Alunan Reggea Menepis Dingin Di Walakiri

Walakiri-SJ………. Pagelaran Parade 1001 Kuda Sandle (12/7/18) berakhir hingga sore menjelang malam hari dilanjutkan dengan Fashion Show dari designer-designer ternama dari Jakarta, Peragaan Busana ini dilakukan oleh 19 peraga yang menggunakan kain tenun NTT Yang dikombinasikan dengan bahan lainnya, Fashion show ini mengantar senja diwalakiri ditutup penampilan dari Sandlewood Slankers Indonesia.

Seakan kemeriahan dari Festival Kuda Sandle dan Expo Tenun Ikat Sumba 2018 belum selesai setelah senja berlalu dilanjutkan dengan acara bertajuk Bank NTT on Walakiri Reggea Fiesta dalam perayaan ulang tahun Bank NTT yang menjadi Sponsor utama dalam menghadirkan Marapu Band di tanah Sumba.

Perfom marapu Band awalnya dibuka dengan Tarian Kataga dari Sumba Tengah yang merupakan tarian sambutan bagi tamu,  lalu konser Marapu Band pun dimulai ditengah padang sabana yang berhadapan langsung dengan pantai Walakiri yang dihadrii ribuan penonton yang merupakan peserta parade dan juga yang sengaja datang untuk menyaksikan penampilan Marapu Band.

Ferdi Lukas salah satu penonton konser yang sempat jingkrak-jingkrak dalam alunan reggea marapu band untuk menepis Hawa dingin di pantai Walakiri itu menuturkan “saya sangat puas dan mengapresiasi Marapu Band yang konsisten dengan gayanya yang tidak pernah meninggalkan budaya dan yang membuat saya  semakin bangga terhadap mereka adalah bahwa mereka tidak saja mengalunkan tentang budaya saja,  tetapi juga menyentuh segi-segi kemanusian mulai dari masalah sosial hingga arahan untuk menjaga dan mempertahankan tanah Sumba yang kita cintai” ungkap pemuda yang kemudian diketahui sempat berfoto bersama Yanto vokalis Marapu Band sesaat sebelum Marapu Band naik ke atas pentas.

Marapu Band membuka pentas dengan lagu Eri Rambu Mbalu yang disambut dengan teriakan histeris dan tepuk tangan yang meriah oleh penonton. “Marapu Untuk Kemanusian” adalah teriakan yang disampaikan penonton saat diatas pentas Yanto Marapu menyampaikan pesan “Saya akan menyanyikan lagu-lagu dari album terbaru yang terinspirasi dari banyaknya peti mati dari luar negeri dari banyaknya tanah yang dijual hingga kita tidak tahu lagi mungkin anak-cucu kita akan menjadi transmigrasi nantinya, STOP peti mati dari luar negeri, Stop Bajual Orang Stop Bajual Tanah” ungkap Yanto lalu mengalunkan lagu educate your self diikuti lagu Our Homeland.

Baca Juga :   KOMINFO AKAN DUKUNG PEWARTA SBD
Salah satu personil Marapu Band (kanan)

Yang paling menarik dari konser ini adalah ketika lagu jadilah terang dunia semua penonton yang ada mengeluarkan semua HP mereka menyalakan flash light yang kemudian menerangi sekitar pantai dan membentuk cahaya yang indah sambil beralun “Jadilah terang Dunia, jadilah terang dunia, jadilah terang dunia”.

Selain itu Marapu Band juga menyanyikan theme song Sumba Parai Marapu dan lagu pamungkasnyanya Wake Up serta menutup konser dengan 2 lagu yang merupakan kritikan pedis bagi para politisi kotor yakni Maling Kuda modern dan politician.(STM),-