Satgas Covid-19/SBD Temukan Petugas Pemeriksa Rapid Antigen Sarjana Bahasa Inggris dan Tenaga Adimistrasi

by -7,088 views

Tambolaka-SJ……….. Polemik yang sempat viral di media massa tentang perbedaan hasil pemeriksaan rapid antigen Satuan Tugas (Satgas) COVID-19/SBD dengan rumah sakit maupun dokter praktek akhirnya mulai terkuak dan terjawab kebenaran akan hasil pemeriksaan swab rapid antigen.

Satgas COVID-19/SBD melakukan sidak di apotik dan klinik di SBD

Tim Satgas COVID-19/SBD yang dipimpin langsung oleh Kadis Kesehatan drg. Yulianus Kaleka melakukan inspeksi mendadak (sidak)  Rabu (17/3/21) pada beberapa apotik dan dokter praktek  yang melakukan pemeriksaan swab radip antigen dan mendapati banyak kejanggalan yang terjadi di lapangan.

Adapun Klinik Apotik yang dilakukan Sidak oleh Satgas COVID-19/SBD adalah Apotik Sehat Sejahtera yang beralamat di pertigaan Rumah Sakit Karitas Weetabula, Kelurahan Weetabula Kecamatan Kota Tambolaka SBD, Klinik Sinar Kemulian yang beralamat di samping hotel Sumba Sejahtera Desa Kalena Wanno, Kecamatan Kota Tambolaka SBD dan Klinik Sehat Sejahtera,yang beralamat di jalan Waekelo, Desa Radamata, Kecamatan Kota Tambolaka, SBD Nusa Tenggara Timur.

Hasil pemeriksanaan oleh Satgas COVID-19/SBD ditemukan Klinik Apotik tersebut telah membuka praktek pengambilan rapid antigen terhadap para pelaku perjalanan dari bulan Desember 2020. Ditemukan tenaga yang digunakan dalam pengambilan swab rapid antigen tersebut bukan dari tenaga Analisis yang bersertifikat .

Tenaga yang melakukan pengambilan swab rapid antigen dari jurusan Bahasa Inggris dan tidak mempunyai  sertifikat serta  pelatihan khusus dari Dinas Kesehatan SBD. Satgas juga menemukan surat yang dikeluarkan oleh Klinik tersebut dengan tulisan NEGATIF dan pengisian format lainnya dengan mudah diisi dengan tulisan tangan dokter atau perawat pemeriksa.

Yang lebih mengagetkan lagi dari daftar buku register yang ditemukan oleh Satgas COVID-19/SBD, klinik telah mengeluarkan surat keterangan sebanyak 2.340 lembar dengan hasil pemeriksaan negatif. Dan saat ini  untuk sementara ketiga apotik tersebut  diminta  tutup tidak melayani pemeriksaan rapid antigen.

Kepala posko Satgas COVID-19/SBD, Mathias Jenga  yang ditemui disela-sela kegiatan Sidak mengatakan dirinya merasa senang karena akhirnya mendapatkan langsung saat petugas apotek sedang melayani pemeriksaan  rapid antigen dengan tidak berpedoman pada protap yan gseharusnya.

Petugas klinik/apotik sedang melakukan pemeriksaan swab rapid antigen dengan APD yang terbuka dadanya dan tanpa penutup wajah

“Kita sangat kaget juga bahwa bisa menemukan adanya pemeriksaan oleh petugas apotek, tetapi tidak mengikuti protap pemeriksaan swab rapid antigen, sebab yang bersangkutan bukan analis melainkan sarjana bahasa Inggris,” ungkap Mathias Jenga.  

Dinya menjelaskan untuk membuka ijin praktek rapid antigen harus memenuhi syarat-syarat tertentu diantaranya surat ijin yang dimiliki oleh fasilitas kesehatan, ada dokter penanggung jawab dan ada 2 orang tenaga analis yang bersertifikat.

Selain itu harus memiliki kelengkapan sarana laboratorium yaitu ruang pengambilan sampel dan alur pemeriksaan, ruang representative, Alat Pelingdung Diri (APD), Ijin edar, tempat penyimpanan dan tata cara pemusnahan.

“Untuk masalah lainnya seperti adminitrasi, biaya/tariff dan pelaporan ke Dinas Kesehatan harus diperhatikan. Ini virus menular yang perlu kehat-hatian dari petugas kesehatan, karena petugas sendiripun bisa tertular dan terjangkit jika tidak hati-hati” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kanit Intelkam Polres SBD Bripka Hengki Bili, yang turut melakukan Sidak bersama Satgas COVID-19/SBD mengaku heran setelah menemukan proses pemeriksaan rapid antigen yang dilakukan oleh klinik dan apotik tanpa mengikuti protap kesehatan yang ada.

“Kalau di Satgas COVID atau Puskesmas pemeriksaan swab rapid antigen harus mengikuti protap kesehatan yang benar, sangat steril bahkan tempatnya pun ada tempat khusus” ujarnya.

Lebih lanjut Hengki menjelaskan setelah melalui proses pemeriksaan hasil laboratorium dan diperoleh hasil NEGATIF atau POSITIF baru petugas kesehatan mengeluarkan surat hasil pemeriksaan.

“Tapi yang kita temukan disini format surat hasil pemeriksaan yang menyatakan NEGATIF sudah tersedia dan bisa dengan tulis tangan, kasian kalau masalah COVID ini kita bisniskan, padahal sangat berbahaya untuk kita semua” tuturnya.

Dengan adanya hasil Sidak yang ditemukan oleh Satgas ini, Kanit Intelkam Polres SBD ini berharap agar masyarakat lebih percaya pada petugas kesehatan yang sudah mendapat sertifikat dan jika masih ragu agar langsung ke posko Satgas COVID-19/SBD untuk konsultasi dan melakukan pemeriksaan.

“Semoga dengan kejadian ini, polemik yang sudah berkembang beberapa hari yang lalu tentang perbedaan hasil pemeriksaan swab rapid antigen bisa terjawab dan masyarakat tidak perlu resah. Satgas COVID-19/SBD adalah fasilitas kesehatan yang resmi dari Pemerintah, percayakan pada mereka, jangan kita beropini lagi” ujarnya sambil berlalu. *** (Octa/002-21),-