

Kepada media SJ, Ryan EY Peter, coordinator program WLF mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian WLF pada Sumba untuk mengangkat derajat kehidupan masyarakat Sumba dan pemberdayaan (empowerment).

“WLF adalah lembaga yang selama ini fokus dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Dan khusus untuk pendampingan pada sekolah-sekolah di SBD, WLF bekerja sama dengan Kuart salah satu lembaga pendidikan dari Jakarta yang mengkampanyekan kegiatan berbasis inquiry (memulai satu program dengan proses penyelidikan)” ungkap Ryan.

Lebih lanjut Ryan mengatakan program ini sendiri dimulai dengan memilih sekolah-sekolah untuk dijadikan pilot program (perintis program) dalam 1 tahun ini yang diharapkan dapat ditindak lanjuti kedepan demi meningkatkan dan mengangkat derajat kehidupan masyarakat Sumba dan pemberdayaan masyararakat Sumba.

Ryan EY Peter, coordinator program WLF

“Demi dan untuk mengangkat derajat masyarakat Sumba WLF bersedia melakukan apa saja, yang tentunya akan melibatkan dinas P dan K di SBD, oleh karena itu pengawas selalu hadir. Selain itu kita menggunakan konsep pemberdayaan” tutur Ryan lebih lanjut.

Baca Juga :   Sumba Integrated Development Gelar Workshop Manajemen Organisasi

Dengan berkerja sama dengan Kuart dalam satu tahun ini direncanakan akan diadakan 3 kali pelatihan, dan pelatihan kali ini merupakan yang kedua kalinya setelah bulan April yang lalu.

“Harapan kami melalui pelatihan ini supaya menghasilkan guru yang dapat mengajar dengan baik dengan keterbatasan yang ada. Dengan menggunakan metode inquiry bisa merangsang anak-anak pengen tahu, pengen belajar dengan membawakan potensi-potensi local yang ada disekitar mereka” ujarnya lebih lanjut.

Diakui juga oleh coordinator program WLF ini, bahwa sebelum pelaksanaan kegiatan pelatihan ini pihaknya terlebih dahulu melakukan assessment (penilaian) di 3 sekolah ini, dan berdasarkan temuan pihaknya  berusaha merancang materi yang pas, karena setiap daerah berbeda-beda. WLF juga sangat konsen dengan peningkatan kapasitas melalui pelatihan-pelatihan (training) dan tidak memberikan bantuan fisik, bantuan tunai. Untuk bidang pendidikan dimulai dari guru-gurunya terlebih dahulu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Saktiana Dwi Hastuti Manajer PT. Kuart International, yang jug amenjadi pelatih dalam pelatihan ini. Konsep pelatihan yang ditekankan adalah peserta dapat menerapkan pembelajaran inquiry berdasarkan   pemanfaatan bahan-bahan local.

Saktiana Dwi Hastuti Manajer PT. Kuart International yang juga trainer dalam pelatihan ini

“Disini kita temukan guru-guru sering mengeluh ga punya ini, ga punya itu, tinggal ke lapangan dan kita gunakan yang ada di lapangan itu. Inquiry itu sendiri adalah konsep dari Kurikulum 2013 (K-13), karena  K-13 menggunakan pendekatan inquiry dan scientific. Hari ini materi yang  kita  bahas adalah manajemen kelas” katanya.

Saktiana juga menegaskan bahwa penerapan K-13 di SBD masih jauh karena ketidak mengertian guru-guru yang ada di SBD khususnya. Guru-guru masih bingung cara penerapan K-13 seperti apa. Tetapi diakuinya juga guru-guru cukup bersemangat untuk menerapkannya, tetapi ada berbagai kendala yang dihadapi salah satunya adalah ketidak mengertian secara riil di lapangan untuk menerapkan.

