Festival kuda Sandle 2018: Ringkiknya Garang, Tenaganya Nuklir

Walakiri-SJ………………Festival Kuda Sandle dan Expo Kain Tenun Ikat Sumba 2018 yang diadakan oleh Dinas pariwisata dan kebudayaan Kab. Sumba Timur Bekerja sama dengan Dinas Pariwisata  dan kebudayaan Provinsi NTT dan didukung oleh Bank NTT dan Elemen-elemen lainya, Festival 1001 kuda sandle yang dilaksanakan Kamis 12 Juli 2018 itu diikuti setidaknya 1001 Ekor kuda  yang mulai menyusuri padang sabana walakiri pada pukul 15.00 Wita.

Rombongan kuda sandlewood yang gagah berani ini dibagi menjadi 15 kelompok dari 5 kecamatan yang ikut serta dan diurutkan mulai dari kecamatan yang paling jauh.  Dari Kecamatan Haharu 3 kelompok, Kec. Kanatang 3 kelompok, kec. Kota Waingapu 3 kelompok, Kec. Kambera 3 kelompok dan Tuan Rumah Kec. Pandawai 3 kelompok. Barisan kuda yang siap memacu tenaganya dibawah terik matahari Sumba yang menyengat ini secara resmi dilepas oleh Deputi Bidang Pengembangan, Pemasaran Pariwisata 1 Kementerian Pariwisata Prof. Dr. I Gede Pitana, didampingi Kadis Pariwisata NTT Marius Ardu Jelamu, Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora, dan Ketua DPRD Sumba Timur Palulu Pambundu Ndima.

Kuda-kuda Sandle melintasi padang sabana membelah perbukitan kecil di Walakiri sejauh 2,8 Km ditambah lagi dengan menyusuri garis pantai Walakiri hingga sampai ke panggung utama, para penunggang kuda yang menggunakan kostum pesona Indonesia yang dikombinasikan dengan kain tenun ikat sumba ini disambut dengan tarian dan irama Kabokang dan Kadingang yang bersahut-sahutan dengan kawakka-kakalaku yang ditutup dengan tepuk tangan yang meriah.

Apa Kata Mereka ?

Aldy Waly salah satu penggagas kegiatan yang sama di Tahun 2016 lalu mengatakan  mengapresiasi Pemerintah dan masyarakat sekitar atas terlaksananya kegiatan ini sebagai cikal bakal rasa cinta budaya bagi generasi muda.  “Kegiatan ini sangat meriah dan fantastic” ujarnya sembari berlalu bersama rombongan Kitabisa.com.

Baca Juga :   Kapolres Sumba Barat Bagikan Sembako ke Sejumlah Wartawan

Marselinus Nggau Roti seorang Wunang Muda dari Lambanapu menuturkan Parade kuda ini adalah moment Sumba untuk mempublikasikan dan mendeklarasikan kedunia bahwa inilah Sumba pulau terindah didunia dan sang pemilik Kuda Sandlewood.

Jerry Mbiloyora, Kepala Sekolah SMAN 1 Pandawai mengatakan  kegiatan ini sangat luar biasa dan sangat mengagumkan tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan kagi yakni pelayanan terhadap ternak kuda dan penunggangnya karena tidak terlihat tersedianya air minum bagi kuda, dan tempat turunnya kuda itu hanya satu saja sehingga kuda-kuda harus antri saat turun dan akhirnya menyebabkan waktu pelaksanaannya molor.

“Ini bukan brand nasional lagi tapi brand internasional sehingga harus terus di perbaiki” ujarnya berlalu. (STM),-