Heboh, Praktek Kawin Tangkap/Kawin Paksa di SBD Masih Ada

Suarajarmas.com – Praktek kawin tangkap atau kawin paksa masih saja terjadi di Sumba Barat Daya (SBD), dimana seorang anak perempuan diambil paksa okeh sekelompok orang untuk dijadikan istri oleh anggota keluarganya.

Seperti yang tertangkap okeh kamera masyarakat dan CCTV, pada Kamis (7/9/2023) seorang gadis yang diambil secara paksa okeh sekelompok pemuda lalu dimuat di mobil pick up lalu dibawa lari. Gadis yang sedang berjalan tersebut hanya bisa merontakdan menangis saat digendong secara paksa oleh orang-orang yang tak dikenalnya.

Terpantau oleh kamera kejadian tersebut terjadi di simpang pertigaan desa Waimangura Kecamatan Wewewa Barat Kabupaten SBD Nusa Tenggara Timur.

Informasi yang diperoleh media ini dari warga masyarakat setempat yang sempat mengambil video mengatakan, sekelompok warga masyarakat sudah menunggu di lokasi dari jam 8 pagi. Sekitar jam 10an muncul motor bebek berwarna biru yang diduga motor ojek yang muat penumpang seorang gadis. Sang pengendara motor berhenti untuk beli rokok dan sang gadis yang sedang menunggu tiba-tiba diangkat oleh sekelompok pemuda yang sudah menunggu dari pagi tersebut lalu menggendong gadis tersebut membawanya ke mobil pick up yang sudah menunggu.

“Pada saat pengendara motor beli rokok gadis itu diambil paksa oleh sekelompok anak muda dan dimuat di mobil pick up yang sudah menanti. Anak gadis itu berteriak mama tolong, mama tolong sambil menangis” kata warga yang melihatnya.

Informasi yang diperoleh oleh masyarakat setempat, mobil pick up yamg membawa lari gadis tersebut menuju desa Weekura, sedangkan anak gadis yang diculik ini berasal dari Loura.

Sangat disayangkan jika kejadian tersebut benar adanya dan anak perempuan tersebut belim siap dan bersedia untuk menikah.

Baca Juga :   Bupati SBD Lantik 34 Penjabat Kepala Desa

Jika informasi ini betul, biasanya setelah sampai di rumah kekuarga laki-laki yang menculik gadis tersebut akan mengirim utusan untuk menyampaikan pada kekuarga perempuan mereka ada pada mereka. Dan pihak kekuarga laki-laki akan bersedia menyelesaikan proses adat Sumba untuk atau bertanggung jawab atas penculikan tersebut. *** (Octa/002-23).-