Ekosistem Pendidikan Berbasis Karakter

Perubahan kurikulum yang melahirkan berbagai metode dan model pengajaran, strategi, pendekatan pengajaran serta banyaknya tenaga pendidik dengan berbagai kualifikasi pendidikan yang ada, belum tentu menjamin pendidikan yang bermutu (mutu output). Proses pendidikan yang berlangsung selama ini cenderung semata-mata sekedar mewarisi ketentuan formal yang diharapkan dalam dunia pendidikan formal. Kegiatan pembelajaran menjadi seperti rutinitas belaka dengan berbagai tuntutan yang harus dipenuhi oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar, tanpa mempertimbangkan mutu output sekolah. Apalagi dengan tuntutan kebijakan sertifikasi guru. Guru seolah-olah hanya memberi fokus pada upaya memenuhi setiap tuntutan dari kebijakan sertifikasi. Pertanyaannya adalah bagaimanakah supaya kegiatan pembelajaran itu berpengaruh pada proses belajar peserta didik?

Yohanes Umbu Lede, M.Pd

Pendidikan sebagai sebuah proses, hendaknya mewariskan nilai-nilai yang menunjang perkembangan setiap peserta didik atau individu yang belajar, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Tujuan ini dapat dicapai melalui upaya menciptakan situasi yang kondusif dalam proses pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan di lembaga pendidikan formal cenderung bersifat “formalistik” tanpa melahirkan terobosan-terobosan berarti sesuai dengan tingkat kebutuhan zaman. Berproses dalam kelas menjadi keharusan yang mesti dijalankan oleh tenaga pendidik di sekolah. Tuntutan memenuhi jumlah jam pelajaran dan merampungkan materi yang telah disiapkan bisa jadi dinilai sebagai sebuah langkah maju. Guru seolah-olah sudah didoktrin oleh segala tuntutan yang ada sesuai dengan standar yang ditentukan oleh pemerintah. Sejatinya sebuah proses pendidikan menurut Paulo Friere  bukan soal urusan transfer pengetahuan semata-mata melainkan transfer nilai.

Ekosistem pendidikan dalam sebuah lembaga pendidikan formal sangat penting dan mutlak ada. Pentingnya ekosistem tersebut mendorong lahirnya sumber daya manusia yang mumpuni guna mencapai tujuan pembangunan nasional yakni mencerdaskan kehidupan Bangsa. Lembaga pendidikan formal tentunya dihuni oleh setiap organ yang mempunyai kompetensi dan kapasitas yang cukup mapan karena yang dididik adalah manusia sebagai subyek bukan sebagai obyek. Ekosistem yang diciptakan di lembaga pendidikan formal baik di tingkat dasar maupun menengah mestinya memberikan akses yang baik sehingga setiap peserta didik dapat belajar dengan baik dan kemudian mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan konkret.  

Baca Juga :   PPA TALITAKUM DAN JF COURSE GELAR PENTAS BERBAHASA INGGRIS

Akses ini hasilnya akan tersalurkan dengan baik kepada peserta didik apabila muncul kesadaran dari setiap organ dalam lembaga pendidikan formal yang menyadari akan pentingnya proses pendidikan sebagai upaya pemanusiaan. Atau dengan kata lain proses pendidikan mestinya berbasis karakter. Belajar bukan sekedar transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan belajar sebagai upaya berbagi nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan kepada setiap peserta didik (transfer of values).

Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya Budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Dalam cara pandang yang berbeda, pendidikan merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan. Pendidikan dan pengajaran yang idealnya memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah akan selalu relevan untuk segala zaman. Pendidikan nasional ialah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya (cultureel-nationaal) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia (Ki Hadjar Dewantara, 1962).

Pendidikan Karakter

Pedagog asal Jerman FW Foester (1869-1966) menjadi begitu terkenal karena dialah yang mencetuskan pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual. Tujuan pendidikan bagi Foester adalah pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku hidup yang dimilikinya.  Bagi Foester, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas pribadi diukur.

Baca Juga :   Polres Sumba Barat Gelar Kegiatan Coaching Clinic

Dalam mendukung pemahamannya tentang pendidikan ini, Foester menyebutkan empat ciri dasar dari pendidikan karakter. Pertama, keteraturan interior dimana setiap tindakan diukur berdasarkan hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif dari setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip. Sikap ini merupakan sebuah keutamaan (cardinal virtue) yang butuh pengolahan yang tidak singkat. Ketiga, otonomi. Pada poin ini seseorang mengiternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Individu yang sampai pada tingkatan ini adalah orang-orang yang prinsipil. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Pada poin ini orang akan mencapai komitmen dan mempertahankannya karena dianggap baik. Orang bahkan rela berkorban demi komitmen yang mulia itu.

Proses pendidikan sebagai sebuah upaya pemanusiaan mestinya didorong bagi pengembangan karakter. Peserta didik diharapkan mampu berkembang secara baik dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendidikan diharapkan mampu melahirkan individu yang cerdas dan berkarakter unggul, guna menyelaraskan dengan tingkat kebutuhan hidup bersama dalam lingkup hidup masyarakat baik di tingkat lokal, regional, maupun tingkat nasional.***)

**) Penulis adalah dosen STKIP Weetebula, Sumba Barat Daya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.