IDI-SBD Gelar Symposium dan Workshop Kesehatan Ibu dan Anak

Tambolaka-SJ ……… Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) gelar Symposium & Workshop PASOLA Update on Maternal and Pediatric Health 2020 di aula hotel Ella Tambolaka SBD, Sabtu (7/3/20) yang diikuti oleh dokter umum dan bidan yang tersebar di SBD, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur.

Kegiatan dibuka dengan resmi olehBupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete  didampingi ketua pelaksana Dr. dr. Erwin Adams Pangkahila, SpPD, ketua IDI SBD dr. Elfrida Marpaung, narasumber dan seluruh peserta lokakarya.

Dalam sambutannya Bupati Kornelius mengatakan bahwa hari ini adalah hari bahagia bagi SBD, yang dibuktikan dengan penyambutan dengan bunyi  gong dan tarian Sumba naik sampai keatas (lantai 2) yang belum pernah terjadi di Sumba.

Bupati SBD, dr. Kornelius KOdi Mete (kiri) dan Ketua Panitia Dr.dr. Erwin Adams Pangkahila, M. Repro, SpPD, AIFO

 Bupati SBD dr. Kornelius juga menjelaskan kondisi SBD saat ini dan NTT umumnya adalah masalah kesehatan dimana masalah stunting dan malaria masih menjadi masalah yang dihadapi tiap tahun. Mengenai stunting yang lagi trend saat ini Bupati Kornelius berharap agar adanya upaya-upaya bersama tenaga kesehatan untuk konsentrasi gizi pada ibu-ibu sebelum mengandung hingga melahirkan.

“Artinya momentum pada hari ini memastikan pada kita akan naik pada tingkat kehidupan yang lebih layak dan baik. Sesuai dengan program 7 Jembatan Emas khususnya desa sehat, SBD mempunyai target kedepan untuk bebas malaria, bebas HIV/AIDS dan bebas stunting” ungkapnya.

Bupati SBD juga memberi apresiasi pada para dokter dari Universitas Sam Ratulangi Manado Sulawesi Utara  yang menjadi narasumber dalam kegiatan symposium dan lokakarya pada saat ini. Dirinya mengharapkan agar mereka kembali lagi datang untuk nonton budaya Pasola di Sumba yang merupakan satu-satunya atraksi perang di atas kuda di dunia.

Baca Juga :   Wakil Ketua I DPRD Minta Polres SBD Tangkap Penyebar Berita Hoax

Sebelumnya ketua panitia penyelenggara Dr. dr. Erwin Adams Pangkahila, SpPD dalam laporannya mengucapakan terima kasih pada Bupati SBD dan semua pihak yang telah mendukung kegiatan Symposium & Workshop ini. Dipilihnya tema PASOLA Update on Maternal and Pediatric Health 2020, karenapenyelenggaraannya bertepatan dengan bulan Pasola di Sumba.

Pasola merupakan suatu simbol semangat perjuangan, sehingga simbol ini juga menjadi semangat perjuangan pembaruan pada kesehatan ibu dan anak tahun 2020. Dr. Erwin berharap dengan mengikuti kegiatan ini agar dapat menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian neonatal/bayi baru lahir (AKN) di NTT.  

Dirinya juga mengucapkan terima kasih  pada Prof. Dr. dr. John Wantania, SpOG(K) dan Dr. dr. Rocky Wilar, SpA(K) yang bersedia hadir sebagai pembicara dalam kegiatan ini.

“Untuk diketahui bahwa ketersediaan dokter di NTT masih sangat rendah, terendah kedua di Indonesia khususnya untuk dokter spesialis, untuk dokter spesialis anak cuma ada 1 orang dan spesialis kandungan  juga cuma satu” ungkapnya.

Ketua IDI cabang SBD, dr.Elfrida Marpaung

Dr.dr. Erwin  menjelaskan tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dokter umum dan bidan dalam mencegah, mengenali, mendiagnosis dan memberikan tatalaksana yang tepat untuk kasus-kasus obstetri, ginekologi dan pediatri terutama yang sering ditemukan di layanan kesehatan primer.

Untuk diketahui hingga saat ini, kematian ibu dan bayi baru lahir masih menjadi masalah yang serius dalam bidang kesehatan di Indonesia. Pasalnya, angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian neonatal/bayi baru lahir (AKN) masih jauh dari target yang ditetapkan. Target tujuan pembangunan milenium atau millennium development goals (MDGs) adalah AKI menurun hingga 102 per 100.000 kelahiran dan AKN menurun hingga 23 per 1.000 kelahiran hidup. Akan tetapi, AKI Indonesia pada tahun yang sama masih tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan target tersebut dan AKN pada tahun 2012 masih di angka 32 per 1.000 kelahiran hidup.

Baca Juga :   Tak Kenal Lelah, Kodim 1613/Sumba Barat Kembali Buka Gerai Vaksin

Gagal dalam mencapai target MDGs, Indonesia sudah harus berfokus untuk mencapai target sustainable development goals (SDGs) tahun 2030 yaitu AKI menurun hingga dibawah 70 per 100.000 dan AKN hingga 12 per 1.000 kelahiran hidup. Target ini tentu tidak mudah untuk dicapai dan membutuhkan kerjasama lintas sektoral.

Meninjau ruang lingkup yang lebih sempit, AKI dan AKN masih merupakan masalah besar di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Menurut laman Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada tahun 2017, AKI di NTT mencapai total 162 jiwa dengan Kabupaten Sumba Barat Daya menduduki peringkat kedua tertinggi (16 ibu) setelah Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Data lainnya dari Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2018 menunjukan kematian ibu mencapai 158 jiwa dan kematian bayi mencapai 1.265 jiwa. AKI dan AKB yang tinggi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain dari sisi ibu sehingga dapat berdampak pada bayi dan dari sisi tenaga kesehatan. Dari sisi ibu yaitu kurangnya perencanaan kehamilan, kurangnya pengetahuan mengenai keluarga berencana (KB), kurangnya kesadaran ibu hamil untuk kontrol rutin dan minum suplemen saat hamil.

Pantauan media peserta yang terdiri dari dokter dan bidan akan mendengarkan presentasi narasumber dari ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Sumba Barat Daya, perwakilan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, dokter spesialis obstetri dan ginekologi dan dokter spesialis anak. Setelah presentasi narasumber, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab untuk memberikan kesempatan berdiskusi bagi peserta.

Simposium ini akan mengangkat topik Etika Profesi Kedokteran, Kondisi Kesehatan Ibu di Sumba Barat Daya, Kondisi Kesehatan Ibu di Sumba Barat Daya, Kegawatdaruratan dalam Bidang Obstetri dan Ginekologi, Kegawatdaruratan Bayi Baru Lahir dan Sistem Rujukan BPJS untuk Kasus Ibu dan Anak. *****

Baca Juga :   Bupati Dapawole Jemput Penumpang KM Sabuk Nusantara Asal Sumba Barat

Liputan: Octav Dapa Talu,-