Hingga Saat Ini Di SBD Belum Ada Pasien Positif Covid-19

Tambolaka-SJ……. Demi meluruskan isu bahwa ada sudah ada Pasien Dalam Pengawasan kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) yang positif covid-19, Plh. Direktur RSUD Pratama Reda Bolo, dr. Ingkang Helena N.G. Sanger  menepisnya. Dirinya menegaskan  hingga saat ini SBD belum ada pasien reaktif hasil rapid test bahkan PDP yang dinyatakan positif covid-19 oleh masyarakat awam.

Demikian diungkapnya di posko satgas covid-19 SBD Selasa (5/5/20) pada media suarajarmas.com. Bahwa adanya peningkatan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dirinya tidak memungkirinya, hal ini disebabkan adanya arus balik orang-orang SBD yang terus kembali dari akhir bulan Maret hingga saat ini.

Plh. Direktur RSUD Pratama Reda Bolo, dr. Ingkang Helena N.G. Sanger saat diwawancarai media

“Untuk saat ini RSUD Pratama Reda Bolo hanya merawat pasien yang ODP. Semuanya ada 10 orang, yang 7 orang dari minggu lalu, sedangkan 3 orang lagi baru datang kemarin dari Bima. Semuanya  sudah menjalani rapid test nanti akan diulangi setelah 10 hari rapid test yang pertama,  hasilnya non reaktif.” ungkapnya.

Lebih lanjut dr. Helena menjelaskan 7 orang pertama yang dirawat sudah tidak ada keluahan lagi, memang awalnya mungkin karena lemas, batuk dan cape sedikit ada keluhan. Sekarang terapinya hanya diberikan vitamin saja sambil menunggu selesai 14 hari masa karantinanya. Semuanya ODP ringan.

Secara fisik mereka seperti orang sehat biasa saja, untuk melakukan aktivitasnya tidak membutuhkan bantuan orang lain, ada satu memang yang punya kelainan karena punya penyakit lain, dia pernah patah tulang, kami sudah konsultasikan dengan dr. Hendrik di RS. Karitas, sehingga dia juga menjalani terapi dari dr. Hendrik.

“Kemungkinan bekas kecelakaan yang sudah lama, kami sudah konsultasikan dengan dokter spesialis bedah dari RS Karitas dr. Hendrik B. Mengga, Sp.B. FinaCS, FICS” tutur dr. Helena.

Baca Juga :   RI TARGETKAN PENURUNAN ANGKA PREVALENSI STUNTING DI BAWAH 14% DI TAHUN 2024

Sedangkan untuk kelengkapan Alat Pelindung Diri (APD) yang dimiliki RSUD Reda Bolo sudah cukup, walaupun demikian RSUD Reda Bolo juga tetap menerima bantuan dari pihak-pihak lain yang ingin berkontribusi.

Helena juga menghimbau bagi OAR yang sebelumnya sudah dikarantina 1 hari di Reda Bolo yang tidak patuh menjalankan karantina mandiri, dirinya sangat menyayangkan karena sewaktu karantina 1 hari sudah diberi pemahaman untuk melanjutkan karantina mandiri selama 14 hari. Bahkan kalau dalam 14 hari ada keluhan, mereka harus laporkan keluhannya.

“Kita tidak bekerja sendiri sudah ada gugus tugas masing-masing dari tingkat kabupaten, kecamatan dan desa, sehingga pelaku perjalanan dari area terjangkit mematuhinya, kalau ada diantara mereka yang tidak mematuhi, tim gugus akan berusaha memberikan edukasi pada mereka” katanya.

Dalam kesempatan ini juga dr. Helena mengharapkan kerjasama dari semua pihak, tidak hanya menunggu pihak kesehatan, Pemerintah, TNI/Polri, tetapi keterlibatan semua pihak dan kekompakannya serta dukungan  masyarakat khususnya yang OAR dan ODP untuk mematuhi isolasi mandirinya diyakini bisa mencegah dan memutus mata rantai penyebaran covid-19.

“Hingga saat di kabupaten SBD belum ada pasien yang dinyatakan positif covid-19” tutup dr. Helena mengakhiri bincang-bincangnya dengan awak media.

Untuk diketahui update data terakhir per 5 Mei 2020  kabupaten SBD adalah total pelaku perjalanan dari daerah/area terjangkit covid-19 (PPAT) sebanyak 3.043 orang, ODP sebanyak 215 orang. Jumlah PPAT selesai Karantina selama 14 hari ada 2.576 orang, jumlah PPAT masih karantina mandiri 467 orang, jumlah ODP yang sembuh sebanyak 190 orang dan ODP yang masih dipantau sebanyak 25 orang sedangkan untuk PDP = 0 dan Positif covid-19 = 0.***** (OC$),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.