Sumba Berduka, Sumba Kehilangan Orang Suci Di Jaman Modern

by -3,393 views

Tambolaka-SJ……… Ditengah-tengah masyarakat disibukan dengan upaya pencegahan wabah virus corona (covid-19) yang sedang melanda dunia saat ini dan rasa dukacita karena harus merayakan Paskah di rumah tangganya masing-masing umat,  Sumba harus menambah dukacitanya dengan kehilangan Pater Wilhelm Ernst Wagener, CSsR Minggu (12/4/20) di Biara Redemptoris  Weetebula Sumba Barat Daya (SBD).

P. Wilhelm Ernst Wagener, CSsR kelahiran  Essen Steele, Jerman 26 Februari 1933 menghembuskan nafas terakhirnya dengan damai pada pukul 17.50 Wita di usianya yang 87 tahun. Jenazah almarhum langsung disemayamkan di Kapela Biara Redemptorist Weetebula sekaligus dilakukan Misa Requiem mohon keselamatan almarhum P. Wilhelm Ernst Wagener, CSsR yang dipimpin oleh P. Doni Kledens, CSsR.

Alm. P. Wilhelm Ernst Wagener, CSsR

Almarhum menjadi anggota Redemptoris sejak tahun 1954, pada tahun 1959 ia menerima tahbisan imam dan pada tanggal 27 November 1960 diutus oleh Propinsi Köln untuk menjadi misionaris di Indonesia. Tiba di Jakarta pada 15 Januari 1961 dan tiba di Sumba (Waingapu) 30 Maret 1961. Selama di Indonesia (Sumba) ia mengabdikan dirinya dalam perlbagai tugas pastoral.

Pada tahun 1961-1967 menjadi Pastor Paroki Sang Penebus Wara Waingapu, 1967-1970 Vicepropinsial C.Ss.R, 1970-1975 menjadi Administrator Apostolik Kesukupan Weetebula, 1975-1977 menjadi Magister Novisiat C.Ss.R, 1978-1992 sebagai Rektor para Frater C.Ss.R di Wisma Sang Penebus Yogyakarta merangkap sebagai pastor stasi Santo Alfonsus Nandan, 1992-1995 sebagai Vice propinsial C.Ss.R, 19916-2006 menjabat Rektor Biara Santo Alfonsus Weetebula  dan 1996 – hingga akhir hayatnya menjadi staf rumah retret Santo Alfonsus Weetebula membantu paroki-paroki dekenat Weetebula dan pastoral orang sakit di RS Karitas Weetebula.

P. Doni Kledens, CSsR saat memipin misa requiem di Kafela Biara Redemptoris Weetebula

Kepada media P. Ferdy Jaga Kota, CSsR menjelaskan diusianya yang sudah lanjut, selama ini kesehatan almarhum sudah agak terganggu misalnya jantung tidak bekerja 100%, sekitar 1 bulan ini ginjal almarhum juga terganggu. Seharusnya dia menjalani cuci darah, tetapi almarhum tidak mau dia dan sempat tinggal di RS Karitas bahkan merayakan ulang tahunnya pada 26 Februari yang lalu bersama komunitas, Karitas dan Biara Redemptoris.

Kemudian almarhum pindah di biara, setiap hari ada perawat yang mengurusnya sampai almarhum meninggal jam 17.50 Wita. Rencananya besok Senin (13/4/20) akan dibawah ke Gereja Katedral Weetebula jam 8 pagi, selanjutnya jam 12.00 siang akan dilangsungkan misa bersama, setelah misa akan diberangkatkan ke biara Redemptoris Wano Gaspar Sumba Barat untuk disemayamkan di pekuburan Redemptoris.

P. Ferdy Jaga Kota, CSsR dan Rm. Kristoforus Ngasi, Pr

P. Ferdy menyampaikan kesannya bahwa  beliau adalah orang suci pada jaman modern.  Semua kami sangat mencintai dia, semua orang sayang dia, sampai diusianya yang sudah lanjut dia selalu mengikuti pertemuan kami rekoleksi dan retreat bersama, padahal sepengetahuan kami dia ini orang suci tidak perlu lagi rekoleksi dan tidak perlu lagi retreat, tetapi dia mau ikut dan mendengarkan walaupun yang menyampaikan itu kami orang muda.

