Kajian Potensi Desa Sebagai Tujuan Parawisata

Tambolaka-SJ…………….. Sumba secara umum dan Sumba Barat Daya (SBD) secara khusus dicanangkan oleh Pemerintah Pusat maupun Provinsi NTT sebagai daerah yang mempunyai potensi-potensi wisata yang jika dikembangkan dapat memberi manfaat bagi perkembangan perkeonomian daerah. Sayangnya masih banyak hal yang harus dibenahi baik dari sarana prasarana pendukung maupun sumber daya manusianya.

Christofel Horo, Kadis Pariswisata SBD  serius mendengarkan masukan-masukan dari peserta kegiatan

Dalam upaya mewujudkan hal tersebut, Yayasan William dan Lily atau William and Lily Foundation (WLF) adalah sebuah yayasan filantropi yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan-kesenjangan yang semakin melebar di daerah-daerah termarjinal di Indonesia dengan meningkatkan akses ke pendidikan yang berkualitas, meningkatkan kesehatan anak-anak dan ibu, dan memfasilitasi pemberdayaan ekonomi untuk masyarkat termarjinal. Sebagai bagian dari komitmen itu, WLF saat ini sedang melakukan kajian terkait potensi pengembangan sector pariwisata di desa sebagai bagian dari strategi untuk pengembangan perekonomian daerah dan meningkatkan mata pencaharian warga Sumba. WLF percaya bahwa meskipun Sumba dianggap sebagai salah satu daerah termiskin di Indonesia,  potensi wisata di Sumba jauh dari melampaui harapannya. Dengan kekayaaan alam yang indah, dan budaya yang kaya, Sumba dapat dengan mudah menjadi salah satu tujuan pariwisata terbaik di Indonesia.

Tim WLF yang melakukan kajian untuk Desa Wisata di SBD

Oleh karena itu, WLF telah mengirim tiga ahlinya yang dipimpin oleh Bapak Utama Sandjaja, untuk melakukan kajian selama dua bulan untuk melihat kesiapan dan potensi tiga desa di Sumba, yaitu Desa Ratenggaro, Perokonda, dan Kadiromo, untuk dikembangkan sebagai tujuan desa wisata. Ketiga desa ini memiliki karakteristik yang unik sebagai desa dengan potensi wisata bahari, agriwisata, dan wisata budaya.

Baca Juga :   Adilalo Resmikan Kegiatan Launching Ina Kabola

Demi dan untuk mendapatkan informasi-informasi dan masukan-masukan semua pihak yang berkompeten, pada Senin, 17 September 2018 bertempat di aula Hotel Sinar Tambolaka WLF sharing dengan pihak-pihak yang berkompeten diantara Dinas Pariwisata, Dinas PMD, DRPD SBD, Pemerintah Desa, LSM dan Media untuk mendapat informasi-informasi yang akurat sehingga dapat menentukan strategi yang tepat dalam mewujudkan desa wisata.

Menurut Setio Soemeri, Program Manager untuk WLF, kajian ini tidak hanya akan mengidentifikasi strategi yang dapat digunakan desa untuk menarik lebih banyak wisatawan, tetapi kajian ini juga akan mengidentifikasi strategi yang perlu digunakan agar masyarakat di desa tersebut dapat diberdayakan secara mendalam sehingga mereka bisa meningkatan pendapatan mereka.

Setio juga menyatakan bahwa, inisiatif ini sangat selaras dengan inisiatif pemerintah pusat untuk meningkatkan penerimaan APBN melalui sector pariwisata, serta sebagai salah satu strategi pengembangkan perekonomian Indonesia melalui desa. Oleh karena itu sangat penting untuk melakukan pendekatan holistik dan multi-pihak dalam memahami komitmen pemangku kepentingan dari pemerintah dan nonpemerintah dalam mengembangkan potensi daerah parawisata yang belum dimaksimalkan seperti Sumba. Diharapkan hasil penelitian ini akan dimanfaatkan oleh semua pemangku kepentingan pariwisata untuk membuat langkah konkret dalam mengembangkan sektor pariwisata.

