LOMBA CERDAS CERMAT KADER POSYANDU DESA WEE LONDA

Tambolaka-SJ………………… Kader Posyandu adalah kader yang langsung beruhubungan dengan masyarakat untuk memberikan pelayanan bagi ibu hamil, menyusui dan balita. Peran ini merupakan peran sangat penting guna mewujudkan program pemerintah bagi kesehatan ibu dan anak serta penanganan masalah stunting yang merupakan momok bagi provinsi NTT.   

Dalam upaya mengevaluasi tingkat pengetahuan para kader yang selama ini sudah mendapat bimbingan dari dinas kesehatan dan bidan desa, Pemerintah Desa Wee Londa menyelenggarakan lomba cerdas cermat pada Kamis, 23 Januari 2020 di kantor desa Wee Londa Kecamatan Kota Tambolaka Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Dalam laporannya ketua panitia penyelenggara Leonard B. Bulu mengatakan lomba cerdas cermat ini diharapkan menjadi motivasi bagi para kader untuk meningkatkan pengetahuan dan lebih bersemangat dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya.

Pimpinan 3 desa dan PD Kecamatan Kota Tambolaka saat acara pembukaan lomba cerdas cermat

“Dengan kegiatan lomba ini paa kader tidak hanya bisa menimbang, tetapi mempunyai rasa tanggung jawab dalam menjalankan tugasnya serta selalu mengikuti perkembangan perkembangan informasi kesehatan, karena kader adalah ujung tombak pelayanan kesehatan di desa” ungkapnya.

Leonard juga berharap pelayanan oleh para kader di desa dapat mendukung pembangunan di desa Wee Londa khususnya dan bagi bangsa dan negara pada umumnya serta demi kemuliaan nama Tuhan.

Dipantau oleh media ini cerdas cermat ini diikuti oleh kader dari 4 dusun yaitu kelompok Kembang Melati, Mentari Pagi, Tunas Kelapa dan Anggrek. Juri dalam kegiatan cerdas cermat ini adalah dr. Darling Nuban dari Puskesmas dan Bidan Desa Marling Rambu Konga. Lomba cerdas cermat ini juga disaksikan oleh 3 kepala desa yaitu kepala desa Watu Kawula Laurensius Toda, Kades Kalena Wanno Vinsensius Malo Ngongo dan Kades Wee Londa Anisetus Yosep Nono, Tim Pendamping Desa John Dapa beserta aparat desa Wee Londa dan masyarakat yang turut hadir menyaksikan lomba tersebut.

Baca Juga :   Pemdes Bisesmus Salurkan Dana 51 Juta Untuk 85 KK Terdampak Covid-19
Ketua Panitia Leonard B. Bulu saat menyampaikan laporannya

Adapun yang menjadi  juara I dalam lomba ini adalah kelompok Tunas Kelapa dari dusun II dengan toal poin 845, Juara II kelompok Anggrek dengan total poin 470, selanjutnya diikuti oleh Mentari Pagi dengan total perolehan poin 405 dan Kembang Melati dengan poin 215.

Peserta mendapat hadiah tropi dan hadiah hiburan, serta mendapat penghargaan sebagai peserta lomba cerdas cermat yang diseleggaraka desa Wee Londa ditahun 2020 ini.

Salah satu juri dalam lomba cerdas cermat dr. Darling Nuban yang dihubungi media di sela-sela kegiatan mengapresiasi kegiatan ini karena mempunyai dampak pengembangan wawasan para kader. Materi yang dipakai dalam lomba ini adalah yang biasa dilakukan oleh para kader tersebut setiap bertugas melayani masyarakat.

“Sebelum lomba sudah dikasih kisi-kisi dan materinya adalah yang biasa dilakukan oleh kader ketika posyandu berjalan. Semua sudah ada di buku panduan sehingga setiap kader sudah terbiasa melakukannya” tuturnya.

Lebih jauh dr. Darling mengapresiasi antusias peserta lomba, sebenarnya hanya merupakan materi dasar tetapi karena dilombakan maka mungkin mereka agak gugup jadi masih ada yang salah-salah. Tetapi setelah direfreshing kembali peserta dapat mengingatnya kembali serta mampu memberikan jawaban yang benar.

“Menurut pengamatan kami Kader yang ada di desa Wee Londa sudah sangat bagus, tinggal perlu ditingkatkan setiap tahun sehingga dapat terus menambah ilmu dan wawasan mereka” katanya lagi.

Tim Juri dari Dinas Kesehatan dr. Darling Nuban (kanan) dan Bidan Desa Marlin Rambu Konga

Bicara stunting, NTT peringkat paling tinggi, sehingga peran serta para kader sebagai ujung tombak sangat diharapkan untuk memberikan pencerahan serta pendampingan bagi program 1000 hari pertama kehidupan bayi.  

Baca Juga :   MAXY KAKA MINTA MASYARAKAT TOTOK BERSABAR DAN TIDAK MEMBUAT KEGADUHAN

“Gerakan paling dasar untuk mencegah stunting dimulai dari keluarga, kemudian ibu kader yang ada di desa baru petugas kesehatan. Kita berharap agar kader posyandu mempunyai gedung sendiri, sehingga tidak pelu memakai rumah warga dalam memberi pelayanan. Kalau punya bangunan sendiri maka bisa tempekl  informasi-informasi penting terkait kesehatan. Dan pengembangan SDM  kader sangat penting sehingga mereka bisa optimal dalam memberikan pelayanan di desa” tutupnya mengakhiri bincang-bincang dengan media. *****

Liputan: Octav Dapa Talu,-