Butuh Dukungan Pemkab Sumba Tengah, Selamatkan 261 Ha TN Matalawa Hasil Restorasi JICS

dr. Miri Nakama NGO/JICS, Kepala TN Matalawa Ir. Memen Suparman, Camat Katiklu Tana Selatan dan Simon Ketua GENHIJO Sumba Tengah

Waibakul-SJ…………….Manager lapangan Japan International Cooperation System (JICS) yang merupakan program kerjasama Pemerintah Indonesia  dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, direktorat jenderal  konservasi sumber daya alam dan ekosistem, direktorat kawasan konservasi   dengan Pemerintah Jepang dalam ini JICS,  Andi Arya Fajar, SSi mengatakan,   workshop kali ini dengan tema,  alam lestari, masyarakat sejahtera  dengan peserta instansi terkait dari  Pemkab Sumba Tengah dan taman nasional Manupeu Tanah Daru, Laiwangi Wangga Meti (taman Matalawa) dan para pihak terkait adalah untuk mendapatkan masukan atau mendapatkan pula gambaran    program yang  diusung masing-masing instansi pemerintah Sumba Tengah dan taman nasional Matalawa terkait  keberlanjutan program kerja diatas lahan taman nasional manupaeu tanah daru seluas 261 ha yang telah direstorasi JICS selama 5 tahun terakhir ini. Progran JICS akan  berakhir Maret 2020 mendatang.

Pasca  berakhirnya kegiatan JICS diharapkan pohon-pohon yang ditanam JICS dan kini ada pohon tinggi mencapai 11 meter diharapkan tetap eksis.

Manager lapangan JICS, Andi Arya Fajar, SSi menyampaikan hal itu  ketika tampil sebagai nara sumber pada kegiatan workshop dengan tema, alam lestari, masyarakat sejahtera di wisma Sola Pora Sumba Tengah, Selasa (4/2/2020) yang lalu.  

Menurutnya, masa tugas JICS akan berakhir Maret 2020 mendatang,  harapan apa yang telah dikerjakan JICS dapat dipertahankan dan dilanjutkan oleh pemerintah daerah dan taman nasional Matalawa sendiri.

Ia menyebutkan kegiatan restorasi itu berlangsung di empat desa yakni Manurara seluas 39 ha, Waimanu 103 ha, Tamans Mas 72 ha dan Tangairi 42 ha atau total 261 ha. Diatas lahan seluas 261 ha itu rata-rata sudah ditanam berbagai biji pohon lokal sebanyak 270.612 biji pohon lokal dengan rata-rata 82 persen hidup.  Bahkan ada pohon yang tingginya  mencapai 11 meter.

Baca Juga :   Songsong Harhubnas, Syahbandar Weekelo Bersihkan Sampah Di Pesisir Pantai

Selain itu pihaknya juga melakukan pemberdayaan ekonomi terhadap masyarakat dipinggir kawasan hutan. Misalnya menanam jagung, kacang-kacangan, kedele, sorgum dan lain-lain. Hasilnya cukup baik.

Karena itu besar harapan program pemberdayaan juga terus ditingkatkan demi meningkatkan pula tingkat kesejahteraan rakyat. Hal itu mengingat terdapat 54 desa berada dipinggir kawasan.

Sementara itu Kepala Taman Nasional Matalawa, Ir.Memen Suparman, M.M mengatakan, siap melanjutkan program restorasi diatas lahan 261 ha paskah selesai masa tugas JICS dan di seluruh kawasan taman nasional Matalawa.

Meski demikian, ia mengaku, kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun menjadi momok bagi kelestarian hutan kawasan Matalawa.  Karena diperlukan gerakan kesadaran masyarakat pinggir kawasan untuk praktif memadamkan api manakalah terjadi kebakaran hutan.

Berdasarkan pengalaman selama ini, masyarakat pinggir kawasan masa bodoh melihat kebakaran hutan meski menyaksikan petugas berjibaku memadamkan api.

Karena itu butuh dukungan pemerintah desa dan kecamatan serta para pihak terkait demi menjaga kelestarian taman nasional Matalawa. *****

Liputan: Team-SJ,-

Leave a Reply

Your email address will not be published.