Baca Juga :   PPA Wali Ati Harus Jadi Penggerak Bagi Anak-Anak GKS Perewatana

“Kalau hari ini pelatihannya masih manajemen kelas, tetapi besok kita akan lebih fokus ke aplikasinya, peserta akan jadi anak-anak, kami yang jadi gurunya, jadi mereka tahu contohnya persis bagaimana sih menggunakannya nanti” tutur Saktiana.

Pelatihan guru-guru ini sendiri diselenggarakan 3 hari mulai dari tanggal 12 – 14 September, sehingga diharapkan guru-guru dapat memperoleh pengetahuan yang cukup untuk diimplementasikan di sekolahnya masing-masing.

Salah satu peserta,  pengawas Kecamatan Loura, Bernardus Ngongo Naru, AMa.Pd.,

Salah satu peserta yang juga adalah pengawas Kecamatan Loura, Bernardus Ngongo Naru, AMa.Pd., kepada media mengapresiasi betul kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh WLF ini. Sebagai pengawas dirinya merasa sangat bersyukur dengan pelatihan ini karena sangat membantu para guru karena sudah digenjot, diberi motivasi dan kemudian mendapat info-info baru sesuai dengan perkembangan pendidikan jaman sekarang ini.

“Ini merupakan hal yang positif, apalagi dengan adanya perubahan kurikulum, sehingga kami juga berharap kalau boleh kegiatan ini tidak habis disini saja, tetapi ada kelanjutannya kedepan” katanya.

Lebih lanjut Bernardus mengatakan dengan keberlanjutan kegiatan pelatihan seperti ini guru-guru dapat termotivasi dan harapannya agar penyelenggara juga turun ke sekolah untuk memperhatikan, mengamati apakah yang sudah diperoleh melalui pelatihan ini ditindak lanjuti atau tidak oleh guru-guru tersebut.

“kita tidak menilai guru itu bodok atau tidak, hanya kadang kala sebagai manusia  banyak hal sebagai tantangan-tantangan yang berdampak pada guru tersebut menyepelekan tugas pokoknya sebagai guru. Dengan adanya motivasi dari WLF ini, kita harapkan guru-guru kembali memahami fungsinya sebagai tenaga pendidik yang harus mencerdaskan anak-anak bangsa ini” tuturnya lebih lanjut.

Kepala sekolah SDN Waikelo, Elisabeth Loru Ngongo, S.Pd juga mengungkapkan hal yang sama, karena dengan adanya pelatihan ini dapat membantu membuka wawasannya sebagai guru, melalui pelatihan ini juga guru-guru dapat melihat kekurangan-kekurangan mereka selama ini khususnya mengenai pendidikan  anak yang baik.

Baca Juga :   ‚ÄčPendidikan di Sumba Timur Ada di peringkat ke-5 di NTT

“Melalui pelatihan seperti ini, kami merasa perlu tahu, perlu mencontohi, perlu meniru sesuatu yang baik itu untuk kami terapkan pada anak-anak kami, karena pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan sekarang ini tidak sama dengan waktu-waktu lalu, semoga bisa menghasilkan guru-guru yang profesional” ungkapnya.

Dirinya juga mempunyai harapan sesuai dengan perkembangan jaman yang lebih maju dan lebih canggih   seperti sekarang ini, sehingga kedepannya pihaknya dapat menerapkan pembelajaran atau pendidikan yang baik bagi anak-anak didiknya, sehingga anak-anak dapat belajar secara enjoy bukan karena dipaksakan.

“anak-anak sudah bisa punya kesadaran dan kemauan untuk belajar, karena mereka tahu manfaat dari belajar demi masa depan mereka juga” ujarnya.

Pantauan media pelaksana pelatihan ini berjalan cukup serius dan penuh perhatian dari semua peserta baik guru-guru maupun pengawas. Hingga berita ini diturunkan kegiatan pelatihan masih terus berlanjut yang juga disertai dengan diskusi dan simulasi langsung oleh peserta-peserta. (OC$),-