BUPATI YOHANIS DADE MINTA TINDAK TEGAS YANG TIDAK BERTANGGUNGJAWAB PENYEBAR ISU DI MEDSOS

by -1,206 views

Waikabubak-SJ………… Bupati Sumba Barat Yohanis Dade,SH., memimpin rapat koordinasi terkait bersama Forkompimda, Ketua Pengadilan Negeri Waikabubak, Ketua Pengadilan Agama Waikabubak, Tokoh Agama KristenProtestan, Katolik, Hindu, ketua MUI Sumba Barat, ketua FKUB Sumba Barat menyikapi pemberitaan di media sosial  tentang dinamika toleransi  kehidupan umat beragama di Kabupaten Sumba Barat,tanggal 12 Juli 2021 di aula Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat.

Turut hadir Bupati Sumba Barat Yohanis Dade,SH, Dandim 1613/SB Letkol Czi. Irawan Agung Wibowo, S.T.M, Tr (Han), Wakapolres Sumba Barat Kompol Yulius Ola, Ketua Pengadilan Negeri Waikabubak, Ketua Pengadilan Agama Waikabubak, Kejari Sumba Barat, Plt Sekda Drs. Daniel Pabala, ketua FKUB, ketua MUI, Tokoh Agama Katolik, Hindu, Kristen Protestan, para Asisten pada Setda Sumba Barat.

Bupati Sumba Barat Yohanis Dade,SH mengatakan bahwa saya sangat bersyukur karena masyarakat kita Provinsi Nusa Tenggara Timur khususnya Sumba Barat kehidupan umat beragama sangat  rukun.

Bupati Yohanes juga, mengatakan sebagai pimpinan di daerah ini ia sangat berharap agar kita saling menopang, saling menghargai, saling menghormati dan kita bergandeng tangan memberi pencerahan dan arahan serta petunjuk kepada masyarakat di daerah ini apalagi terkait dengan semakin maraknya informasi berkembangnya isu-isu yang tidak dapat di pertanggung jawabkan.

Kegiatan yang dilakukan oleh para Pejuang Subuh Sumba (PSS) sudah dimainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang ingin memecah belah kerukunan hidup antar umat beragama di daerah ini dan ini.

Adapun catatan kecil juga yang sempat saya baca terutama dari hasil klarifikasi Kapolres Sumba Barat terkait pejuang subuh maka saya perlu menyampaikan bahwa dengan banyak munculnya berita yang belum pasti dan dapat berpotensi memecah belah kekuatan antar umat beragama di wilayah Kabupaten Sumba Barat sehingga kita semua tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berkembang saat ini.

Adanya pernyataan dan berita bermuatan Hate spech/ujaran kebencian yang saat ini banyak dibagikan di media sosial terkait dengan keberadaan kelompok Pejuang Subuh Sumba yang mereka firalkan di media sosial.

 Tujuan dari Pejuang Subuh Sumba, Bupati Yohanis menghimbau dan mengajak pemuda remaja islam untuk membiasakan diri dalam melakukan sholat subuh bersamaan karena selama ini sholat subuh sangat sulit untuk di lakukan oleh anak-anak remaja beragama islam.

Tentu juga kita mewaspadai bahwa adanya oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan dengan adanya pejuang subuh sumba tersebut karena di Kabupaten Sumba Barat di tahun 1985 sempat adanya gesekan-gesekan antara umat beragama dengan hasutan dari oknum yang tidak bertanggung jawab.

Bupati Yohanis juga berharapkan agar  setelah  pertemuan ini bagi para tokoh-tokoh terkait untuk menghimbau kepada umatnya agar tidak terpancing dengan adanya isu-isu yang berkembang baik di media sosial maupun di kasat mata kita di Kabupaten Sumba Barat.

Inti dari pertemuan ini, mari kita bergandengan tangan dalam membangun kerukunan umat beragama di Bumi Padaeweta Mandaelu Sumba Barat tercinta ini dan apabila masih terdapat oknum/Akun palsu di media sosial yang masih memfiralkan Pejuang Subuh Sumba ini maka, kita percyakan kepada pihak berwenang dalam hal ini TNI-POLRI untuk menangani guna menjaga situasi kerukunan umat beragama tetap berjalin dengan baik.

“Pemerintah Kabupaten Sumba Barat akan berkomitmen untuk membuat suatu program dalam pertemuan antara tokoh-tokoh Agama, tokoh masyarakat bersama dengan tokoh-tokoh terkait untuk membahas tentang Kerukunan umat beragama selama dua bulan sekali dilaksanakan serta menyampaikan kepada Kepolisian Resor Sumba Barat untuk segera lakukan penyelidikan oknum yang menyebar isu-isu provokasi,”ungkap Yohanis Dade.

