GKS MATA PATUHI PROTOKOL KESEHATAN

Tambolaka-SJ….. Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Mata sangat mematuhi anjuran Pemerintah dan anjuran protokol kesehatan dalam mencegah dan memutus mata rantai penyebaran covid-19 yang sedang melanda dunia bahkan Sumba Barat Daya (SBD) pada saat ini.

Demikian diungkapkan ketua BPMJ GKS Mata Pdt. Irene Takandjandji, S.Th dalam Rapat Evelauasi Penanganan dan Penetapan Status Lanjutan Covid-19 kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) di lopo rumah jabatan bupati desa Radamata Kecamatan Kota Tambolaka SBD-NTT Selasa (30/6/20).

Pdt. Irene menjelaskan dirinya sebagai Pendeta Jemaat bersama seluruh majelis sudah berupaya seoptimal mungkin untuk ikut berperan dalam upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh tim gugus tugas covid-19 SBD dengan selalu mematuhi protokol kesehatan pada melaksanakan ibadah minggu.

Kata Pdt. Irene sesuai anjuran protokol kesehatan, dalam  melakukan ibadah hari Minggu pihaknya  mengatur jarak kursi, menyiapkan air dan sabun serta sanitizer untuk membersihkan tangan, mewajibkan warga jemaat memakai masker dan sebelum jemaat masuk ke gereja bahkan menyiapkan masker bagi warga jemaat yang tidak membawa masker, dilakukan pengetesan suhu badan dengan menggunakan Thermogun.

Dirinya juga berharap agar tim gugus tugas terus melakukan monitoring di rumah-rumah ibadah, seperti yang sudah dilakukan oleh Kakanwil Kemenag Provinsi yang sempat mengunjungi GKS Mata dalam penerapan new normal di masa pandemic covid-19 ini beberapa waktu lalu. Kanwil Kemenag Provinsi langsung melakukan pengamatan posisi kursi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan  dan memberikan edukasi dalam upaya-upaya pencegahan covid-19 ini.

“Demikian juga dengan tim gugus tugas penanganan covid-19 baik di kabupaten, kecamatan maupun desa/kelurahan perlu melakukan monitoring dirumah-rumah ibadah. Apakah memang sudah mengikuti anjuran protokol kesehatan atau belum, ini menjadi catatan penting yang harus diperhatikan kedepan” tuturnya.

Baca Juga :   Sumba Barat Kembali Masuk Zona Merah

Dalam kesempatan itu Pdt. Irene juga mengharapkan adanya pemberian edukasi bagi masyarakat yang terus dilakukan guna memastikan dijalankannya protokol kesehatan di SBD. Apalagi saat ini Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sumba terus berdatangan dan masuk ke Sumba.

“Berangkat dari PMI yang masuk ke SBD dan dinyatakan positif covid-19, maka dari pengalaman tersebut siapapun yang datang dari zona merah, barangkali ada perhatian dari Pemerintah  agar langsung di karantina, apalagi ada orang tanpa gejala (OTG), kita tidak tahu apakah dia memang taat pada protokol kesehatan, memang ini membutuhkan biaya, tetapi mau tidak mau kita harus berpikir bagaimana caranya menyelamatkan kesehatan dari seluruh masyarakat SBD bahkan satu pulau Sumba” jelasnya.

Pemberian edukasi bagi masyarakat sangatlah penting, seperti pengalaman yang terjadi di Bukambero dimana keluarga PDP menggali kubur dari almarhum dan mengambil jenazahnya yang dinyatakan negative hasil pemeriksanaan swabnya.

Pdt. Irene Takandjanjdi, S.Th saat menyampaikan saran usulnya dalam rapat evaluasi penanganan dan penetapan status lanjutan covid-19

“Hal tersebut dilakukan oleh keluarga karena merasa terisolir, mereka membutuhkan pengakuan dari masyarakat bahwa keluarga mereka yang meninggal itu bukan karena corona. Saya juga baru ikuti kalau pemeriksaan swab kalau hanya satu kali belum terlalu kuat, tetapi harus dua kali dengan selisih waktu 24 jam. Ini perlu diberikan edukasi pada keluarga yang kemarin berduka. Kebetulan keluarga yang meninggal  itu warga GKS, dan sudah diputuskan oleh sinode tidak ada lagi ibadah karena jenazah sudah sempat dikubur lalu diangkat kembali” ungkap Pdt. Irene menjelaskan.

Pantauan media Rapat Evelauasi Penanganan dan Penetapan Status Lanjutan Covid-19 ini dipimpin langsung oleh Bupati SBD yang dihadiri oleh seluruh pimpinan unsur Forkompinda dan tim gugus tugas penanganan covid dan pimpinan-pimpinan DPRD SBD. ***** (OC$),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.