Peduli Kaum Disabilitas, HI Akan Dampingi Desa Program PBEI

Tambolaka – SJ ……………………. Humanity and Inclusion (HI) dampingi  desa defenitif sebagai penyebaran informasi dan peningkatan kesadaran tentang Pembangunan Ekonomi Inklusif Berkelanjutan (PEIB) di kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Kegiatan ini sendiri dilaksanakan di aula Rumah Budaya Tambolaka, pada Kamis, 6 Desember 2018 yang dihadiri oleh Bappeda SBD, PMD SBD, kepala desa Mali Iha dan Kepala Desa Laga Lete beserta tim dari masing-masing desa yang akan difokuskan dalam pelibatan kaum disabilitas dalam perencanaan dan pembangunan desa.

PEIB adalah proyek yang berfokus pada Pembangunan Ekonomi Inklusif yang Berkelanjutan. Proyek ini menekankan pada penguatan dan pemberdayaan kelompok rentan agar memiliki akses yang setara dalam proses pembangunan ekonomi di 6 kabupaten di propinsi NTT (SBD, Alor, Lembata, Rote, Manggarai Barat, Belu).

Tujuan Umum program ini adalah berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan melalui partisipasi Organisasi Masyarakat Sipil dalam pembangunan daerah yang inklusif dan merata di Provinsi NTT.

Project Officer HI, Emiliana Y Wungo saat memberikan pelatihan pada peserta

Adapun tujuan Khususnya adalah adanya akses yang lebih baik bagi kelompok yang paling rentan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, untuk penyediaan layanan dan pembangunan sosial-ekonomi yang lebih baik di 6 kabupaten di NTT, melalui partisipasi dan kerja sama yang lebih luas dalam perencanaan dan proses pembangunan ekonomi daerah.

Kegiatan yang dibuka oleh Bappeda SBD ini Didanai oleh European Union (EU) dengan Total Anggaran €1.000.000 (75% dari dana hibah UE) dan durasi 42 bulan yang dimulai sejak Mei 2018 hingga Oktober 2021. Berlokasi di 6 Kabupaten Belu, Manggarai Barat, Lembata, Alor, Rote, dan Sumba Barat Daya dengan Tim di setiap kabupaten terdiri dari 2 orang yang berasal dari: HI dan CIS Timor.

Baca Juga :   Perlu Sinergi Bersama Antara Kemnaker Dan Jarnas Anti TPPO Untuk Atasi Perdagangan Orang

Kepada media Emiliana Y. Wungo Project Officer HI mengatakan hasil yang ingin dicapai adalah Organisasi masyarakat yang mewakili kelompok rentan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, di 6 kabupaten di NTT diperkuat dan berpartisipasi aktif dalam pemerintahan daerah dan proses pembangunan ekonomi daerah. Sedangkan untuk Pemerintah daerah, penyedia layanan ekonomi dan sektor swasta mampu untuk memprioritaskan dan menjawab kebutuhan kelompok rentan dengan lebih baik, dalam hal mengakses berbagai peluang ekonomi melalui pembangunan partisipatif dari perencanaan strategis daerah.

“Sehingga kelompok rentan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, di 6 kabupaten di NTT, telah meningkatkan kapasitas mereka untuk mengakses berbagai peluang mata pencaharian melalui rancangan percobaan dan implementasi dari rencana ekonomi strategis” ungkapnya.

Dipilihnya  desa defenitif ini karena  Desanya  mudah dijangkau dari Kota Kabupaten dengan jarak tempuh ± 1 jam, Desa memiliki akses transportasi yang baik, tingkat keamanan tinggi, bisa mengakses jaringan telpon, memiliki penyandang disabilitas untuk usia produktif (15-56 tahun) dan Pemdes bersedia untuk menerima perubahan.

Kepala Desa Laga Lete Kecamatan Wewewa Barat, Bernardus B. Malo  saat diwawancarai media

“Sebenarnya ada 3 desa yang diundang tetapi yang hadir cuma 2 desa, diharapkan setelah pendampingan ini akan ada desa destinasi yang menjadi percontohan bagi desa-desa lain untuk program PEIB ini” tuturnya lebih jauh.

