RS KARITAS DIDUGA MENGCOVIDKAN PASIEN MENINGGAL DUNIA

by -7,531 views

Tambolaka-SJ……….. Rumah Sakit Karitas Weetabula diduga telah mengCOVIDkan pasien yang meninggal dunia di RS Karitas  pada Sabtu (21-8-2021). Pasien YNM (59) berasal dari Lete Konda Selatan Kecamatan Loura Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Nusa Tenggara Timur.

Informasi yang berhasil dihimpun oleh media ini, menurut keluarga korban orang tuanya YNM masuk IGD pada Minggu 15 Agustus 2021 yang lalu. Pada saat dirawat bukan karena terpapar COVID, namun setelah meninggal dunia almarhum dinyatakan positif COVID-19 oleh pihak rumah sakit.

“Anehnya bagi kami adalah, kalau benar keluarga kami positif COVID-19, kenapa kami keluarga diminta untuk memandikan jenazah, padahal biasanya tim satgas COVID yang langsung mengambil alih” ujar putranya yang enggan menyebutkan namanya.

Dirinya menjelaskan setelah orang tuanya meninggal dunia keluarga diberi kesempatan oleh perawat untuk menjaga almarhum bahkan mencium orang tuanya, sementara sudah dinyatakan positif COVID.

“Dan lebih aneh lagi kami diberi kesempatan untuk cium terakhir, berarti kami keluarga yang cium dengan orang tua kami sudah pasti terpapar semua, padahal tim Satgas COVID/SBD ada menghimbau masyarakat untuk patuh pada protokol kesehatan, ada apa ini ?” katanya.

Setelah mendapat informasi akan ada pasien COVID yang meninggal dunia di RS Karitas, pihak Satgas segera melakukan tugasnya untuk melakukan pemakaman secara protokol COVID. Keluarga yang berada di Lete Konda Selatan sempat melakukan protes dan keberatan, tetapi berkat adanya pendekatan dan pemberian pemahaman yang baik oleh Camat Loura, Kapolsek Loura dan tim Satgas, akhirnya keluarga menerima untuk dimakamkan secara protokol COVID.

Usai almarhum dimakamkan secara protokol COVID pada Minggu (22/8/21) pukul 18.30 Wita, keluarga menyampaikan semua keluhan dan keberatannya pada tim Satgas, Pemerintah Kecamatan dan Polsek Loura atas kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan oleh  pihak RS Karitas Weetabula.

Salah satu keluarga almarhum mengatakan akan melakukan upaya-upaya hukum untuk mendapatkan penjelasan dari pihak RS Karitas Weetabula tersebut, karena pihaknya merasa dibohongi oleh Karitas.

Camat Loura Yengo T. Kawi yang dihubungi media via telepon pada Minggu (22/8/21) malam membenarkan adanya protes dan keberatan dari keluarga almarhum yang mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan oleh pihak RS Karitas.

Yengo menjelaskan yang disesalkan oleh pihak keluarga adalah perlakuakn dari pihak RS Karitas, bukan pada pemerintah atau tim Satgas COVID/SBD.

“Keluarga menyampaikan kejanggalan-kejanggalan dimana pada minggu lalu saat pasien masuk rumah sakit (IGD) dan RS melakukan rapid test dan hasilnya positif, tetapi pasien bukannya diisolasi, tetapi malah tetap diurus oleh keluarga sampai meninggal dunia” ujar Camat Loura.

Dirinya menjelaskan, almarhum mempunyai penyakit gula dan sesak. Kejanggalan yang terjadi adalah saat almarhum meninggal, jenazah dimandikan oleh anaknya sendiri bukan oleh perawat Karitas.

“Menurut keluarga, kejanggalan yang sangat menonjol adalah walaupun dinyatakan positif rapid tes, tetapi pasien dirawat di ruangan yang ada 3 orang pasien lainnya.  Dan yang lebih ngeri lagi setelah pasien meninggal dunia, perawat malah menyuruh keluarga untuk menciumnya. Itulah yang menyebabkan keluarga meyakini almarhum meninggal bukan karena COVID, kalau COVID kenapa Karitas melakukan hal-hal yang melanggar prokes ” tambahnya.

Yengo mengatakan, pihaknya tidak menyalahkan RS Karitas sebagai lembaga, tetapi bisa saja ini adalah ulah dari oknum dokter atau perawat, yang pada akhirnya membuat nama Karitas menjadi jelek.

“Akibat kejadian ini, maka akhirnya yang sering menerima imbasnya adalah tim Satgas dan pemerintah kecamatan maupun desa. Manakala keluarga ingin memperjuangkan kebenaran ini sebagai bahan refleksi RS Karitas, silahkan melakukan somasi atau tuntutan secara resmi pada pihak yang berwajib” pungkasnya. *** (Octa/002-21),-