Kadis Pariwisata Christofel Horo menyambut baik upaya dari WLF yang sudah memfasilitasi kegiatan ini untuk mendidik, menseting konsep desa wisata sesuai dengan kekayaan dan sumber daya yang ada di desa. DIakuinya juga bahwa apa yang dimiliki Sumba yaitu alam dan budaya  memang cukup menjanjikan sebagai harapan baru bagi masyarakat Sumba.

Manajer Hotel Sinar Tambolaka, Marksu sedang memberikan masukan

“Kalau ini dikemas dalam jejak  menuju desa wisata, hal ini merupakan sebuah harapan baru untuk meningkatkan pendapatan masyarakat secara riil, secara ekonomi. Saya kira ini  salah satu benang merah  bagaimana menguraikan kemiskinan yang sistematis  selama ini yang membelenggu” ungkapnya.

Baca Juga :   Lirikan Wisata Alam Lapale Hills

Lebih lanjut Chris mengatakan melalui kemasan ini diharapkan lahir pertumbuhan dan kekuatan daya beli bagi masyarakat. Secara prinsip pemerintah tidak saja berterima kasih tetapi juga bersaing secara positif melahirkan tandingan-tandingan kebijakan strategis dengan WLF.

“Pemerintah harus  sejak dini melihat dirinya dan  WLF sebagai lembaga mitra juga harus menjadi catatan khusus dalam kebijakan strategis daerah. Sehingga antara kemauan kuat WLF dan konsep strategis pemerintah dalam kebijakan pembangunan kita harapkan hari ini dan kedepan terkoneksi dengan baik” tuturnya lebih lanjut.

Diskusi berlanjut di Resto Sinar Tambolaka bersama Sekdis PMD SBD, Lodowaik L. Raya

Adapun yang sudah dibuat oleh Pemerintah SBD sejak mekar dari Sumba Barat adalah adanya beberapa lahan potensial yang sudah dibebaskan oleh Pemda sebagai zona,  asset daerah dan terus dipoles pengelolaannya dan hal-hal lain adalah mendidik berbagai indicator yang berkoneksi kepada pengembangan pariwisata.

Dipihak lain perwakilan media yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, mengatakan ada tiga hal penting yang harus segera dibenahi jika ingin mewujudkan Sumba  pada umumnya  dan desa secara khusus menjadi daerah wisata, masalah Sumber Daya Manusia, Infrastruktur  dan Keamanan. Ketiga hal ini dilihatnya masih perlu perhatian serius dari semua pihak yang ingin mewujudkan desa pariwisata.

Berfoto bersama usai kegiatan

“SDMnya harus ditingkatkan melalui pendidikan yang lebih baik, masyarakat harus diberi pemahaman bagaimana mengharagai para wisatawan baik local maupun asing yang akan berkunjung ke SBD, Pemerintah Desa harus bisa memberikan penyuluhan dan pembinaan bagi warganya agar memberi kenyamanan bari para wisatawan yang berkunjung” ujar Octa Dapa Talu dari Tabloid Suara Jarmas.

Lebih lanjut Ia mengatakan dengan kualitas SDM yang sudah bagus, masyarakat bisa berinteraksi dengan baik dengan wisatawan dan dalam memasarkan kain tenun, selendang, kalung dan gelang yang merupakan kekayaan budaya Sumba bisa dikemas dengan baik sehingga semakin menarik minat wisatawan.

Baca Juga :   Homestay Modal Kecil Hasilnya Besar

“Untuk sarana prasarana bukan hanya tugas Pemda saja, tetapi pihak-pihak seperti perhotelan dan travel juga bisa berperan serta dengan ikut merapikan dan melengkapinya. Hal-hal kecil seperti penunjuk jalan menuju lokasi, pembuatan peta kecil menuju tempat-tempat wisata pihak hotel dan travel bisa bekerja sama dengan pemerintah desa sehingga Pemerintah Kabupaten SBD bisa memikirkan hal-hal yang lebih besar seperti pengaspalan jalan,  penerangan dan fasilitas keamanan” tutupnya. (Tim-SJ),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.