WABUP SBD APRESIASI BADAN KARANTINA PERTANIAN

Suarajarmas.com – Dalam rangka mengantisipasi penyebaran Penyakit Kuku dan Mulut (PKM) dan Luffy Skin Disease (LSD) yang menyerang Indonesia saat ini, Kemnetrian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian, lebih khusus Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang menyelenggarakan Rapat Koordinasi Pengawasan dan Penindakan serta  Building Service Excellence (membangun pelayanan prima) di Hotel Ela, Jl. Sapurata Wee Tobula, Desa Kalena Wanno Kecamatan Kota Tambolaka Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (14/3/2023).

Rapat Koordinasi dibuka dengan resmi oleh Wakil Bupati SBD, Marthen Christian Taka, S.IP., yang dihadiri oleh Staf khusus Menteri Pertanian Bidang Informasi Pembangunan Pertanian,   Yesiah Ery  Tamalagi, SE.,. Kepala badan karantina Pertanian kementerian Pertanian yang diwakili oleh pusat kepatuhan kerjasama dan informasi perkarantina, biro umum dan pengadaan badan karantina pertanian kementerian pertanian, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Kupang, jajaran Dinas Pertanian dan Peternakan se-SBD., Jajaran Kepolisian Resort dan TNI sesumba serta seluruh peserta Rakor dari berbagai wilayah di Indonesia.

(ki ke ka) Penanggung jawab Wilayah Kerja Weekelo Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, Vera Lobo, Wakil Bupati SBD, Marthen Christian Taka, dan  Kepala Balai  Karantina Pertanian Kelas I Kupang,  Yulius Umbu Hunggar 

Dalam sambutannya Wakil Bupati SBD memberi apresiasi pada kepada Kepala Badan Karantina Pertanian beserta jajaran serta komponen terkait lainnya dalam upaya menjaga pertanian di wilayah NTT khususnya SBD dari ancaman penyakit hewan dan tumbuhan.

Selain itu, mempertahankan wilayah NTT dari masuknya penyakit mulut dan kuku (PMK) dan lumping skin disease (LSD) yang mengancam peternakan sapi dan kerbau sebagai unggulan potensi wilayah dan kebanggaan masyarakat.

Turut mengawal gerakan tiga kali ekspor dan menstimulus petani-petani milenial untuk menggali potensi dan menghasilkan komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dikembangkan.

Menginisiasi kolaborasi unsur terkait dalam pentahelix sebagai bentuk sinergisitas dan komitmen mengatasi permasalahan penyakit strategis.

Baca Juga :   KODIM 1629/SBD MEDIASI SENGKETA LAHAN MASYARAKAT DENGAN PEMDA SBD

“Melalui kesempatan ini saya mengajak seluruh masyarakat komponen instansi terkait di manapun berada agar mendukung pemerintah dan bersama Badan Karantina Pertanian mempertahankan zona bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Luffy Skin Disease (LSD) demi kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan nasional” ungkapnya.

Christian Taka mengatakan Pulau Sumba dikenal sebagai gudang ternak unggulan seperti kuda sandelwood,  sapi ongol, dan kerbau oleh karena itu keunggulan komparatif ini harus terus dipertahankan sebagai suatu aset yang dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat di Sumba khususnya.

Berbagai persoalan tentunya dihadapi dalam upaya mempertahankan keunggulan ini salah satunya adalah kekhawatiran menurunnya populasi ternak unggulan tersebut disebabkan oleh adanya wabah penyakit dan tidak terkontrolnya pengeluaran lalu lintas ternak antar pulau.

Pengeluaran ternak antar pulau terbesar melalui exit point di pelabuhan Weekelo SBD dan selebihnya melalui pelabuhan Waingapu Sumba Timur. Unsur adat dan budaya Sumba juga sangat membutuhkan ternak sapi dan babi.

“Melalui kegiatan ini saya mengharapkan,  dihasilkan suatu rumusan hasil yang dapat diterapkan sehingga meningkatkan kewaspadaan kita terhadap seluruh potensi ancaman hama penyakit menular berbahaya” harapnya.

Sebelumnya Kepala Balai  Karantina Pertanian Kelas I Kupang,  Yulius Umbu Hunggar dalam sambutannya mengatakan diselenggarakannya Rapat Koordinasi di Sumba karena mempunyai daya tarik yang luar biasa, transportasi udaranya lancar.

Sumba terkenal dengan sapi ongolnya, kuda sandalwood yang perlu kita lakukan pengawasan agar tidak terkena PMK. NTT saat ini merupakan zona hijau yang tanpa kasus PMK dan LSD.

“Ada 6 sentra produksi populasi ternak besar di Indonesia, tinggal NTT yang selamat. Dampaknya ternak potong  di NTT menjadi primadona untuk seluruh penjuru tanah air” ujarnya.

Yulius menjelaskan ternak potong dari NTT sudah dikirim sampai ke Sumatera, Pekanbaru, Jakarta, Kalimantan dan Sulawesi Selatan. NTT saat ini masuk dalam kategori zona hijau (bebas historis, tanpa kasus, tanpa vaksinasi), sehingga ternak potong dari Sumba bisa di ekspor ke luar negeri.

Baca Juga :   Lima Penyebab Indonesia Sulit Memberantas Perdagangan Orang

Untuk diketahui Rapat Koordinasi Balai Karantina ini diselenggarakan selama 3 hari dengan narasumber dari Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Informasi Pembangunan Pertanian,   Yesiah Ery  Tamalagi, SE., Kasat Reskrim Polres Sumba Barat, Iptu Donatus Sare, SH.,Mh., Koordinator Kepatuhan Pusat KKIP Barantan, Karsad STP. *** (Octa/002-23).-