Tambolaka-SJ………. Hama belalang tidak boleh berkembang terus di Sumba Barat Daya (SBD) dan tidak boleh pergi ke luar wilayah dengan resiko, berarti kami harus segera punahkan, tapi dengan kerja cerdas.

“Semua komponen masyarakat harus terlibat, caranya adalah mencari induknya dan mencatat dimana ia hinggap karena apa, begitu dia hinggap dia langsung bertelur dan telur akan menetas pada waktu tertentu dan itulah yang kita jaga kapan waktu itu dan kita lihat ada tetasan tidak” ungkap Bupati SBD di Puspem Kadula Senin (2/8/21) pada media ini.
Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete usai melantik pejabat eselon II. III dan IV di halaman kantor Bupati SBD menjelaskan harus ada langkah-langkah lebih lanjut lagi untuk memastikan hama belalang dapat diatasi di SBD.
“Hari ini kita petakan, sore ini kita kirim petugas untuk melakukan penyemprotan dan sisanya besok pagi lagi karena tentunya kita tidak akan bekerja sampai larut malam, tentu kita akan istirahat dan dipagi hari sekitar jam 4 dan 5 pagi sampai jam 9 kita lanjutkan lagi penyemprotan hama belalang ini” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Bupati SBD, Marthen Christian Taka, S.IP kepada media ini. Katanya semua komponen harus bekerja sama dengan pemerintah baik itu petani maupun masyarakat secara keseluruhan.
Kata Chris Taka, hama belalang kali ini memang bukan hal baru untuk SBD, karena hama belalang ini sudah berulang dalam dekade yang sangat lama ditahun 90-an dan sekarang lagi mulai muncul kembali.
“Berarti masyarakat dan petani pada umumnya sudah sangat pahami binatang ini. Dengan demikian harapan kami kemampuan yang ada di masyarakat betul-betul harus dimanfaatkan secara arif menghadapi hama ini” jelasnya.
Dirinya menjelaskan karena hama ini tidak bisa diajak mengikuti kemauan manusia, kita yang harus mengikuti maunya yang pada akhirnya kita tekan dan basmi populasinya dan bila perlu musnahkannya di SBD.
Chris Taka juga mengharapkan adanya kerja sama yang baik oleh satuan tugas (Satgas) yang di bentuk oleh Bupati untuk penanganan hama belalang ini, karena disatu sisi petani hanya punya semangat untuk menekan dan tidak boleh menyerang tanaman pertanian, tapi disisi lain dia tidak punya kemampuan membasmi, tentunya bantuan datang dari pemerintah.
Nah sejauh ini pemerintah sudah membantu alat dan inseptisida tapikan ada juga yang tidak mampu atau kelemahan yang di tangani oleh satgas, berarti harus kerja sama.

“Kalau begitu mari kita kerjasama, Satgas , seluruh warga masyarakat terutama petani untuk kita bekerjasama dengan pemerintah khususnya Dinas Pertanian untuk penanganan pengendalian hama belalang” ungkap mantan Camat Wewewa Timur ini.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian, Rofinus Kaleka, SP., yang ditemui media menuturkan upaya penanganan hama belalang ini, terus dilakukan pihaknya dari pertama muncul di SBD.
“Hari ini hari yang kelima kita bisa menekan sedikit populasinya, kenapa hanya sedikit? Karena memang hama belalang ini selalu hinggap dan bermalam di tempat-tempat yang medannya sulit, medan terakhir kemarin itu di puncak bukit Kere Baru yang jaraknya untuk kita mengestafetkan air itu bisa sampai dengan 700 meter” ujarnya.
Rofinus menjelaskan dengan mengestafetkan air 5 liter dan masing-masing orang itu 10 liter, pihaknya mendapat bantuan tenaga Pol PP sebanyak 30 orang dan masyarakat setempat sehingga memudahkan untuk menaikkan air di puncak bukit itu dan kita melakukan penyemprotan dari jam 05:00 pagi sampai jam 08:30.

“Bupati dan Wakil Bupati juga ada dan masyarakat ikut membantu, ya termasuk lumayan yang berhsil kami tekan populasinya” jelasnya.
Dirinya menambahkan saat ini penyebaran hama belalang sudah memasuki desa-desa lain disekitar desa pertama yaitu desa Tema Tana, kemudian menyebar ke Desa Maliti Ndari, Ekapata dan terakhir itu Desa Dikira.
“Jadi sudah beberapa desa yang kami lalui, sekarang rencana mau ke Wewewa Selatan tetapi belum pasti karena masih aman. Kemarin malam dan pagi tadi tidak bisa kita lakukan pengendalian, karena kita tidak bisa memantau posisinya wilayah Wejewa itu mendung. Kalau hujan terus selama tiga hari kita di posisi sangat aman” ujar mantan Kabag Humas SBD ini.
Ia juga mengapresiasi adanya dukungan dari provinsi. Setalah menginformasikan sejak hari pertama secara lisan kepada Kadis Pertanian Provinsi NTT, Dinas Pertanian NTT segera mengeluarkan kebijakan untuk dapat mengambil stock obat di Lewa Sumba Timur.

“Satu-satunya stock yang kita miliki sekarang ini dari provinsi, yang sementara kita upayakan bagaimana caranya supaya tersedia stock tambahan, dan kalau sudah ada kebijakan kita mungkin akan pinjam di Sumba Tengah’ ungkapnya.
Rofinus juga mengharapkan adanya dukungan dari masyarakat dengan terus memberi informasi atau laporan yang tepat dimana posisi hama belalang ini bergerak, karena belalang ini bergerak setiap hari dan tidak tinggal diam disatu tempat.
“Para petani yang memiliki lahan padi dan sawah harus biasa menjaga sawahnya. Petani tidak boleh jadi pesimis tidak menanam, kita akan terus melakukan pengendalian seperti yang disampaikan pak Bupati, tidak mungkin kita membasmi sampai tuntas, tapi kita akan melakukan pengendalian dan terus menekan populasinya sampai ambang ekonomis, sehingga dia tidak menjadi hama tetapi menjadi makhluk hidup yang hidup seperti biasa dengan kita” pungkasnya *** (Octa/002-21),-.
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
