Pol PP SBD, Preman Berseragam

Tambolaka-SJ. Polisi Pamong Praja (Pol PP) kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) kian brutal,ibarat preman berstatus PNS. Setelah menyerang rumah ongko Akong di Tambolaka beberapa waktu lalu saat penertiban pedagang, hari ini Jumat, 13 Oktober 2017 sekitar jam 10 pagi Wita di lapangan kantor bupati Kadula Tambolaka SBD, kembali.Pol. PP melakukan penyerangan pada salah satu peserta turnament sepak bola mini dalam rangka HUT Korpri. 

Gaudensius Boneventura Nani (29) salah satu peserta turnament Futsal dari Bandara Udara Tambolaka mengalami pengeroyokan oleh Sekretaris Pol PP beserta anggotanya pada saat terjadi kericuhan dalam pertandingan.
Keluarga Bone Nani sapaan akrab korban pengeroyokan mengatakan pada media, karena Bone berusaha melerai kericuhan yang terjadi antara salah satu pemain dari bandara dengan tim pol PP, maka dia menjadi bulan-bulanan seluruh anggota Pol PP yang sudah bringas seperti binatang.
Akibat dari pengeroyokan tersebut korban Bone Nani harus mendapat penangan dari Puskesmas Watukawula dan dirujuk ke RSU Waikabubak, karena korban mengalami patah tulang hidung  dan luka dalam di sekujur tubuhnya. 

Korban pengeroyokan Pol-PP ,Bone Nani masih dirawat di RS Waikabubak
Korban pengeroyokan Pol-PP ,Bone Nani masih dirawat di RS Waikabubak

Menurut salah satu rekan Bone mengatakan kronologis kejadian yang bermula pada saat pertandingan sepakbola di Kadula. Pada saat itu tim futsal Pol PP melawan tim futsal dari Bandara, karena posisi pada saat itu tim dari Pol PP dalam keadaan kalah, maka tim Pol PP mulai melakukan permainan kasar sehingga terjadi kericuhan antar pemain. 

Bone Nani yang sebenarnya ikut melerai malah dikeroyok oleh pemain dan anggota Pol PP yang hadir saat itu. Yang sangat disayangkan sekretaris Pol PP Yohanis Ngongo yang juga menjadi pemain yang menjadi pemicu terjadinya pengeroyokan, sehingga seluruh anggota Pol PP yang menjadi penonton yang melakukan pengeroyokan pada Bone Nani.
Bone yang ditemui media di RSU Umum Waikabubak belum bisa memberikan keterangan karena masih pendarahan dan mengalami sesak napas.
Ibu kandung Bone, Lidia Randjamay kepada media mengatakan sangat kecewa, marah dan sakit hati atas perlakuan Satpol PP pada anaknya.
“Kami akan proses masalah ini, entah Bupati SBD atau pihak Bandara Tambolaka mau proses atau tidak, saya yang melahirkan anak saya, akan memproses trus sampai kemana saja, karena anak saya sudah menjadi korban” ungkapnya penuh emosi.
Lebih lanjut Lidia mengatakan merasa heran dengan kelakuan Pol PP, padahal mereka adalah tuan rumah atau penyelenggara dari kegiatan ini.
“Kami sudah laporkan pada bupati MDT dan beliau setuju karena sudah ditangani oleh Polsek Loura, saya akan telepon kapolsek segera untuk tangani kasus ini kata bupati pada kami” lanjut Lidia pada SJ.
Paman korban Octav Dapa Talu sangat menyayangkan kejadian yang lagi-lagi Satpol PP menjadi pelakunya.
“Saya lihat Pol PP SBD ini ibarat preman yang dimiliki Pemda tetapi dengan status PNS, mereka itu preman berseragam PNS yang akan sangat meresahkan masyarakat” katanya penuh emosi.
Lebih lanjut Octav D. Talu mengatakan sebagai seorang yang berprofesi wartawan, sudah sering melihat anggota Pol PP SBD memangrata-rata SDM rendah, tidak tahu apa yang menjadi tugas mereka.
“Sebagai keluarga kami akan proses terus masalah ini, tapi sangat heran ko sekretaris Pol PP Yohanes Ngongo bisa menjadi pemicu kejadian, bukannya melerai malah melepas anggotanya melakukan pengeroyokan, mereka tugasnya mengamankan bukan melakukan pengeroyokan” katanya.
Pantauan media Pol PP SBD sudah sering kali melakukan hal yang meresahkan masyarakat, mulai dari pengeroyokan pedagang pasar Rada Mata, Ongko Akong Rada Mata dan hingga pengeroyokan saat ini. Pemda SBD sudah harus mengevaluasi apakah masih dibutuhkan adanya Pol PP di SBD ini.
Hingga berita ini diturunkan pihak Pol PP belum ada yang bisa dihubungi, Kabid Trantib Pol PP yang dihubungi melalui HP tidak mengangkat teleponnya. (SJ).

Baca Juga :   SEJUMLAH BUMN SUMBANG APD DAN UANG TUNAI UNTUK PENANGANAN COVID-19 DI SBD