JUARA PESPARANI SBD SIAP UNTUK NAIK KE TINGKAT PROVINSI

Tambolaka-SJ …………. Lomba PESPARANI Katolik ke-2 yang diselenggarakan di aula GSG Paroki Katedral Weetebula selesai sudah dan menghasilkan juara-juara terbaiknya setelah melewati lomba yang ketat dan penilaian yang beragam dari 4 juri yang sudah ditentukan oleh panitia penyelenggara, pada Kamis (21/11/19) sore.

Paroki Tambolaka, Katedral Weetebula dan Ande Ate hampir tampil di semua kategori sebagai juara dalam lomba Pesparani kali ini. Untuk kategori Paduan Suara Campuran dewasa Juara I dari Paroki Tambolaka dengan poin 78,40; juara ke II Paroki Katedral Weetebula dengan poin 78,20; juara ke III dari Paroki Kererobo dengan poin 76,70 dan juara ke 4 dari Paroki Ande Ate dengan poin 74, 70.

Tim Juri saat membacakan hasil putusan panitia untuk penentuan juara lomba Pesparani Katolik

Untuk kategori Paduan Suara Orang Muda Katolik (OMK) juara I diraih oleh Paroki Ande Ate dengan poin 78,80;  juara II oleh Paroki Katedral Weetebula dengan poin 77,90; dan juara III dari Paroki Tambolaka dengan poin 75,40.

Sedangkan untuk kategori Mazmur Anak Putra  juara I dari Paroki Bondo Kodi dengan poin 78,80; juara II dari Paroki Katedral Weetebula dengan poin 77,40; dan  juara III dari Paroki Ande Ate dengan poin 75,65. Sedangkan untuk kategori Mazmur Anak Putri lagi-lagi Paroki Bondo Kodi meraih juara I dengan poin 78,85; juara II dari Paroki Golu Sapi dengan poin 77,50 dan juara ke III dari Paroki Tambolaka dengan poin 74,64.

Tim juri yang terdiri atas Elias Joka, SH (ketua), Krisostomus Kunses, S.Ag (sekretaris) dan ketiga anggota Dicson Eres Suek, S.PT, P. Ferdinandus Ganti, SVD dan RD. Yustinus Guru Kedi memberikan penilaian secara umum semua peserta sudah tampil bagus tetapi belum maksimal.

Baca Juga :   PENTAS SENI MUSIK, LAGU DAN TARI SUMBA TAMPIL MEMUKAU HADIRIN DAN PENONTON

Lomba yang diselenggarakan oleh  LP3KD  ini akan mengirimkan perwakilan dari Kabupaten SBD pada lomba tingkat provinsi dan nasional Oktober tahun 2020 nanti di Kupang. Sehingga diharapkan adanya persiapan juara-juara yang akan berlomba nanti untuk memperbaiki kekurangannya dan menampilkan yang terbaik nanti.

Agustina Ngedang, SE Kepala Bagian Administrasi Rakyat Pemda SBD yang dihubungi media mengatakan dirinya merasa puas karena lomba ini sudah berjalan dengan baik berkat partisipasi dari semua pihak.

“Momen Pesparani ini bukanlah untuk mencari juara tetapi adalah pesta iman, dalam rangka toleransi beragama di SBD” ungkapnya.

Lebih lanjut Agustina menghimbau buat para peserta yang sudah terlibat agar lebih mengembangkan bakatnya dalam dunia tarik suara dengan terus berlatih. Diharapkan lomba Pesparani ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berlatih dan bernyanyi.

Juri RD. Yustinus Guru Kedi yang dihubungi media di sela-sela kegiatan mengatakan dalam lomba Pesparani ke-II adanya peningkatan kualitas dengan melihat berat ringannya lagu dan kualitas dari masing-masing peserta.

Romo Yustin sapaan akrabnya yang juga menjadi juri pada lomba Pesparani I menjelaskan dalam lomba kali ini walaupun lagu yang diperlombakan sanngat berat tetapi ada usaha/kemauan yang tinggi untuk bisa menyukseskan.

“Sehingga dari kami tim juri melihat ini ada hal yang istimewa yang menjadi catatan tersendiri bagi tiap-tiap peserta yang ikut berlomba. Sehingga untuk  tim yang diutus ke tingkat provinsi yang juara diambil 50% keanggotannya supaya bisa  mengkawal, sedangkan yang lainnya bisa diambil dari juara II atau III untuk mengisi kekurangan-kekurangan yang ada di juara I tadi. Ini berdasarkan penilaian kami karena peserta belum mencapai nada sempurna paling kurang baru 80an%” tuturnya.

Baca Juga :   Bernyanyi Dengan Baik Sama Dengan Berdoa Dua Kali

Sebagai salah satu imam di SBD,  Romo Yustin juga menekankan pentingnya music gereja bagi umat Katolik karena  memberikan respon pengungkapan iman.

“Ketika kita bernyanyi sebenarnya adalah ekspresi dari kita melakukan tindakan berdoa, tindakan merayakan. Makanya membutuhkan persiapan, pemilihan  lagu yang sesuai dengan situasi dan konteks perayaan. Lebih dari itu kebenaran didalam menyanyi, pengolahan-pengolahan dengan menyanyi  yang baik. Kadang-kadang kita hanya melihat dengan kemauan diri kita sendiri tanpa mau supaya orang lain menilai kita. Harapan saya itu yang harus kita perkuat ke depan” ujarnya.*****

Liputan: Octa Dapa Talu,-