Sementara itu, Dandim 1613/SB Letkol Czi. Irawan Agung Wibowo, S.T.M, Tr (Han) mengatakan bahwa kerukunan umat beragama di Kabupaten Sumba Barat sangat akur sekali sekali sehingga dengan adanya isu-isu Islamisasi sehingga mari kita menghindari isu-isu tersebut dan mari bersatu bergandengan tangan antara satu agama dengan agama yang lain yang ada di Kabupaten Sumba Barat tetap berjalin dengan baik.

“Untuk mengatasi firalnya pejuang subuh sumba maka seluruh tokoh-tokoh terkait agar menyampaikan kepada umatnya untuk tidak menanggapi hal tersebut namun mempercyakan sepenuhnya kepada Pihak terkait untuk menangani hal tersebut,” ungkap Irawan.

Kapolres Sumba Barat AKBP FX Irwan Arianto,S.I.K,MH yang diwakili oleh Wakapolres Sumba Barat Kompol Yulius Ola mengatakan bahwa untuk Pejuang Subuh Sumba pernah diikuti oleh anggotanya yang beragama Islam dari tahun 2018 dengan kegiatan-kegiatan yang mereka jalankan yaitu mengajak pemuda remaja muslim untuk melakukan Ibadah Sholat Subub bersama.

Menyampaikan bahwa kedepan nanti akan dilakukan kegiatan ibadah bersama antara masyarakat dengan Anggota TNI-POLRI guna mengeratkan hubungan kekeluargaan di Kabupaten Sumba Barat.

Untuk Pejuang Subuh Sumba tersebut pernah dilakukan oleh Anggota Polres Sumba Barat bersama Anggota Pejuang Subuh Sumba namun Kegiatan Sholat Subuh atau Sosial tidak keluar dari ajaran yang di jalankan selama ini.

Yang menjadi permasalahan pada Pejuang Subuh Sumba Adalah Logo yaitu Kuda hitam dan Bendera hitam tersebut. Apabila Pejuang Subuh Sumba ini hanya organissi kecil maka kami sarankan bahwa lebih bagus logo dari Pejuang Subuh Sumba tersebut ditiadakan/dipertimbangkan, dan apabila membuat logo tersebut mempunyai legal dari pengurus pusat pejuang subuh.

Kami dari Pihak kepolisian tetap melakukan monitor dan pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan yang di lakukan oleh para Pejuang Subuh Sumba guna menjaga kerukunan antara umat beragama.

Kapolres Irwan Arianto juga mengajak kepada semua Masyarakat Kabupaten Sumba Barat untuk tidak terpancing dengan adanya isu-isu yang beredar di kalangan media sosial saat ini. \

“Mari kita bahu membahu dalam menjaga situasi kamtibmas di Kab. Sumba Barat tetap berjalan aman dan kondusif,”ungkap Irwan.

Bupati Sumba Barat bersama Forkompimda, Ketua Pengadilan Negeri Waikabubak, Ketua Pengadilan Agama, ketua MUI, ketua FKUB, Plt Sekda, Tokoh Agama Katolik, Kristen Protestan, Hindu, para Asisten pada Setda Sumba Barat menyatakan sikap sebagai berikut: Pertama, Kami  setia kepada  Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, .Kami mendukung Kepolisian Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia serta penegak  hukum lainnya, terhadap oknum penyebar paham, organisasi masyarakat yang bertentangan dengan ideologi pancasila, radikalisme, serta terorisme dan oknum yang membangun opini untuk memecah belah kerukunan umat beragama di Kabupaten Sumba Barat  sebagai wujud kehadiran negara dalam menjaga kerukunan antar umat beragama yang selama ini terjalin dengan baik. Ketiga, Kami bertekad membangun kebersamaan dalam semangat  saling menghormati dan  saling menghargai, mengembangkan langkah-langkah dialog diantara seluruh komponen masyarakat Sumba Barat dalam rangka menyatukan langkah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing guna mewujudkan iklim yang kondusif bagi terselenggaranya kegiatan pemerintahan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan. Keempat, Kami bertekat untuk meningkatakan kesadaran dan tanggung jawab seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten ini untuk menciptakan kerukunan umat beragama menuju terciptanya keamanan dan ketertiban guna stabilitas nasional di Kabupaten Sumba Barat. Kelima, Kami bertekad untuk menepis intoleransi yang dilakukan melalui media sosial dan akan berupaya untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan khususnya umat beragama masing-masing untuk mengembangkan toleransi kehidupan beragama. Keenam, Kami mendesak aparat penegak hukum agar dapat menyikapi isu sara yang berkembang melalui media sosial sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang beragama dan dapat menjurus kepada konflik sosial. Ketujuh, Kami menyampaikan bahwa sesuai informasi yang disampaikan oleh FKUB dan Pejuang Subuh Sumba organisasi ini bertujuan mulia dibidang kerohanian dan kemanusian sehingga relevan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Sumba Barat. Kedelapan, Kami menyatakan bahwa isu islamisasi di Kabupaten Sumba Barat yang dikemukakan melalui media sosial dan afiliasi kelompok pejuang subuh Sumba kepada HTI dan FPI adalah tidak benar. *** (Yunia/004-21),-