PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN INKLUSIF

Waikabubak-SJ……………. Dialog kebijakan Pendidikan Dasar Tingkat Komunitas Sekolah Bersama Pemda Sumba Barat berlangsung di resto Maguro Waikabubak Sumba Barat (Jumad 12/07/2019). Kegiatan ini merupakan program promosi prakarsa masyarakat sipil untuk pendidikan inklusif dan berkualitas di Indonesia. Dalam kegiatan ini dilakukan dialog kebijakan pendidikan dasar tingkat komunitas sekolah bersama Pemda Sumba Barat yang diselengarakan oleh Yayasan Bahtera, didukung YAPPIKA Actionaid dan donatur European Union.

Hadir dalam kesempatan ini Dinas Pendidikan, Bappeda, Dinas Kominfo, Pemdes, Kepalah Sekolah Dampingan Yayasan Bahtera, ketua komunitas sekolah, dan tamu undangan lainnya dilingkup kabupaten Sumba Barat

Martha Rambu Bangi, direktris Yayasan Bahtera saat memberikan arahan dalam acara dialog

Direktris Yayasan Bahtera Martha Rambu Bangi, S.Pd mengatakan sejak 2 tahun terakhir ini Yayasan Bahtera didukung oleh YAPPIKA dan european union dan kerja sama dengan kemendikbud bergerak di isu pendidikan berkualitas dan inklusif, hal yang paling mendasar banyak anak didik yang selama ini kurang menikmati pendidikan yang inklusif, apakah karena disabilitas, apakah karena stunting, kepercayaan (marapu), atau karena anak orang miskin.

Lebih lanjut Martha mengatakan selain itu ada jumlah persoalan yang terjadi di tingkat komunitas sekolah, tetapi ada sejumlah praktek baik, ada sejumlah energi-energi positif yang dikontribusikan oleh komunitas sekolah dan memperkuat sekolah menjadi sekolah yang berkualitas dan inklusif.

“Energi positif yang ingin dibagikan untuk kita saat ini, disisi lain tentu ada tantangan, hambatan yang dialami, ada yang bisa ditangani di tingkat lokal, tetapi ada juga yang mereka butuh dukungan dari kita semua, terutama pengambil kebijakan. Oleh karena itu saudara-saudara kita dari komunitas sekolah ingin menyampaikan isi hati mereka sebagai sahabat yang berpikir tentang kecerdasan bangsa, kenapa karena anak didik adalah anak bangsa yang akan menjadikan bangsa ini bermartabat dan dihargai” ungkapnya.

Martha menjelaskan kontribusi terbesar untuk menekan angka kemiskinan adalah indikator pendidikan. Ketika indikator pendidikan tidak segera kita tangani, maka kita berada pada posisi ketertingalan SDM. Pendidikan yang setara dan inklusif terutama bagi penghayat kepercayaan (marapu). Di 10 sekolah dampingan Yayasan Bahtera terlalu banyak penghayat kepercayaan (marapu), mereka akan terkendala ATMINDO (akta kelahiran, dokumen dll). Dalam dokumen mereka tentang agama. Kalau bukan Katolik pasti Protestan tidak ada kata penghayat atau marapu, sementara di putusan MK mereka harus diakui sebagai penghayat kepercayaan Marapu, ini yang perlu sama- sama kita bicarakan. Kehadiran dari komunitas sekolah bukanlah orang yang selalu melawan aturan atau pemerintah, tetapi teman setia untuk senantiasa membantu pemerintah bagaimana pendidikan kedepan lebih baik terutama Sekolah Dasar. Kedepan kita saling mendukung, saling menopang supaya pendidikan di Sumba Barat sangat berkualitas dan inklusif.

Baca Juga :   MERAJUT RUMAH MANDIRI DENGAN KERENDAHAN HATI & KEMULIAAN ALLAH

Kepala Bappeda Titus Diaz Liurai, S. Sos mengatakan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya guru. Kalau anak tidak naik kelas/tidak lulus guru yang disalahkan, tetapi kalau anak berprestasi orang tua yang bangga ini anaknya siapa. Didalam pendidikan tidak ada yang disalahkan, karena pendidikan tanggung jawab kita bersama. Tiga pilar utama dalam pendidikan yaitu guru, orang tua dan pemerintah harus bekerjasama dan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pendidikan demi pendidikan yang berkualitas dan inklusif di kabupaten Sumba Barat.

Lebih lanjut Titus mengatakan dirinya sangat mengapresiasi dialog yang diprakarsai oleh Yayasan Bahtera, YAPPIKA Actionaid dan European Union ini.

“Segala sesuatu kita kerja sama atau keroyokan, omong tentang pendidikan kita keroyok, omong tentang kesehatan kita keroyok semua adalah tanggung jawab kita bersama. Tingkatan apa yang harus dicapai terutama masalah pendidikan, tingkatan untuk menguji keberhasilan suatu daerah terlihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan salah satu komponen yang mempengaruhi IPM adalah pendidikan” ungkapnya mengakhiri sambutan sekaligus membuka kegiatan dialog bersama. (EB),-