“Nada dasar dalam hidupnya adalah bangun pagi dalam kebahagiaan dan rasa syukur, tidur malam dalam kebahagiaan dan rasa syukur” ungkap  P. Ferdy sedih.

Tokoh masyarakat yang juga umat di gereja Paroki Roh Kudus Weetebula Wilhelmus Woda Lado yang dikenal dekat dengan almarhum menceritakan pengalamannya saat Pater Wagener menjadi rektor di Yogyakarta pemimpin calon imam sampai pensiun di Sumba.

Wilhelmus Woda Lado menhadap kamera bersama pelayat lainnya

“Dia adalah seseorang yang menjadi panutan umat Katolik di Sumba bukan saja di Weetebula ini. Beliau adalah seorang pastor yang mempunyai dedikasi tinggi, dalam hal pelayanan terhadap umat sejak keuskupan Sumba – Sumbawa sebelum Keuskupan Sumba berdiri sendiri” ungkapnya.

Lebih lanjut Wily menjelaskan almarhum adalah seorang pastor yang menjadi panutan pastor-pastor muda sampai dengan saat ini. Dirinya bahkan Sumba secara umum merasa sangat kehilangan dengan kepergian P. Wagener.

“Kita sungguh merasa kehilangan tetapi memang beliau umumrnya sudah 87 tahun, dia sudah mendapat bonus yang cukup tinggi dari Tuhan” tuturnya sedih.

Pengalaman yang tidak bisa dilupakan oleh Wily saat masih kuliah di Yogyakarta adalah bahwa Pater Wagener adalah pembimbing rohani yang sangat baik. Cintanya pada sesama apalagi cinta pada orang Sumba begitu tinggi.

Saat Wily menjadi ketua Ketua Mahasiswa Katolik Sumba (KMKS)  di Yogyakarta, P. Wagener menjadi moderator sekaligus donatur bagi mahasiswa Sumba. Pengalaman saat itu kalau KMKS  berkumpul almarhum sering menyediakan makan bersama sehingga mahasiswa rajin berkumpul, tetapi kalau kerja maka yang muncul cuma satu dua orang. Sehingga sebagai ketua KMKS saat itu Wily mengajukan keberatan pada Pater Wagener agar kalau berkumpul tidak usah disiapkan makan lagi.

“Pater Wagener menjawab pada saya saat itu, ya Wily,  baik kita berkumpul dan makan bersama karena kita orang Sumba” kenang Wily.

Hal senada juga diungkapkan oleh Rm. Kristoforus Ngasi, Pr yang mengatakan sosok almarhum adalah sosok yang sederhana, rendah hati, jujur juga setia dalam ekaristi dan doa yang menjadikan dirinya sebagai  imam muda bangga pada almarhum.

Romo Isto menjelaskan Pater Wagener adalah generasi kedua misionaris yang datang ke Sumba, ia rela meninggalkan Negara asalnya untuk tinggal di Sumba. Karya pelayanan P. Wagener yang tidak bisa dilupakan oleh dirinya adalah pada tahun 2009 saat dirinya mewawancara almarhum tentang perkembangan gereja Sumba.  Ketika P. Wagener turun ke Sumba saat itu sangat gersang, dia berpikir misionaris awal seakan tidak punya harapan, tetapi justru pada saat itulah dia sangat mencintai Sumba.

Pengalaman yang didapat oleh Romo Isto saat itu adalah bahwa P. Wagener mengatakan bahwa masyarakat masih jauh dari Tuhan. Kekuatan marapu masih sangat kuat, sehingga ketika Katolik masuk membutuhkan proses yang sangat lama.

Almarhum juga merupakan tokoh yang sangat mendukung pendidikan di Sumba, sehingga waktu almarhum merupakan salah satu spirit berdirinya YAPNUSDA.  

Romo Isto juga menceritakan bahwa Pater Wagener adalah salah satu bapak pengakuannya. Kesan yang tidak bisa dilupakan adalah spirit dari almarhum bahwa harus bahagia jadi imam.

“Tidak  boleh  melihat imam itu menjadi beban baik diri sendiri atau umat, tetapi menjadi imam itu satu kebahagiaan” pungkasnya.

Liputan: Octav Dapa Talu,-