Pak Gubernur, Kami Bukan Monyet

Tambolaka-SJ……….. Pada Sabtu (27/11/21) masyarakat Sumba pada umumnya dikagetkan dengan beredarnya video perdebatan sengit antara Gubernur NTT Victor  B Laiskodat dengan Umbu Maramba Hawu di berbagai media sosial. Tampak dalam rekaman video tersebut seorang Gubernur dengan keras dan kasar mengancam memukul, mengancam memenjarakan masyarakatnya sendiri dan mengumpat rakyatnya dengan kata “monyet”.

Octa Dapa Talu, Pemred Suara Jarmas

Masyarakat Sumba khususnya dan NTT pada umumnya sangat kaget melihat seorang pemimpin marah-marah dan mengumpat rakyatnya sendiri, yang seharusnya ia bina, ia didik, dan ia lindungi. Gubernur VBL telah merendahkan martabat rakyatnya sendiri serendah-rendahnya.

Rakyat yang menjadi korban tindakan keras VBL adalah Umbu Maramba Hawu, tuan tanah di Kampung Rende Prayawang, Desa Rindi, Kecamatan Rindi, Sumba Timur, NTT, yang bersama keluarganya datang menjumpai sang gubernur di range sapi di daerah tersebut untuk menanyakan pihak yang telah menyerahkan hak atas tanah mereka kepada Pemerintah Provinsi NTT.

Informasi yang diperoleh oleh Umbu Maramba Hawu, tanah milik suku mereka sudah beralih kepemilikan ke Pemprov NTT dan akan dijadikan range sapi untuk menghasilkan daging sapi premium. Di atas tanah itu ada perkampungan, bahkan permakaman keluarga. Umbu bersama keluarganya hanya ingin mempertanyakan status tanah mereka, tetapi sang Gubernur VBL menganggap ada upaya dari masyarakat untuk menghalang-halangi proyek sapi premium tersebut.

Dengan gayanya VBL tampil sebagai tuan besar yang setiap kata dan kebijakan hanya boleh diterima, tanpa boleh dipertanyakan, apalagi didebat. Ia tidak peduli walaupun yang dihadapinya adalah tuan tanah dengan gelar Umbu Maramba (bagi orang Sumba Timur Umbu adalah  golongan ningrat) yang sudah banyak menghibahkan tanahnya untuk Negara, untuk NTT.

Baca Juga :   BUPATI SUMBA BARAT LEPAS JAMAAH CALON HAJI TAHUN 2022

Sebagai seorang pendukung Victory Joss pada Pilkada yang lalu, saya terhentak, kaget dan tidak tahu harus berkata-kata apa, karena figur pemimpin  yang saya bayangkan akan membawa perubahan besar bagi NTT menunjukan sifat dan karakter aslinya setelah menjabat gubernur.

Gubernur VBL menunjukkan pada rakyatnya sifat tinggi hati, keras dan kasar, padahal rakyatlah yang memilih dia menjadi Gubernur saat ini. Janji-janji manisnya pada saat kampanye belum ada yang dirasakan oleh orang Sumba.

Mohon MAAF saya melihat NTT sudah memilih Gubernur yang salah, kita telah memilih Gubernur dengan Gaya Preman yang selalu mengandalkan kekuatannya untuk menjalankan kebijakannya, memimpin NTT ini dengan cara diktator.

Untuk bapak Gubernur ketahui, kami orang Sumba bukan MONYET, kami memang tidak sepintar engkau yang kaya dan berkuasa saat ini. Sudah banyak orang Sumba yang berhasil sampai menjadi Profesor, Jenderal dan Pengusaha Sukses, tetapi tidak satupun yang kembali ke Sumba dan menganggap remeh masyarakat di desa-desa.

Di Sumba Timur kami punya turunan ningrat yang dikenal sebagai Umbu, Rambu, demikian juga di Sumba Tengah, sedangkan di Sumba Barat dan SBD kami juga para Rato yang kami hargai sebagai pemimpin dalam kehidupan sosial budaya kami.

Harusnya sebagai orang nomor 1 NTT, Gubernurlah yang harus malu jika rakyatnya dikatakan MONYET, karena itu berarti kami tidak memiliki  pemimpin yang mampu membangun NTT yang dikenal bodok dan miskin dan tertinggal.

Pak Gubernur, bukankah persoalan tanah hak ulayat dilindungi dan diakui dalam Undang-Undang Pertanahan ??? Kalau tanah hak ulayat mau diambil oleh pemerintah untuk kepentingan umum ada mekanismenya,  bukan ujuk ujuk menjadi milik Pemda. Semoga para Marapu Sumba memberi maaf atas kejadian yang paling memalukan bagi orang Sumba pada Sabtu 27 November 2021 kemarin, tetapi kalau Marapu Sumba tidak setuju,…… *** (Octa/001-21),-