NTT TIDAK SEHARUSNYA MISKIN

Tambolaka-SJ,- Provinsi NTT yang sudah berusia 59 tahun merupakan provinsi termiskin ketiga dari seluruh provinsi di Indonesia  dan menjadi keprihatinan yang sangat mendalam bagi seorang Mayjen AD (Purn) Yan Piter Ate, salah seorang putra Sumba yang sudah berhasil dalam dunia militer Indonesia. 

Sang Jendral  merasa sedih karena dalam usia ke-59 ini,  NTT masih menjadi sebuah provinsi yang dikategorikan miskin,  padahal NTT mempunyai banyak sekali asset dan potensi serta kekayaan alam yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh provinsi lain bahkan Negara lainpun.
Demikian  diungkapkan jendral bintang 2 ini kepada media SJ, disela-sela kegiatan bersama keluarganya di Tawo Rara Desa Wee Rena kecamatan Kota Tambolaka Senin, 6 November 2017. 

Mayjen AD (Purn) Yan Piter Ate
Mayjen AD (Purn) Yan Piter Ate

“Status provinsi termiskin ini merupakan status yang memukul kita semua, karena dalam usianya yang  59 tahun ini ibarat seorang anak yang dilahirkan oleh orang tuanya kemudian dia tumbuh, remaja dan dewasa sampai usia pensiun 59 tahun hidup dalam status miskin. Ini menggambarkan apakah anak yang tidak diurus oleh orang tuanya, salah asuh, atau anak ini yang memang tidak memikirkan dan memperjuangkan masa depannya” ungkapnya. 

Lebih lanjut Jendral Yan  mempertanyakan apakah karena sumber daya yang kurang?  Kalau itu alasannya jendral bintang 2 ini sangat tidak sejutu, karena ada banyak wilayah/Negara yang miskin sumber daya alamnya  tetapi  maju, contohnya Korea Selatan, Jepang dan Negara-negara lain tidak punya sumber daya alam tetapi maju. 
“Kenapa mereka maju,  karena mereka ulet, punya kemauan, mereka tahu bagaimana membangun daerah mereka yang keras, yang miskin sumber daya alam sehingga menjadi maju” tuturnya.
Melihat situasi dan kondisi pada NTT ini  Yan Piter Ate mengatakan seharusnya  kita terpanggil untuk memperbaikinya, kalau masih punya harga diri maka ubahlah NTT yang selalu dipandang sebagai daerah terbelakang, daerah termiskin menjadi daerah yang tidak lagi terkebelakang, menjadi daerah maju sama dengan daerah lain di Indonesia.
Provinsi NTT yang merupakan provinsi kepulauan adalah peluang yang sangat besar bagi NTT. Jika memang demikian apa yang menjadi kekayaan NTT yang belum dikelola dengan baik oleh Pemda NTT?  Jendral Yan mengatakan Negara Indonesia adalah Negara kepulauan, kalau itu bisa dirubah oleh Pemerintah Jokowi menjadi Indonesia Hebat, maka konsep yang sama harus juga kita gunakan untuk mengelola provinsi NTT  dalam konteks, dalam konsep provinsi kepulauan yang maju.
Lebih lanjut Mayjen (Purn) Yan Piter Ate menceritakan pengalaman Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan setelah mengunjungi NTT  dalam 1 hari saja sudah dapat menghitung bahwa NTT  dapat mensuplay 60 T per tahun hanya dari garam saja.
“Potensi komoditi ini harus kita tindak lanjuti dengan satu studi yang lebih komprehensif, apakah betul dari satu komoditi garam akan menghasilkan nilai yang signifikan, kalau hasil studi itu membenarkan temuan bapak Menko Luhut Pandjaitan, maka dari satu komiditi saja sudah dapat merubah NTT dari status miskin menjadi provinsi yang kaya.  Belum lagi sumber daya yang lain, ada ikan, rumput laut, ternak, pariwisata, kalau semua ini bisa kita kelola secara tepat, secara konseptual,  maka NTT ini dalam waktu yang tidak lama, dia akan berubah dari status provinsi miskin menjadi provinsi yang kaya” katanya.
Untuk merubah keterpurukan yang dialami NTT ini, Yan Piter Ate tidak menolak kemungkinan jika masyarakat NTT menginginkan dirinya untuk ikut tampil dan  berkarya bagi perubahan NTT yang lebih baik kedepan.
“Jika panggilan itu  datang pada saya, saya akan menerima itu sebagai satu kehormatan dan satu tanggung jawab dan tidak sekedar  menerimanya akan tetapi menjawabnya dalam karya-karya nyata melalui kebersamaan baik melalui mekanisme kepemerintahan maupun antar pemerintah dengan seluruh masyarakat dalam satu system dan mekanisme keterpaduan  all of government and  all of society” tuturnya.
Dan Mayjen Yan Piter Ate juga menghimbau inilah waktunya untuk kita bisa berbuat untuk NTT, kalau bukan kita,  kita tidak punya legacy, kita tidak punya peninggalan yang dapat kita wujudkan yang akan selalu dikenang oleh genarasi-generasi mendatang.  “Sekarang atau tidak sama sekali” pungkasnya. (OC$),- 

Baca Juga :   Pemerintah Sumba Tengah Sambut Personil Brimob

Leave a Reply

Your email address will not be published.