Pengerjaan Rabat di Desa Elu Loda Rugikan Masyarakat

Tana Righu-SJ ………. Pengerjaan 2 rabat di Desa Elu Loda Kecamatan Tana Righu, tahun anggaran 2018 menggunakan APBDES tidak sesuai prosedur yang ada dan merugikan masayarakat,  demikian diungkapkan Wakil ketua BPD desa Elu Loda Ignasius Lero Bani kepada media.  Ignasius mengatakan bahwa proses pengerjaan rabat di desa Elu Loda tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

“Dalam anggaran Rabat menuju Gereja Katolik  volumenya 26 meter,  namun yang dikerjakan hanya 19 meter,  7 meter dimana? Anggaran untuk semen 81 sak namun yang terpakai pada saat pengerjaan 36 sa, 45 sak di kemanakan? Namun yang lebih mengecewakan ada pengadaan papan cor 50 lembar dan kayu bagesting 10 batang di APBDES namun tidak ada satupun yang diturunkan pada saat pengerjaan” ungkapnya.

Lebih lanjut Ignas menjelaskan banyaknya kejanggalan yang ditemui dalam proyek pengerjaan rabat tersebut diantaranya pengadaan air 15 tengki namun kenyataan di lapangan hanya 5 drum, untuk pekerja,  dianggarkan 73 pengerja namun di lapangan hanya 20 orang,  hoknya pengerja sudah diambil. Pokoknya seluruh item yang ada di angaran di APBDES tidak sesuai dengan dilapangan.Menurutnya lagi kalau dihitung secara keseluruhan pengerjaan rabat ini sudah ada indikasi Korupsi oleh kepala Desa.

“Saya sangat kecewa, karena desa ini pernah mewakili kabupaten Sumba Barat di tingkat propinsi, namun sekarang sangat buruk penyerapan anggarannya.” Tuturnya lebih jauh.

Sementara itu kepada media ini pembina umat dan tokoh Agama Petrus Umbu Nono mengatakan proses pengerjaan Rabat sangat amburadul dan asal-asalan, akibatnya rabat ini cepat retak. Coba pengerjaannya sesuai prosedur yang ada maka rabat ini kuat dan tahan lama. Seluruh Item yang ada dalam APBDES yang sudah di anggarkan,  tidak semua didrop pada saat pengerjaan dan juga Volume rabat tidak seusai.

Baca Juga :   Koramil 1629-01/Laratama Berhasil Gagalkan Penyelundupan Minyak Tanah

“Contoh semen 81 sak namun yang terpakai hanya 36 sak, kerikil, pasir, batu gunung dan lebih parahnya lagi papan cor dan kayu bagesting di anggarkan tetapi tidak ada” ujarnya.

Lebih lanjut Petrus mengatakan secara pribadi dirinya sangat kecewa dengan pengerjaan ini, coba uang pengerjaan ini diberikan saja kepada Gereja biar dipakai untuk keperluan yang belum ada dampaknya langsung bermanfaat kepada umat. Rabat ini tidak ada dampak dan manfaatnya kepada masyarakat.

“Sebagaian Item sudah dimakan oleh kepala desa, kami akan menindaklanjuti ini dan berharap pihak yang berwewenang bisa memprosesnya” katanya.

Hal senada juga di sampaikan oleh Toko Masayarakat Bernardus Tanggu Holo kepada media,  proses pengerjaan dua rabat menuju Gereja dan menuju perumahan semuanya tidak sesuai prosedur. volume, tebal rabat dan lebar sudah dimakan oleh kepala desa, belum lagi bahan-bahan pada saat mengerjakan.volume rabat menuju perumahan dari panjang 138 M namun yang dikerjakan hanya 115 m, lebar 3m, namun yang dikerjakan 2 ,5m, tebalnya 20 Cm, namun yang di kerjakan 7 Cm, sementara rabat menuju Gereja Katolik dari Volume 26m, namun yang dikerjakan hanya 19m, begitu juga dengan lebar dan tebal sama dengan Rabat menuju Perumahan, belum termasuk bahan seperti Pasir, kerikil, semen, papan cor, kayu bagesting, air sudah dianggarkan dalam APBDES,  namun rillnya dilapangan tidak sesuai dan bahkan ada bahan yang tidak ada sama sekali. Belum terhitung hok para pengerja. Inikan Kepala Desa sudah makan uang rakyat.

Bernardus mengatakan saya sebagai masyarakat menyayangkan proses pengerjaan 2 rabat yang dikerjakan tidak sesuai prosedur dan merugikan Masyarakat.

“Kami berharap agar pihak yang berwewenang bisa melihat  kejadian yang terjadi dilapangan dan memproses sehingga tidak merugikan masyarakat” tutupnya.  (EB),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.