Kepala Bidang Evaluasi Perkembangan Desa Pembangunan Dinas PMD SBD Samuel Bili, S.Ap., kepada media SJ mengatakan  kegiatan ini menjadi sangat penting, sehingga para kaum disabilitas itu bisa mendapat perhatian dari pemerintah desa didalam pembangunan ekonomi inklusif bahkan dtingkat kabupaten dan provinsipun sampai pusat menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Sam Bili juga menghimbau agar peserta  yang hadir pada saat ini agar betul-betul mengikuti kegiatan sehingga dalam prakteknya nanti di 36 bulan waktu pendampingan bisa direalisasiakan dengan baik dan program ini dapat berkelanjutan.

Baca Juga :   Berbagi Kasih di Desa Kambata Tana

Bernardus B. Malo Kepala Desa Laga Lete  sangat respon dengan kegiatan ini karena merupakan bagian dari pembangunan manusia khususnya di SBD. Dirinya sangat mengapresiasi HI bersama Pemda yang sudah memfasilitasi pertemuan hari ini.

“Selama ini yang  saya lihat kaum marginal tidak difungsikan, dan kami di Laga Lete setelah saya menjadi kepala desa dari 3 tahun lalu,  saya kelompokan orang-orang ini untuk bisa diperdayakan. Setelah kemabli ke desa nanti saya akan langsung menindaklanjuti hasil dari pelatihan saat ini, apalagi sekarang ini jadwal Musrenbangdes” ungkapnya.

Dirinya juga mengakui bahwa kemampuan yang dimiliki di desa masih terbatas.  Kami harapkan adanya pendampingan oleh HI,  Pemda dan Ormas yang ada,  kami harapkan kita bekerja sama dengan baik sehingga bisa mewujudkan keterlibatan kaum disabilitas yang ada di desa Laga Lete. Mereka adalah bagian masyarakat yang ada di desa, mereka mempunyai hak yang sama dengan kita.

“Dengan Dana desa yang ada di Laga Lete sebesar  1.4 M lebih ini sudah ada PTOnya, sehingga kami harapkan adanya dukungan dari pihak-pihak terkait agar kami tidak salah dalam pembuatan anggaran di desa kami. Kami juga berharap 3 atau 4 tahun kedepan bukan cuma 3 desa ini yang bisa mengakomodir kaum disabilitas tetapi seluruh desa kelurahan yang ada di SBD” tuturnya lebih jauh.

Samuel Bili,S.Ap perwakilan Dinas PMD SBD

Hal senada juga diungkapkan oleh kepala desa Mali Iha, Yulius Yingo Rendi yang sangat berterima kasih pada HI yang memfasilitasi kegiatan ini.  Setelah dirinya  merenungkan kaum disabilitas yang mempunyai kekurangan itu juga mempunyai hak hidup yang sama. Pemerintah masih mempunyai perhatian pada mereka, maka apapun hari ini yang saya dengar akan saya tindak lanjuti di desa nanti.

Baca Juga :   MAHASISWA LEWA KRITISI TUMPUKAN SAMPAH YANG BERSERAKAN DIPINGGIR DANAU KABUHAPANG

“Sebagai kepala desa saya akan berusaha untuk melibatkan kaum disabilitas dalam rangka peningkatan ekonomi mereka. Saya  juga berharap adanya dukungan lebih lanjut dari Pemda, LSM bahkan DPRD  karena keterbatasan SDM yang dimiliki oleh aparat desa, sehingga secara bersama-sama bisa mengangkat kemiskinan yang ada didesanya. Pelatihan, pendampingan masih sangat kami butuhkan untuk memberikan ketrampilan bagi kaum disabilitas yang ada di desanya. Jumlah kaum disabilitas di Mali Iha ada 14 orang. Saya menjemput program ini karena sangat pentuing dan berguna bagi kami di Mali Iha” tuturnya pasti pada media SJ.

Kepala Desa Mali Iha Kecamatan Kodi,  Yulius Yingo Rendi

Dirinya juga menghimbau masyarakat agar jangan hidup ketergantungan, jangan seperti gerobak yang kalau sudah didorong baru bergerak, jika tidak didorong diam ditempat saja. Tidak selamanya orang memperhatikan kita terus, tetapi kita harus bisa mengembangkan apa yang sudah ada pada diri kita yang diberikan oleh Tuhan.

Kegiatan ini sendiri dibuka dan ditutup oleh Bappeda SBD, mewakili Kaban, Erna Megawati Manna ketua SPAM-KPLT membuka dan menutup kegiatan ini di ruang pertemuan Rumah Budaya Weetebula Kabupaten SBD.  (OC$),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.