Tambolaka-SJ……. Dengan beredarnya informasi di media sosial melalui Suara Jarmas.com dan media lainnya mengenai apotek yang melakukan pengambilan swab rapid antigen dan dilakukannya inspeksi mendadak (SIDAK) oleh Satuan Tugas (Satgas) penanganan COVID/SBD, dr. Yosi Rizal Gunawan selaku pemilik Apotek Sinar2 Tambolaka sekaligus yang bertanggung jawab pada hasil pemeriksaan rapid antigen, memberikan beberapa klarifikasi untuk meluruskan informasi yang beredar di publik saat ini.

Pemilik apotek Sinar2 dr. Yosi Rizal Gunawan ditemani analis Antonius Bani, AM.Ak menegaskan bahwa tenaga yang melakukan pemeriksaan Swab Antigen di Apotek SINAR 2 Tambolaka ini adalah Tenaga ANALIS yang bersertifikat.
Yosi juga menjelaskan bahwa pihaknya sudah berusaha melakukan pemeriksaan MENDEKATI dengan prosedur baku yang ditetapkan, diantaranya alat Swab Antigen/alat rapid yang digunakan memiliki ijin resmi AKL dari Kementrian Kesehatan.
“Nama alat yang kami gunakan adalah GLINE-2019-nCoV Ag produk dari YHLO dan didistribusikan resmi oleh PT. Setia Anugerah Medika di Jakarta, alat kedua yang kami gunakan adalah DEEPBLUE COVID 19 produk dari PT. ANHUI, China dan didistribusikan resmi oleh PT. Interskala Medika Indonesia, ungkapnya.
Lebih lanjut Yosi mengatakan terkait Alat Pelindung Diri (APD) digunakan oleh Analis adalah APD level 3 sesuai dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) Kemenkes revisi 05. Adapun dalam foto yang diupload di media bahwa petugas kami tidak menggunakan APD karena petugas kami di foto pada saat melakukan persiapan (bisa dilihat dengan teliti di foto tersebut). Dirinya juga mengakui, memang seharusnya petugas kami mempersiapkan APD di dalam ruangan bukan di tempat kerja seperti di foto.

Ruang Pengambilan Sampel, pendaftaran, pemeriksaan dan pengambilan sampel dilakukan di ruang terbuka, yaitu di lahan parkir Apotek SINAR 2, dengan difasilitasi Swab Chamber.
“Sejak beberapa waktu lalu kami tidak menggunakan Swab Chamber ini dikarenakan jatuh terkena angin dan kacanya pecah. Situasi kami saat itu yang ditemukan oleh Satgas saat melakukan Sidak” jelasnya.

Untuk keamanan dan keselamatan, limbah medis dan tata cara pemusnahan yang digunakan oleh Apotik Sinar2 Tambolaka memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) pihak RS Karitas Weetabula dalam hal pemusnahan sampah medis B3 Covid-19, karena RS Karitas mempunyai Incenerator (tempat pembakaran sampah/mayat) tempat pengelolaan limbah medis sesuai pedoman dari Kementrian Lingkungan Hidup.
“Mengenai pelaporan hasil test swab, setelah mendapatkan hasil dari alat rapid dan hasil itu kami ketik tiap-tiap orang. Jadi bukan menggunakan tulisan tangan atau kami sudah dengan sengaja menyiapkan hasil Negatif. Apabila didapatkan hasil yang samar atau membingungkan, maka petugas kami akan langsung menghubungi saya untuk memastikan hasil yang benar” tutur dr. Yosi.

Hingga saat ini jumlah pemeriksaan yang sudah dilakukan mencapai angka 433 orang, dimana 429 orang NEGATIF dan 4 orang yang POSITIF (1 orang dari Sumba Barat, 3 orang SBD). Apabila ada hasil positif, maka analis kami melaporkan ke Posko COVID-19. Selain itu, hasil pemeriksaan swab langsung dimasukan dalam all recount aplikasi sehingga semua langsung tahu dinkes, satgas langsung tahu.
“Untuk pelaporan, data kami masukan real time dalam all recount aplikasi. Kalau ada yang positif, kita langsung mengerjakan lembar 5 dan 6 (lembar epidemiologi) untuk dikasikan ke Dinas Kesehatan. Saya mengakui kesalahan kami karena tidak koordinasi dengan Dinkes SBD” katanya.

Tambhanya, kami minta maaf karena selama ini tidak melaporkan secara tertulis. Kami mengakui kesalahan yang saya buat adalah Saya tidak meminta ijin, tidak melaporkan diri kepada pihak yang bertanggung jawab (dalam hal ini Dinas Kesehatan Sumba Barat Daya dan Satgas COVID-19/SBD) bahwa saya melakukan pemeriksaan Swab antigen di Apotek Sinar 2. Sehingga saya tidak memiliki REKOMENDASI pemeriksaan sebagaimana mestinya.
Dalam kesempatan itu juga dr. Yosi menjelaskan mengenai perbedaan hasil swab rapid antigen dengan hasil Posko Satgas COVID-19/SBD, dikarenakan alat yang digunakan apotik Sinar2 Tambolaka memiliki sensivitas dan spesifisitas yang lebih rendah dari alat yang dimiliki posko COVID/SBD.

“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya karena kesalahan dan kelalaian saya ini. Kami menyadari beberapa kali didapatkan hasil yang berbeda dengan Posko, itu dikarenakan alat yang kami gunakan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih rendah dari alat yang dimiliki POSKO Covid SBD. Pembacaan hasil alat yang kami miliki menggunakan mata telanjang, sedangkan pembacaan hasil dari POSKO Covid SBD sudah menggunakan alat yang Canggih. Sehingga masyarakat Sumba Barat Daya tidak perlu meragukan lagi hasil dari POSKO Covid 19” ujar dr. Yosi.
Setelah dilakukan SIDAK pada tanggal 17 Maret 2021, keesokan harinya dr. Yosi langsung menghadap dan berkonsultasi dengan Kabid Yanmed Dinkes SBD mengenai masalah yang dialami, dan dirinya mendapat masukan yang sangat bermanfaat sehingga mengambil beberapa keputusan, yaitu menghentikan pemeriksaan Swab di Apotek Sinar 2 ini karena tempat yang kurang memadai sebagai tempat pemeriksaan swab.
Walaupun sudah memiliki ijin klinik di Sumba Barat, dirinya juga mengakui belum memiliki ijin laboratorium/klinik/fasyankes di SBD. Pihaknya akan fokus melakukan pemeriksaan swab di KLINIK SINAR KEMULIAAN yang sudah memiliki ijin resmi di depan pertamina Benita kabupaten Sumba Barat saat ini.
“Apabila suatu saat nanti, saya akan melakukan pengembangan usaha kembali di SBD, maka saya wajib mengikuti peraturan–peraturan yang berlaku” tegasnya.
Dalam kesempatan itu juga dr. Yosi berpesan pada masyarakat untuk patuh pada protocol kesehatan dan jangan ragu dengan hasil atau keputusan yang dikeluarkan oleh Satgas COVID/SBD.
“Dengan adanya klarifikasi dari kami saat ini, kami mau sampaikan kami tidak punya niat untuk mengambil keuntungan dengan mempositifkan/menagtifkan orang. Seandainya ada hasil yang positif, kita harus patuhi karena saat ini kematian karena COVID di Indonesia sekitar 2 % sampai 3%. Walaupun kecil jangan sampai 2 atau 3% itu ada pada diri kita atau keluarga kita,“pungkasnya. *** (Octa/Ebuga/002-010/21).-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
