
Tambolaka-SJ……. Hama ulat Kipat menyerang tanaman jambu mente di wilayah Kodi Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) provinsi Nusa Tenggara Timur NTT). Demikian diungkapkan Plt. Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Rofinus Kaleka, SP., diruang kerjanya Puspem Kadula Tambolaka SBD Jumat (3/7/20).
Rofinus Kelaka menjelaskan berdasarkan laporan dan informasi dari penyuluh di lapangan dan kepala desa setempat, sudah terjadi serangan ulat Kipat yang menyerang jambu mente di Kodi diantaranya desa Ana Ege, dan desa Koki dan desa lain di kecamatan Kodi.
“Sudah ada laporan dari Dinas Pertanian melalui bidang perkebunan dan sudah dilakukan pengendalian. Serangannya masih kecil baru sekitar 20-an ha” tuturnya.
Rofinus juga menjelaskan pihaknya sudah melakukan pemantauan hingga ke kecamatan Kodi Balaghar Kamis (2/7/20) sementara ini di beberapa desa yang sudah dipantau hama belum ada disana dan hari Jumat (3/7/20) juga dilakukan pemantauan di Kodi Bangedo sedangkan Kodi Utara hingga saat ini belum ada laporan adanya hama ulat Kipat.
Walaupun hama baru sedikit yang menyerang jambu mente, pihaknya sudah mulai melakukan upaya-upaya pengendalian mekanis, dengan meminta petani untuk memotong ranting-ranting yang diserang sekaligus dimusnahkan. Selain itu pihaknya juga melakukan penyemprotan jika sudah cukup banyak hama yang menyerang daun jambu tersebut.
Lebih lanjut Rofinus menjelaskan dalam rangka penyemprotan, kendala yang dihadapi adalah obat yang tersedia terbatas. Yang ada saat ini hanya sisa pengadaan tahun lalu. Kendala lainnya adalah alat pengendalian (obat) sangat membahayakan bagi petugas penyemprotan.
“Kalau kita menggunakan alat pengendalian yang sederhana dengan penyemprotan, membahayakan kesehatan manusia, karena pohon jambunya tinggi. Selain itu kita juga belum mempunyai alat pelindung diri (APD)” ujarnya menjelaskan.

Plt. Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan ini juga berencana untuk mengadakan di tahun ini, karena wabah ulat Kipat ini endemic (setiap tahun selalu ada) sehingga perlengkapan APD ini harus disiapkan diantaranya mantel), kacamata, sarung tangan dan masker. Selain itu alat pengendalian yang cocok dijaman saat ini lainnya adalah alat semprot jarak jauh (dron semprot).
“Jika alat pengendalian ini ada kita bisa menolong petani membasmi hama, tetapi juga melindungi diri buat teman-teman dari racun-racun sisa pestisida. Kita berharap saat ini serangan sifatnya kecil kalau dia sampai ekplosi, maka sudah masuk darurat dan obat-obatan yang ada tidak cukup, maka keterlibatan Pemda secara keseluruhan sampai ke desa-desa kita butuhkan dan juga Provinsi” jelasnya.
Dalam kesempatan itu Rofinus Kaleka juga mengharapkan dukungan informasi dari media, relasi, LSM yang melihat/memantau kondisi di lapangan agar membantu memberikan laporan ke Dinas Pertanian jika menemukan adanya perkembangan hama ini, sehingga cepat diambil langkah penanganannya.
Rofinus juga menghimbau bagi petani-petani jambu mente agar terus memantau sehingga ulat Kipas tidak menngalami metamorphosis, dimana ulat Kipat sudah menjadi kupu-kupu dan terbang kemana-mana, akan menjadi semakin sulit pengendalian dan pemberantasannya.
“Kepada seluruh petani untuk terus memonitor kebunnya, hindari penggunaan herbisida jangan pikir kalau seluruh lahannya bersih seperti lantai akan menjadi subur, bisa menimbulkan hama penyakit yang lainnya, karena sudah tidak ada lagi serangga lain dibawah itu” katanya.
Lahan boleh bersih tetapi pada waktu-waktu tertentu harus ada rumput, karena kalau tidak ada bunga tidak ada serangga, kalau tidak ada serangga tidak ada yang membantu membungakan jambu mente tersebut. Dirinya mengingatkan kasus ini sama dengan Kopi, hasil kopi menurun karena setelah diteliti karena tidak ada rumput atau bunga-bunga di bawah pohon kopi sehingga sulit untuk berbuah lagi.
“Saya menduga hal ini yang terjadi di tanaman jambu mente, karena petani lebih suka mengguna penyemprotan bahan kimia sehingga tidak ada lagi rumput atau bunga tempat hidupnya serangga lain” pungkasnya.
Untuk diketahui Ulat Kipat atau Ulat Kenari adalah ulat kecil yang menyerang daun–daun muda dari bagian bawah daun. Pada serangan lanjut, ulat–ulat yang lebih besar lebih rakus dan menyerang daun tua sehingga hanya tertinggal tulang daun dan tanaman menjadi gundul.
Cricula trifenestrata Helfer (Lepidoptera: Saturniidae) Hama ini disebut juga ulat kipat atau ulat kenari. Ulat hama ini sangat rakus dan bersifat polifag. Selain jambu mente ulat ini juga menyerang kenari, alpukat, jambu, kedondong, mangga, kakao, dan kayumanis. ***** (OC$),-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
