Wewewa-SJ……… Dalam upaya melihat hasil dan capaian dari proses pendidikan, dibutuhkan evaluasi. Evaluasi dimkasud sebagai proses pengukuran akan evektivitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan sekolah.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan sudah tidak asing lagi melakukan evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar atau lebih. Evaluasi di sekolah dikenal dengan istilah ulangan harian, Penilaian Tengah Semester (PTS), kemudian ada Penilaian Akhir Semester (PAS) saat semester ganjil, sedangkan ketika semester genap istilahnya disebut Ujian Kenaikan Kelas (UKK), Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), dan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).
SDN Kandelu Kutura kecamatan Wewewa Barat Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Nusa Tenggara Timur melaksanakan PTS genap sejak Senin 15 sampai dengan 20 Maret 2021 berdasarkan Kalender Pendidikan Akademik Tahun Pelajaran 2020/2021. Saat pagi hari siswa bermasker sudah menunjukan semangat yang tinggi untuk mengikuti PTS. Mereka mencari ruangan tempat ujian berdasarkan jenjang kelas masing-masing.

Disana mereka akan bergumul dengan soal-soal yang disiapkan oleh sekolah lain. Suasana setiap ruangan ujian tentu berbeda dengan proses Kegiatan Belajar Mengajar seperti biasanya, apalagi dipantau langsung oleh Pengawas Pendakat Kantor Kementerian Agama SBD, Mikhael Menga S.Ag dan Pengawas dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan SBD, Lidia Samapaty, S.Pd.
Kepala Sekolah SDN Kandelu Kutura Petrus Moa, S.Ag mengatakan bahwa sebenarnya evaluasi merupakan hal biasa. Evaluasi terjadi untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi siswa. Mengukur kemajuan belajar siswa setelah setengah semester. Mengukur pencapaian kompetensi siswa setelah proses pembeljaran selama setengah semester.
Menentukan nilai hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran beberapa KD (Kompetensi Dasar) dan melakukan perbaikan pembelajaran pada setengah semester berikutnya. Selain itu juga akan digunakan untuk mengetahui kemajuan siswa secara individual sehingga para guru dapat memberikan perhatian lebih bagi siswa yang mengalami kemunduran dalam proses belajar.
“Bagi siswa yang belum mencapai kompetensi harus mengikuti remedial supaya nilai minimum tercapai dan juga agar para guru mendapatkan feedback dari siswa atas proses pendidikan yang telah dilaksanakan sehingga para guru memiliki referensi yang akurat atas kemampuan siswa dalam proses belajar” ungkapnya.
Lebih lanjut Petrus Moa menjelaskan sebenarnya banyak faktor penentu siswa telah mencapai kompetensi seperti kualitas guru, sarana dan prasarana belajar, serta tingkat kesukaran materi. Selain itu perlu motivasi dari diri siswa sendiri maupun dari keluarga di rumah, untuk terus berupaya melakukan yang terbaik saat belajar.
Menyikapi ujian anak zaman now berbeda dengan zaman dulu. Siswa sekarang kurang gigih dalam belajar. Biasanya inginnya serba instan. Ingin dapat nilai tinggi tetapi tidak mau belajar. Idealnya siswa dalam menghadapi ujian apapun, sudah seharusnya mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Tentunya cara yang dilakukan sesuai aturan, jujur, dan tidak mencontek. Bukan nilai sebenarnya tujuan akhirnya, akan tetapi proses belajar dan evaluasi yang dilakukan dengan benar. Sehingga sekolah berfungsi sebagai sarana pembelajaran hidup.
“Siswa diharapkan agar menjadikan PTS ini sebagai pondasi awal dalam mempersiapkan diri untuk siap mengikuti ujian semester genap kenaikan kelas yang akan dilaksanakan pada bulan Juni yang akan datang,” pungkasnya. *** (PM/012-21),-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
