HIDUPLAH SEBAGAI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG

Tambolaka-SJ ……………………. Tema besar yang dikeluarkan oleh Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konperensi Wali Gereja (KWI) sebagai tema Natal 25 Desember 2019 mempunyai makna yang relevan dengan situasi dan keadaan di Indonesia, dimana bangsa Indonesia adalah bangsa Bhineka Tunggal Ika sebagai wujud satu kesatuan dalam NKRI. Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang tema yang ditetapkan oleh PGI dan KWI.

Bangsa Indonesia yang terdiri atas suku, agama dan budaya   yang beraneka ragam menjadi satu tantangan tersendiri yang harus menjadi perhatian bersama untuk tetap menyatukannya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Orang tidak lagi benar-benar menjadi sahabat yang tulus bagi sesamanya, mau tidak mau dia menciptakan jaraknya sendiri karena ada yang berbeda” ungkap Pdt. Yobelia Karmila Nova Bili, S.Si.Teol saat bincang-bincang dengan media Senin (16-12-19) di GKS Mata Tambolaka Sumba Barat Daya (SBD).

Lebih lanjut Pdt. Yobelia menjelaskan keterpanggilan umat  Kristiani adalah  bagaimana tetap mamandang kemurnian sebagai sahabat. Hidup sebagai seorang sahabat sesuai Firman Tuhan dalam Yohanes 15:14-15  “hiduplah sebagai sahabat sesuai dengan apa yang diperintahkan kepadamu” . Perintah Yesus yang paling utama adalah saling mengasihi.

“Jadi tuntutannya disini adalah mengasihi sesama tanpa melihat sekat-sekat yang ada dalam gereja maupun juga dalam masyarakat” tuturnya lebih jauh.

Pdt. Yobelia menekankan tema ini benar-benar sesuai dengan kehidupan masyarakat pada saat ini. khususnya di Gereja Kristen Sumba (GKS) diirinya merasa kita sudah kehilangan makna menjadi sahabat kepada sesama kita.

“Buat saya secara pribadi sesama ini bukan hanya sesama manusia tetapi juga dengan seluruh alam ciptaan Tuhan. Manusia tidak sanggup lagi menjadi sahabat dengan alam. Manusia mengeksploitasi alam sedemikian rupa, tidak lagi menjaganya sebagai sahabat dirinya dan generasi penerusnya” ujarnya prihatin.

Baca Juga :   IBADAH MALAM NATAL DI TANA RIGHU BERLANGSUNG AMAN

Dalam kesempatan yang sama Pdt. GKS Kerenapu Kodi ini juga menyinggung peran perempuan gereja khususnya di GKS. Keterpanggilan seorang perempuan dalam rangka menjadi sahabat buat dirinya terasa lebih muda,  karena perempuan ada dalam rumah tangga (keluarga) gereja dan masyarakat yang mempunyai peran lebih dekat dengan siapa saja.

“Katakanlah dalam rumah tangga, ibu/mama dekat dengan siapa saja, kalau kita sakit, kita lapar orang pertama yang kita cari adalah perempuan. Ketika dia berada di lingkungan yang lebi besar ditengah masyarakat atau di gereja maka perempuan-perempuan juga melakukan sikap yang sama menjadi sahabat dimana dia berada” katanya.

Memang diakui ada juga kelemahan yang dimiliki perempuan bahwa sering terjadi kekerasan terhadap perempuan, sehingga hal ini menjadi pembahasan tersendiri dalam pelaksanaan Pra Sidang Raya Perempuan Gereja tanggal 2-5 November 2019 yang lalu.

Oleh karena itu Pdt. Yobelia mengharapkan agar menjadi bahan refleksi bagi kaum perempuan khususnya di Sumba untuk melihat dirinya sudah sejauh mana menjadi sahabat bagi sesamanya.

“Pemberdayaan perempuan dalam banyak segi agar menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah dan Gereja. Baik dari segi pekerjaan, pengembangan ekonomi, kesetaraan gender, adanya aturan-aturan yang yang memihak kaum perempuan. Perempuan juga harus menjadi orang yang tetap kuat, setelah Pra Sidang Raya PGI ini ada harapan bahwa perempuan bisa lebih menyadari kapasitasnya, sebenarnya perempuan punya kekuatan yang sama untuk bisa menjadi sahabat maupun berjuang bagi dirinya sendiri” ujarnya penuh harap menutupi bincang-bincangnya dengan media SJ,-*****

Penulis: Octa Dapa Talu,-