
Tambolaka-SJ……………………….. Pelatihan Homestay yang
diadakan oleh dinas koperasi SBD selama 5 hari kerja, 17-21 Juni 2019
berjalan lancar dan mendapat respon dan semangat peserta. Selain sudah
mendapat teori-teori guna meningkatkan kualitas SDMnya, peserta
pelatihan ketrampilan untuk pengelolaan homestay dan pembuatan souvenir
(cindera mata) dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat seperti
bambu, karung goni dll. Hal ini dimaksudkan bahwa semua potensi-potensi
lokal yang ada bisa digunakan untuk menarik minat para wisatawan.
Kadis
Pariwisata, Christofel Horo, SH pada Jumat, 21 Juni 2019 yang menutup
kegiatan pelatihan ini dengan memberikan beberapa wejangan bagi peserta.
Dalam sambutan penutupnya Chris mengajak peserta untuk merubah
paradigma untuk bertarung di pasar global, dimana kebiasaan masyarakat
selalu berpikir membutuhkan modal besar untuk memulai padahal ada banyak
asset-asset lokal yang kalau diolah bisa akan mempunyai nilai jual
untuk dipasarkan pada para wisatawan.

Instruktur Ibu Ani menyerahkan hasil pelatihan pada Kadis Pariwisata Christofel Horo
“Ada
banyak kekayaan lokal seperti bambu yang bisa diolah untuk membuat
indah homestay, souvenir-souvenirpun bisa dibuat dari bahan-bahan lokal,
karena pada jaman sekarang turis-turis asing sudah jarang yang mau pake
emas sebagai perhiasan, mereka mau yang alami saja” ungkapnya.
Lebih
jauh kadis parisiwisata ini menjelaskan itulah yang menjadi alasan
dinas pariwisata menyelenggarakan pelatihan homestay ini dan menyiapkan
pelatih-pelatih profesional untuk melatih peserta.
Dirinya juga
berjanji kegiatan pelatihan ini akan terus berkelanjutan sehingga
kualitas SDM bagi pemilik homestay, situs-situs, tour guide dan
lain-lain agar dapat bersaing di era global seperti sekarang ini.
Sumi’atin
(pemilik ZFS Collection) Surabaya salah satu instruktur pelatihan yang
dihubungi media usai acara penutupan pelatihan menuturkan dirinya merasa
tertarik untuk membagikan ilmu yang dimilikinya karena melihat setiap
kali ada pameran di tingkat nasional Sumba khususnya SBD masih kurang
sekali dalam pembuatan souvenir, penataan homestay yang natural. Padahal
turis lebih suka yang alami.
“
Nah, saya ingin warga Sumba
mengangkat ekonominya dalam arti mengurangi pengangguran. Karena konsep
ini tidak memerlukan modal besar, tetapi hasilnya besar. Ditempat saya,
saya mencari pegawai itu tidak harus bertitel/berijasah tetapi yang
penting jujur dan mau bekerja. Saya menginginkan setelah ini mereka
memproduksi, semua bahan saya yang siapkan” katanya.
Dirinya
menyayangkan seperti di Bandara Tambolaka belum ada yang menjual
cinderamata, ini merupakan salah satu asset untuk mayarakat kedepan.
Masalah penataan juga menjadi perhatian instruktur ini apabila SBD mau
fokus dalam pegembangan wisata kedepan.
“Penataan dan cara menyambut
tamu harus diperbaiki, dan seharusnya disiapkan cinderamata untuk
menyambut tamu-tamu, sehingga menarik minat turis-turis” ujarnya lebih
jauh.
Atin sapaan akrab pemilik ZFS Collection juga menghimbau
peserta setelah mendapat pelatihan ini agar mulai bekarya, modal
utamanya adalah disiplin, karena bahan-bahan yang dibutuhkan seperti
bambu, karung goni dan lain sebagainya tidak membutuhkan modal besar
untuk mendapatkannya dan bisa diaplikasikan menjadi sebuah karya yang
mempunyai nilai jual.
“Semoga Sumba lebih maju dan lebih baik, serta
ilmu yang saya berikan tidak sia-sia tetapi bisa membantu untuk
membantu ekonomi masyarakat” jelasnya.
Apresiasi Peserta Pelatihan Homestay
Argen Umbu Pati salah satu peserta pelatihan mengapresiasi kegiatan pelatihan ini karena sangat membantu dalam pengelolaan homestay termasuk administrasi, makanan, atraksi-atraksi yang ada dalam desa wisata. Dan hal tersebut yang dibutuhkan dan perlu dikembangkan bagi homestay. Sebagai peserta pelatihan dari Tour Guide, Argen juga mengharapkan adanya kesinambungan dalam pelatihan model seperti ini dan peran serta masyarakat juga dibutuhkan untuk mendukkung pembangunan pariwisata di SBD.

“Peran masyarakat diharapkan agar menjaga situs-situs yang sudah ada dan perlu adanya kerjasama yang baik antara masyarakat lokal, tour guide dan dinas pariwisata. Harapan kami Pemerintah juga ikut andil khususnya dalam masalah keamanan dan melengkapi infrastruktur, misalnya akses ke pantai-pantai agar dibuatkan tangga-tangga itu agar memudahkan para wisatawan untuk menjangkau pantainya” ujarnya.
Lebih lanjut untuk masalah keamanan menurut Argen bukan saja menjadi tanggung jawab keamanan, tetapi peran serta masyarakat yang peling penting disini dengan menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung. Sektor kebersihan juga merupakan hal yang tak kalah pentingnya, agar masyarakat tidak membuang sembarangan sampah-sampah plastik bekas makanan dan minuman.

Hal senada juga diungkapkan oleh Hendrikus Hendro Pati dari Homestay Ratenggaro yang merasa sangat terbantukan dengan adanya pelatihan ini yang menggunakan bahan lokal seperti bambu, anyaman, kulit jagung dan tenun ikat sehingga mempunyai nilai jual untuk membantu ekonomi keluarga.
“Kami mendapat pengetahuan untuk menggunakan bahan lokal seperti bambu menjadi produk yang berguna, bisa menambah pendapatan masyarakat. Ini yang kedua sangat mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas Pariwisata. Sangat wajar karena kabupaten SBD sangat potensial untuk menjadi daerah wisata kedepannya” tuturnya pada media.
Lebih jauh Hendrikus mengharapkan agar pelatihan model seperti ini berkelanjutan karena sangat bermanfaat bagi peningkatan SDM. Pelatihan dengan menggunakan bahan-bahan lokal serta informasi lainnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. (OC$),–
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
