Lu Pelindima Membalas Pantun Forum Adat Pangadangu Ma Hamu

Waingapu-SJ…………. Lu Pelindima mengkritik Forum Adat Pangadangu Ma Hamu yang berinisasi Merevitalisasi Budaya Adat Kematian di Kabupaten Sumba Timur. Dirinya mengatakan Sumba di kenal sebagai Tanah Marapu yang memiliki kekayaan tradisi adat istiadat sebagai identitas dan kehormatan yang patut di banggakan bagi masyarakat Sumba. Budaya Sumba tidak perlu di revitalisasi atau di sederhanakan jika di lakukakan,  maka kita sudah melanggar nilai kultur budaya kita yang di wariskan nenek moyang (leluhur) kita.

Demikian dituturkan Pelindima saat di jumpai media ini Selasa (26/7/2022) di depan Gedung GKS Waingapu Kelurahan Kamalaputi, Kecamatan Kota Waingapu Kabupaten Sumba Timur seusai membuka kegiatan seminar Forum Adat Pangadangu Ma Hamu.

Lu Pelindima menegaskan atas nama Pemerintah mengapresiasi kegiatan ini dan saya di beri mandat oleh Bapak Bupati Sumba Timur untuk membuka kegiatan ini dengan resmi. Pelindima mengatakan saya atas nama pribadi di luar jabatan saya sebagai Asisten 3 mengkritisi kegiatan Forum Adat Pangadangu Ma Hamu yang menginisiasi revitalisasi adat kematian di Kabupaten Sumba Timur.

Lu Pelindima, Asisten 3 Sekda Kabupaten Sumba Timur

“Bagi saya,  kalau adat istiadat ini kita rubah apa yang patut kita banggakan sebagai orang sumba dari segi budaya, identitats kesumbaan kita melekat pada tradisi budaya yang arif dengan system nilai sosial yang mempererat hubungan satu sama lain yang mengikat rasa persaudaraan kita dalam bingkai Gotong Royong” ungkapnya.

Lebih lanjut Pelindima mengatakan bahwa dirinya juga sebagai Tokoh Adat, dari segi budaya secara umumnya  tidak perlu di rubah karena yang dapat membedakan kita dari daerah lain adalah Budaya. Budaya kita mengandung tatanan nilai yang sudah melekat sebagai identitas kita yang seharusnya kita banggakan sebagai Orang Sumba.

Baca Juga :   Kapolres Sumba Barat Bagikan Bantuan Kepada 11 KK Terdampak Covid-19

“Saya menanggapi tentang adat kematian yang membatasi makan dan minum serta hari penguburan yang diputuskan paling lama 8 hari dengan istilah paka meting dari pihak yera maupun ana kawini, sebenarnya dalam kultur budaya Sumba tidak ada yang bersifat memaksa tergantung pada kondisi material masyarakat.

“Kalau masyarakat merasa mampu iya dijalankan, jika tidak disesuaikan dengan kondisi ekonominya, Sumba seharusnya mempertahankan keunikan budayanya yang mengutamakan persatuan dan persaudaraan sebagai bentuk ikatan keluarga yang kokoh” pungkasnya. *** (Dennis/006-22).-